Larung, Film Puisi Meraih Prestasi di World Mirror of Poetry

SALAH SATU ADEGAN DI DALAM FILM PUISI LARUNG -- Foto KTN

Di tengah kondisi pandemi, Komunitas Tanpa Nama beranggotakan di antaranya Agus Firmansyah, Vukar Lodak, Joel Taher, Pipien Putri, meraih prestasi di Dewan Kesenian dan Kebudayaan Bogor juga World Mirror of Poetry, Award Weimar Film Poetry Thuringia, Jerman.

Film yang dikembangkan dari interpretasi puitik ini, tak mengandalkan narasi dalam penyajian visualnya. Namun juga berbagai semiotika visual dari gestur tokoh, hingga obyek benda atau alam yang ada di dalamm tayangannya. Bergulir perlahan namun menghadirkan makna bagi tiap penontonya.

Bacaan Lainnya

Menurut sutradaranya, Agus Firmansyah, film pendek puisi “Larung“  berdasarkan interpretasi puisi dengan menguatkan bahasa visual, bahasa teks, dan bahasa rupa. “Jadi, subjek dan objek bertemu dalam visual bergerak dengan potongan potongan (puzle) visual yang merangkai cerita dari peristiwa demi peristiwa, sampai pada akhirnya peristiwa yang dihadirkan dalam film pendek puisi dalam tontonan,” papar Firman kepada Anjangsana (29/10).

Menurutnya, karena film pendek puisi ini berdasarkan interpretasi puisi, sehingga memberi kekayaan imaji untuk bisa menafsirkan sendiri atas tontonannya. Juga kekayaan perbendaharaan visual bagi penonton yang tidak lagi melihat sebagai peristiwa cerita percintaan remaja, peristiwa cerita perselisihan keluarga, atau peristiwa cerita menang kalah suatu geng yang sering penonton sudah temui dalam tontonannya. Tetapi, lanjut Firman, peristiwa film pendek puisi ini bercerita tentang peristiwa kehidupan manusia atas persoalan yang ada di dalam dirinya dan saat menjadi tontonan memberi empati atau menyentuh hati penontonnya.

(Baca juga: Women On Stage Inisiasi Gelar Karya Pekerja Teater Mancanegara)

Selain itu, kode budaya di dalam film “Larung“ memang memperlihatkan unsur ketimuran baik dari sisi geografis, kain lurik batik, keramik suling Sunda, peti mati di atas pohon hingga bunyi musik atau tembang yang digulirkan. Meski, berbeda dari Firman, Muti, salah satu penonton yang pernah menyaksikan film ini diputar di beberapa tempat yang dijajaki oleh Komunitas Tanpa Nama, mengatakan bahwa film ini tetap memiliki narasi tentang kehidupan seseorang.

ADEGAN FILM LARUNG – Salah satu adegan dari aktor di film puisi bertajuk Larung — Foto KTN
:

Penonton lainnya, Uli, bahkan mengatakan bahwa film ini mengisahkan tentang kisah perempuan yang sama dari masa kecil, masa remaja hingga masa wanita dewasa. “Saya melihat film ini mengisahkan tentang masa kanak seorang perempuan, kemudian di masa remaja merasa kehilangan pada orangtuanya, ayah di dalam lukisan. Lalu berlanjut dengan perempuan yang sudah dewasa melarungkan duka dan masa lalunya. Perempuan yang telah dewasa dan lebih bijak menghadapi peristiwa hidupnya,” ujar Uli.

Bagi sutradaranya, interpretasi itu sah-sah saja, mengingat bahwa penonton pun memiliki penanda dan petanda yang berbeda ketika berangkat menonton film ini. Dirinya bahkan meniati bahwa itu adalah sosok-sosok perempuan yang berbeda. “Tapi ini jelas berbeda lagi dengan puisi awal ketika digubah, diinterpretasi atau di-alihwahana-kan dari puisi Sihar Ramses Simatupang yang berjudul “Reportoar” dan “Narasi Senja Menghilang“. Penerjemahan penonton itu juga sah-sah saja,” tanggap Firman.  

Tentang Kehilangan

Menurut Firman, Larung pertamakalinya dibuat sesungguhnya didedikasikan untuk memotret  tentang kehilangan terhadap orang terkasih dan menjadi duka yang dialami oleh seseorang. Perasaan itu terbawa sepanjang hidupnya, hingga menghanyutkan benda benda kenangan peninggalan orang terkasih yang dilarungkan di sebuah sungai dan dikembalikan kepada pemilik alam semesta, Tuhan Sang Maha Pencipta.

“Larung juga adalah wujud rasa syukur atas pemberian melimpah yang diberikan Tuhan. Sebagaimana para petani atau nelayan yang mendapatkan hasil panen tanamannya atau  tangkap ikan. Bagaimana pun,  Larung merupakan spritual budaya yang di yakini oleh masyarakat tradisi sebagai warisan leluhur,” tukas Firman.

Di luar hal itu, Komunitas Tanpa Nama masih akan melanjutkan karya yang mengambil tema alih wahana. Selain telah melahirkan Larung, ada juga musik dan lagu berjudul Akar Angin aransemen Vukar Lodak dari karya Sihar Ramses Simatupang dan film puisi  “Pintu Hati” disutradarai Agus Firmansyah dari interpretasi terhadap puisi “Akan Datang Saatnya” karya penyair Yvonne de Fretes.@

Summary
Review Date
Reviewed Item
Film Puisi Larung
Author Rating
5
Title
Film Puisi Larung
Description
Film pendek puisi “Larung“ berdasarkan interpretasi puisi dengan menguatkan bahasa visual, bahasa teks, dan bahasa rupa, sehingga memberi kekayaan imaji untuk bisa menafsirkan sendiri atas tontonannya serta kekayaan perbendaharaan visual bagi penonton.
Upload Date
26 Agustus 2021

Pos terkait