Kecap Benteng, Ikon Kota Tangerang dan Legenda Kecap di Indonesia

ikon kota berupa merk kecap adalah salah satu hal unik untuk di Tangerang

Mungkin masih banyak di antara kita, khususnya generasi milenial yang belum tahu kalau di Tangerang masih ada ikon kota selain jam gede maupun jembatan berendeng atau tugu adipura yang sekarang banyak dikenal oleh orang Tanggerang maupun dari luar kota Tangerang itu sendiri.

Bacaan Lainnya

Ikon atau ciri khas yang satu ini bukanlah berbentuk bangunan atau sejenisnya melaikan sebuah penyedap rasa untuk masakan yakni berupa kecap.

Secara etimologi kata “kecap” berasal dari Bahasa China “koechiap” atau “ke-tsiap” yang merupakan bumbu penyedap untuk masakan.
Ada pabrik kecap Siong Hin dan pabrik kecap Benteng Teng Giok Seng yang sudah berdiri lebih dari seratus tahun.
Mereka jadi penanda hiruk pikuk kota lama Tangerang.

Kecap ini ikut menandai tumbuhnya geliat ekonomi warga China benteng di kota tersebut yang dimulai sejak tahun 1880.

Kecap benteng Teng Giok Seng berdiri sejak tahun 1882 (didirikan pertama kali oleh Teng hay soey dan diteruskan oleh Teng giok seng), sementara kecap Siong Hin (Kecap SH) mulai diproduksi pada tahun 1920.

Letak kedua pabrik hanya berselang 300 meter dan sama-sama berada di kawasan kota lama Tangerang– di tengah hiruk pikuk pasar lama dan gedung-gedung tua.

Sedikit cerita sejarah; menurut beberapa sumber, Warga peranakan Tionghoa yang datang ke Tangerang terbagi menjadi dua gelombang berdasarkan keberangkatan mereka dari Tiongkok sebagai berikut.

-Golongan pertama adalah mereka yang datang pada abad ke-15, mereka datang untuk menjadi petani, buruh, pekerja, dan pedagang. Mereka mencapai Tangerang dengan menggunakan perahu sederhana dan pada awalnya hidup pas-pasan dan bekerja dengan kolonial Belanda untuk mencapai standar hidup yang lebih baik.

(Kebanyakan Tionghoa Benteng golongan pertama ini hidup pas-pasan dan sudah terasimilasi dengan budaya pribumi Sunda dan Betawi. Kebanyakan dari mereka tinggal di pedesaan)

-Golongan kedua adalah mereka yang datang pada abad ke-18 dan mendapat restu dan perbekalan dari Kaisar, dengan janji bahwa mereka akan tetap loyal terhadap Kaisar Dinasti Qing.

Mereka datang bersama-sama dengan kapal dagang Belanda dengan motivasi mendapat penghasilan yang lebih layak dengan menjadi petani kapas dan padi, banyak juga yang menjadi tentara kolonial Belanda.
Tionghoa Benteng golongan kedua ini hampir semuanya hidup sejahtera dan kental dengan sifat aristokrasi.

Terdapat tujuh keluarga besar yang cukup lama menguasai sebagian besar lahan di Tangerang. Mereka disebut dengan “setsei” (seven great families):
House of Oey, House of Ong, House of Li, House of Lim, House of Teng, House of The, House of Tan.

Banyak yang menyebut kota lama sebagai kawasan China Benteng.
Sejak zaman VOC, sekitar tahun 1684, Belanda membangun benteng sebagai wilayah pertahanan dalam mempertahankan diri dari serangan Kesultanan Banten (Sultan Ageng Tirtayasa).

Rasanya Unik

Kembali ke Kecap, Harus diakui kalau rasa Kecap Benteng dan Kecap Siong Hin ini berbeda. Termasuk rasa manis kecap yang terasa berbeda di indera pengecap kita.

Di Tangerang, kecap legend ini masih banyak dipakai direstoran dan warung makan disana. sedangkan Kecap Siong Hin lebih banyak dipakai untuk camilan, apalagi kalau dicampur dengan bakso, mie ayam atau bakwan dan gorengan lainnya.

Banyak orang yang saat makan di restoran akan langsung mencari Kecap Siong Hin sebagai teman makan karena rasanya yang gurih dan manis.
Sementara untuk masak di dapur, Kecap Benteng yang lebih dicari sejumlah pemilik restoran di Tangerang.

Jadi kalau Anda berkunjung ke Tangerang, cobalah ikut mencicipi kecap khas Tangerang yang bisa membawa Anda seperti masuk ke mesin waktu kota ini dan turut melestarikan manisnya warisan kuliner Nusantara kita.@

Pos terkait

Tinggalkan Balasan