Hari Kelahiran 2 Tokoh Nasional Ditetapkan UNESCO Sebagai Hari Perayaan Internasional

Anjangsana.id – Setelah Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi Konferensi Umum UNESCO yang artinya Bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa sidang dan dokumen-dokumen konferensi diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, UNESCO kembali mengumumkan bahwa hari lahir 2 tokoh nasional ditetapkan sebagai hari perayaan internasional di tingkat UNESCO.

Mengutip dari laman resmi Kemendikbud, dua tokoh nasional itu ialah sastrawan besar asal Padangpanjang, Sumatera Barat, Ali Akbar Navis atau yang dikenal sebagai A.A. Navis, dan pejuang wanita asal Aceh, Keumalahayati. Penetapan berlangsung di sidang Plenary Report dari rangkaian Sidang Umum UNESCO ke-42.

Bacaan Lainnya

Penetapan peringatan atas tokoh ternama di negara anggota UNESCO memiliki kriteria penentuan berdasarkan tahun kelahiran atau kematian tokoh; terkait dengan cita-cita dan misi Organisasi dalam bidang pendidikan, budaya, ilmu pengetahuan alam, ilmu sosial dan kemanusiaan, serta komunikasi; diusulkan dengan mempertimbangkan keterwakilan gender; hanya dapat diusulkan secara anumerta, serta peristiwa yang memiliki cakupan universal atau setidaknya signifikansi regional; minimal di dukung oleh 2 negara, memiliki dampak besar bagi negara ataupun dunia. Pengusulan penetapan peringatan kelahiran Ali Akbar Navis (1924-2003) dan kelahiran Keumalahayati (1550-1615) mendapat dukungan dari Malaysia, Federasi Rusia, Thailand dan Togo.

Sumber foto : youtube National Geographic IndonesiaPahlawan Nasional, pejuang wanita asal Aceh Keumala Hayati.

A.A. Navis, adalah seorang penulis dan budayawan terkemuka Indonesia. Karyanya yang fenomenal ialah cerita pendek atau cerpen berjudul Robohnya Surau Kami, dinukil dari buku kumpulan cerpen berjudul sama karya Ali Akbar Navis (1924-2003). Terbit pertama kali di majalah Kisah pada 1955. Kontribusinya terhadap sastra Indonesia menjadikan sosok penerima SEA Write Award 1992 tersebut begitu ikonik di dunia sastra. A.A. Navis menghasilkan sejumlah besar publikasi dan bekerja sebagai guru bagi penulis lain selama hidupnya.

Sedangkan Keumalahayati merupakan salah satu tokoh heroik perempuan paling awal di Indonesia. Ia diakui sebagai pahlawan nasional atas keberanian, kepemimpinan, dan kontribusinya yang signifikan dalam membela tanah air. Dia dibesarkan di wilayah yang terkenal dengan tradisi maritimnya yang kuat dan mengenal dunia peperangan laut sejak usia muda. Ayahnya, Laksamana Mahmud Syah, adalah seorang panglima angkatan laut armada Aceh yang terampil dan dihormati, dan ia mewariskan ilmu dan keahliannya kepada putrinya.

Ketika ayahnya meninggal dunia, Sultan Alauddin Riayat Syah dari Aceh mengangkat Keumalahayati sebagai Laksamana baru, mengingat bakat, keterampilan, dan tekadnya. Jabatan Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh menjadikan Keumalahayati sebagai laksamana wanita pertama dalam sejarah Indonesia dan Asia Tenggara. Dalam masa kejayaannya, Keumalahayati berhasil membuktikan bahwa dirinya merupakan pemimpin yang cakap di tengah skeptisisme terhadap perempuan. (Bagus S. Pramudya/sumber: Kemdikbud.go.id)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan