Diselimuti Debu dan Cuaca Ekstrim, Gunung Sumbing Tetap mempesona

Wonosobo – Jawa Tengah, cuaca ekstrim saat ini sedang melanda hampir di sebagian wilayah Indonesia mengakibatkan banyak terjadi kebakaran hutan. Namun ada pula kebakaran hutan disebabkan oleh tangan tangan jahil manusia. Seperti kebakaran yang terjadi di gunung Bromo beberapa waktu lalu. Dampak dari kebakaran hutan banyak gunung yang sementara ditutup dari berbagai kegiatan.

Dari sekian banyak gunung di pulau Jawa yang sementara ditutup dari aktivitas pendakian, tidak dengan gunung Sumbing, gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah dengan ketinggian 3371 MDPL ini aktivitas pendakian dari semua jalur dibuka, baik dari wilayah Temanggung, Wonosobo atau Magelang.

Bacaan Lainnya

Namun ditengah cuaca panas yang ekstrim ini persiapan harus lebih dimatangkan. Hal ini seperti yang penulis alami ketika sedang mendaki gunung Sumbing beberapa hari lalu. Bagi kalangan pendaki sudah paham akan jalur pendakian gunung sumbing yang memang di dominasi oleh tanah merah. Namun akibat kemarau yang panjang tanah merah yang padat berubah menjadi berdebu. Tebalnya debu bisa sedalam lima centimeter jika terpijak oleh sepatu.

Debu akan bertebangan jika tanah kita pijak, mengakibatkan mengganggu pandangan juga pernapasan, apalagi jika berpapasan dengan pendaki yang hendak turun, debu akan berterbangan menutup pandangan serta juga akan membuat batuk bagi pendaki lain yang tidak siap dengan kondisi jalur.

Disarankan untuk saat ini jika ingin mendaki gunung Sumbing bawalah masker atau penutup hidung untuk mengantisipasi debu yang berterbangan, memang serba sulit kondisi yang akan dihadapi oleh pendaki, berjalan sambil menggunakan masker akan membuat sulit bernafas, namun jika tidak menggunakan akan mengakibatkan sesak nafas dan batuk. Selain itu bawa pulalah krim pelembab anti panas matahari karena memang matahari yang bersinar sangat menyengat kulit.

(Baca juga: Berburu Matahari ke Puncak Sindoro)

Sekedar diketahui hampir rata rata gunung di Jawa Tengah memiliki kondisi alam yang serupa, berupa hutan yang tidak terlau lebat, dan kebanyakan vegetasi hutannya hanya di bagian bawah diketinggian sekitar 1000 sampai 2000 meter diatas permukaan laut, selebihnya adalah tanaman dengan vegetasi yang rendah bahkan hanya berupa ilalang dan tanaman bunga edelweis saja. Jadi bisa dibayangkan betapa terik dan panasnya matahari yang menyinari. Ditambah pepohonan yang mengering akibat reriknya matahari. Dan jika sore menjelang malam, udara dingin yang sangat menusuk menggantikan panasnya matahari. Jika di siang hari panas bisa mencapai 38 derajat namun dimalam hari udara bisa turun dengan seketika.

Terlepas dari kondisi saat ini, gunung Sumbing tetap memberikan keindahan alam yang mempesona. Jika mata lepas memandang padang sabana terhampar luas memanjakan mata seolah debu dan panasnya matahari mampu ditutupi oleh lukisan sang pencipta, tiada kata penyesalan hanya decak kagum yang mampu terlontar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan