HOI!: Menyapa Indonesia dan Dunia

Foto; Dok. Pribadi -- PELUNCURAN BUKU - Iwan Jaconiah meluncurkan buku puisinya yang berjudul “Hoi!”
Cloud Hosting Indonesia

Iwan Jaconiah masuk dalam ruang sejarah, tradisi, harapan, mimpi dan ruang lain dalam benak serta hati kaum eksil.

Setiap negara, bahkan suku bangsa memunyai sapaan yang lazim digunakan oleh penuturnya atau penutur asing jika berjumpa dengan suku bangsa tersebut. Tak jarang, sapaan ini bukanlah sekadar kata untuk menyapa seseorang, melainkan sebagai upaya merangkum jarak dan perbedaan antara penyapa dan yang disapa. Singkatnya, sapaan ini ditandaskan untuk menunjukkan kehangatan, kedekatan dan rasa persaudaraan yang erat.

Bacaan Lainnya

Hal atawa momen semacam inilah yang kemudian ditangkap dan dijadikan karya oleh Iwan Jaconiah selama jadi mahasiswa di Moskwa, Rusia. Hasilnya, periode 2015-2017, selama meninggalkan menyapa Indonesia dari kejauhan dan pengalaman menyapa orang-orang di belahan bumi Eropa Timur, ia dengan sadar juga serius menjadikan bahasa sapaan ini sebagai judul buku antologi puisinya yang ketiga: HOI!

Buku puisi setebal 154 halaman tersebut diterbitkan oleh penerbit Terbit Press dan diluncurkan pada akhir tahun 2020 lalu di Jakarta Selatan. Secara sederhana Hoi dapat diartikan sebagai sebuah sapaan terhadap seseorang, baik yang belum dikenal, baru dikenal maupun yang sudah dikenal. Dengan kata lain, istilah Hoi ini setara dengan sapaan hai, halo, dst. Namun dari kata yang sederhana tersebut dengan pengalaman dan kepiawaiannya dalam mengolah rasa, makna dan menjahit kata, Iwan mencoba menyapa Indonesia dari negeri rantau sekaligus menyapa masyarakat Indonesia yang ada dan tinggal di Rusia serta menyapa masyarakat dunia.

Dalam hal ini, kata sapaan sudah masuk dan merasuk kedalam jantung makna. Artinya, sapaan tidak hanya sekadar sebagai silahturahmi atawa menunjukkan tabiat baik, rasa keakraban atawa persaudaraan terhadap seseorang, tapi sudah masuk pada pemaknaan rasa. Artinya, Iwan mencoba melihat, membaca serta memaknai kembali perasaan-perasaan dari orang-orang Indonesia yang ada di Rusia (yang sekolah/kuliah/melancong maupun yang terpaksa harus ber-KTP Rusia karena alasan politik masa lalu).

Sapaan Hoi

Sapaan-sapaan yang akrab dan coba menerobos batas tersebut selanjutnya bisa diresapi dalam puisinya yang berjudul, Hoi 1 sampai dengan 7. Sebagai misal, HOI I; Pada batas negeri, lama kudambakan//kibar bendera setinggi gunung//lama memang aku berjalan//tetulang terkikis tebing,…Di batas negeri asing; jauh kulihat Indonesia/orang-orang mengaku turunan rasul//sibodoh bersiul sia-sia//sang pintar berkoar-koar atas nama pasal.

Rasa-rasa semacam ini juga bisa dijumpai pada puisinya yang berjudul, HOI IV; Ini tentang tubuh-tubuh, saling kenal//bukan badan yang aku sentuh//tubuh, kian hari asing sendiri//saat yang lain ikut rapat,…Hingga ini pagi//aku bangun//lupa mengenal tubuh sendiri//Ini tentang tubuh//lama aku kenali//hoi!.

Juga dalam puisinya yang berjudul, Votney Stadion; Sepekan sudah aku di negeri jauh//angina enggan sapa puing//atas nama musim; merpati, paruh//mematuk-matuk sisa makanan tsar,… Pohon kering, ajari aku//akan cinta dan setia pada tanah air//ada jemari, bergaib dan bersayup. Ketiga saja yang dikutip ini, usaha penyair untuk menyapa sekaligus (kembali) mencintai tanah airnya yang secara jarak dan waktu cukup jauh juga berbanding terbalik.

(Baca juga: Memihak Rakyat ala Kartunis Pramono)

Yang tidak kalah pentingnya, dalam proses menyapa Indonesia dan dunia, Iwan juga mencoba masuk dalam ruang-ruang sejarah, tradisi, harapan, mimpi dan ruang-ruang lain yang ada dalam benak serta hati dari para kaum eksil yang dengan terpaksa (akibat politik masa lampau) harus tinggal berwaktu-waktu alias ber-KTP Rusia maupun para buruh migran. Hal ini tercermin dalam puisinya yang berjudul, Shosse Entuziastov; Kepal tangan serupa kebebasan//jejak revolusi sudah terpahat lama di tembok//Di timur: konflik sosial pernah//terjadi. berkarat dan berakar,… Tangan dan angan harus aku lepaskan//biar rantai tak liliti bangsa sendiri!

Buruh Migran; Maka, lelaki perlu merantau//membawa bendera//kibarkan. sama-sama tahu//keberanian!//Biar tak tersandera//Maka, perempuan perlu menembus//batas. pantang pulang sebelum cemerlang. Kedua puisi yang diulas itu secara gamblang menunjukkan serta mendudukkan harapan dari para perantau tentang hari depan yang jauh lebih gemilang juga tentang bangsa Indonesia.@ Adma Bestari

Pos terkait

Tinggalkan Balasan