Buku: Wisata Peradaban Dunia

Foto; Ist/Dok. Anjangsana

Buku, menembus ruang dan waktu. Sebelum dunia digital ada, dialah media yang lebih dulu menjelajahi peradaban dunia.

Syahdan, seorang Karl May yang penghayal sejati pernah membentuk sosok imajiner Winnetou dan Old Shatterhand. Hayalan yang menjadi buku cerita yang bernas. Kisah perjuangan heroik pemilik tanah, putera dari salah satu suku Indian, menghalau ketamakan pendatang. Tapi kedua tokoh berbeda latar itu tetap akrab. Sama-sama sepakat pada sikap anti penjajah yang tamak. Sikap heroik, yang menurut pandangan pemerhati buku Pandu Ganesha, bisa saja diketahui tokoh muda sekaligus proklamator negeri ini, Soekarno dan Hatta lalu dijadikan sebagai salah satu bacaan inspiratif.

Bacaan Lainnya

Dua tokoh nyata perintis bangsa ini tergerak oleh – salah satunya – buku karya imajinasi warga Jerman yang belum ke Amerika saat menciptakan tokoh hero itu. Meski, pastilah, bukan buku satu-satunya.Si penulis buku populer terkemuka kelahiran Hohenstein-Eenstthal Chemnitzer Land, 25 Februari 1842 ini pun, jelas bukan sekonyong-konyong mencipta latar kisah. Bacaan dan referensi sangat penting.

Di tempat lain, di Indonesia, Asmaraman Kho Ping Ho membuat narasi, biografi, konflik, jurus, yang luas biasa panjang riwayatnya di buku stensil tebal jadi kenangan bacaan abadi generasi baby boomers hingga kini. Buku yang banyak, sampai membalok tingginya bila ditumpuk. Asmaraman S. Kho Ping Hoo, berdasarkan wawancaranya di media, menyatakan, belum pernah ke negeri Tiongkok saat dia menulis tokoh-tokoh persilatan itu. Kisah dari penulis kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 16 Agustus 1926 ini tentu menjadi sebuah narasi menarik karena digali dari kisah leluhur, bincang dan sumber lainnya. Meski, sebagaimana diungkap Wikipedia, dia tak fasih berbahasa Tiongkok, dan karyanya bukan karya sejarah melainkan karya fiksi.

Bagaimana pun, buku, adalah cara untuk menembus ruang dan waktu. Pesawat ulang-alik ide yang berbensin ketenangan untuk membaca teks karya tiap penulis. Seorang wartawan atau periset pun saat meneliti dan melaporkan tanah yang akan dia jejak, tentu akan mendapat banyak informasi, bila terlebih dulu melakukan riset atau membaca banyak referensi yang menyoal negeri itu. Sebelum dia melancong ke lapangan penelitian atau lapangam peliputan.
Untuk interaksi antar manusia, buku pun sangat berfaedah.

Meski belum pernah melakukan lawatan ke negeri asing, orang akan lebih terbuka dan tak egois – jumawa pada identitasnya sendiri. Lebih mampu memahami kebudayaan dan peradaban orang lain, lebih terbuka dan komunikatif, tanpa sikap apriori, berjiwa dan berwawasan terbuka.

Tentu saja, dia juga akan teguh pada kebudayaannya sendiri. Karena lewat kearifan pengetahuan dia akan mudah menelusuri riwayat leluhurnya dari epos, folklore, dongeng, buku digital dan kitab-kitab kuna.
Semua terjaga dan teratur karena membaca.

Bahkan personalitas latar tiap orang yang lemah di petualangan fisik dapat tergantikan oleh pengalaman intelektual dan pengetahuan. Tak pernah kemana-mana. Tapi dia ada di mana-mana.
Buku. Diskusi. Data tulisan. Memori lisan.

Plus, belakangan ini dalam peradaban internet, obyek buku hanya salah satu alternatif media. Teks kini tersimpan di mana-mana. Di buku digital. Di website dengan narasi pengetahuan dan ilmu yang memadai. Di media sosial, berisi artikel dan esai penulis yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Tetaplah selektif.
Peringatan Hari Buku Sedunia, adalah upacara hikmat tentang pentingnya pengetahuan. Buku, dalam makna yang lebih memerdekakan, memberi kita sikap philo dan sophia, cinta pada kebijakan. Berwisata pengetahuan. Berwisata hikmat pada peradaban manusia. Kearifan alam. Kejayaan tiap negeri. Semakin membuat kita kagum pada kebesaran Sang Maha Pencipta kita.

Selamat Hari Buku Sedunia, Saudara…@

Pos terkait