Tegangan Urban dan Sejarah Sosial di Pentas Dalam Ruang Indie Art Fest 2023

Dari pilihan naskah riset kepustakaan hingga riset keseharian, tegangan urban dan kisah komunitas terpinggirkan tetap jadi pilihan di pentas Dalam Ruang Indie Art Fest 2023.

Bacaan Lainnya

Aktor perempuan itu mengenakan pakaian modern, kemudian berganti memakai hijab dan ragam pakaian akulturasi di kalangan pekerja imigran di negeri Arab.
Pemain itu memilih sekotak area di tengah panggung penuh dengan berbagai perangkat elektronik. Teater Ghanta dengan Sutradara Yustiansyah Lesmana menjadikan area itu sebagai dua fungsi, pertama sebagai bagian dari properti panggung yang dijadikan tempat dia beraktivitas, dan kedua, sebagai perangkat kerja aktor perempuan ini untuk membantu tim properti yaitu lighting dan musik. Tim musik yang intinya juga berkerja di sisi kanan panggung.
Inilah bagian dari pementasan Teater Ghanta. Dengan riset yang memadai, kerja menggabungkan sejarah pergerakan emansipasi kaum perempuan di Timur Tengah yang ditulis dalam buku karya Husein Bafagih ‘Fatimah’ (1938).
Menggali sejarah pergerakan ini dan imbasnya di tanah Nusantara. Menjembatani dengan biografi tokoh Haifa Marwan yang memiliki keturunan Timur Tengah, lengkap dengan fenomena masa kecilnya ketika tinggal di Timur Tengah dan friksi juga latar keturunan yang variatif dan berbeda di antara mereka.
Lalu, mimpi idealnya pada Indonesia ketika kembali ke kampung halaman dan terbentur dengan kenyataan.

Foto-foto: Zak Sorga – Penampilan dan pementasan Teater 7 di Gedung Kesenian Jakarta di Indie Art Fest 2023.

“Saya bukan Fatimah yang suci. Saya Haifa, keturunan Arab biasa, bukan orang yang suci…”
Ghanta termasuk teater yang potensial, bila sebelumnya banyak menggunakan jalan semiotic dan naskah surealis, kali ini di “Indonesian Dreams” dia memilih kisah epos kehidupan orang dan keluarga di tengah pergesekan dan tegangan akulturasi Indonesia terutama pada sosok keturunan Arab yang memiliki juga sejarah dan fenomena multikultural. Naskah dan pentas yang didedikasikan untuk simpati kemanusiaan Palestina ini memberikan secuwil saja fenomena lain dari urban Jakarta – dan kota-kota lain – dalam memaknai dan menjalankan akulturasi.

Tegangan dari tema urban vibes yang diusung oleh Indie Art Fest 2023 memang direspon berbeda oleh setiap teater. Baik menulis sendiri, atau pun memilih naskah, pilihan itu –bahkan oleh para pengemban pementasan teater Dalam Ruang – tentulah diolah oleh parapihak teater masing-masing, dari sutradara, aktor hingga “aktor lain” yaitu lighting, properti, kostum hingga musik.

Pada pementasan hari Kamis, kelompok Ganar Collaboration dengan sutradara Bobby Faisal mengangkat naskah Opera Kampung Slebor yang mengedepankan kontrasnya perkempungan dan instalasi beton pencakar langit.
Pola gruping atau kelompok ini cukup menjadi pilihan. Meski interaktif antar aktornya, perlu dicarikan cara agar para pemain tidak terkesan berjejer. Ruangan yang terbatas dengan dihalangi seng sehingga mempersempit area pentas perlu dicarikan alternatif agar semakin memperdalam ruang ke belakang.
Latar dan lelampu kota pun dapat digarap lebih jauh.

Ada juga Nyanyian Untuk Bintang karya Kukuh dan Uput dan Quantum dan Sanggar Seni Bintang. Pentas ini mengisahkan sosok pengamen jalanan di ganasnya taring persaingan hidup ibukota Jakarta. Bintang yang memiliki banyak kekurangan, adalah sosok lebih marjinal di antara kelompok marjinal lainnya. Mereka yang berada di tengah pengawasan petugas kota, jadi menggerutu terhadap keterbatasan si Bintang.
Tak ada ampun untuk biografi yang punya keterbatasan di kota besar. Mereka berebut di sisa puing perkotaan. Urban, menyediakan beragam menu kebahagiaan dan penderitaan atau bahkan tidak keduanya. Bintang menghilang agar tak menjadi beban saudaranya, Bintang redup dan tak secemerlang nama dan pujian dia di masa kanaknya.

Naskah Repertoar Sabun Colek karya Edian, dipilih oleh Sutradara Kukuh Santosa, dengan menampilkan penghalang berbahan seng. Ada empat gubuk dan satu-dua gubuk yang bertingkat. Pilihan visual yang memindahkan suasana gubuk reyot, gang sempit dan sumpeknya manusia di ceruk kota Jakarta. Sajian Teater 7 ini sangat bagus dan menggugah ketika mampu dipindahkan ke panggung di Gedung Kesenian Jakarta.

Masyarakat urban Jakarta yang penuh persoalan dalam kesejatian nampak dalam naskah sekaligus di pertunjukan ini. Kisah serba-serbi hidup di kalangan marjinal yang sesungguhnya belum juga terselesaikan hingga kini.
Gelembung busa menjadi semiotika dalam naskah yang terwujud pada kehidupan aktor yang terkungkung pada gubuk di sisi kanan dan kiri.
Sayangnya di dua gubuk di tengah justru terhalang seng sehingga tidak terlihat.
Beberapa aktor di pementasan ini cukup kuat. Sebut saja si emak dan gadis perempuannya, bapak juga anak kecil yang khas bolak-balik di tengah dialog dan di tengah adegan panggung.
Suasana dialog yang interaktif, dialog yang panas plus judesnya si emak, lucu dan ngablaknya si anak, sangat memancing respon penontonnya. Kisah di akhir.
Juga naskah Sang Utusan yang diadaptasi dari karya Inspektur Jenderal Nikolai Gogol. Teater Legiun mengadaptasinya, memindahkan naskah satir Nikolai dalam kehidupan negeri ini yang terasa masih kongruen. Sistem dan pelayanan publik tetaplah satir dan menjadi parodi ang dapat dikritik hingga masa sekarang.

Pentas Dalam Ruang, Indie Art Fest 2023 dengan kurator Madin Tyasawan, Malhamang Zamzam dan Edian Munaedi ini memerlihatkan bagaimana tegangan urban yang terus terjadi hingga sekarang. Pilihan para sutradara dan aktor teater saat menulis naskah sendiri atau memilih naskah yang sudah ada, tentu sesuai dengan tegangan dan fenomena urban yang mereka hadapi. Kesemuanya menampilkan pandangan terhadap urban kota kita, urban negeri kita dan menjadi dialog interaktif antar penghuni urban di kota besar termasuk penonton, para pelaku teater dan semua yang terlibat dalam perayaan, pesta sekaligus perenungan pada festival ini.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan