Menjemput Damainya Alam Mahameru

Foto; Dok. Pribadi -- MAHAMERU - Keindahan Gunung Semeru.
Cloud Hosting Indonesia

Di puncaknya, Mahameru tetap memberikan kedamaian, melunasi ujung lelah perjalanan bagi para pendaki.

Mungkin sebagian besar orang beranggapan bahwa hiking adalah high risk sports. Saya pun mengamini anggapan tersebut. Namun, high risk dalam dunia hiking bisa diminimalisir ketika yang bersangkutan telah mempersiapkan dirinya dengan baik.

Bacaan Lainnya

Bukan hanya persiapan fisik dan mental, pengetahuan tentang lokasi dan medan yang akan dikunjungi juga sangat penting untuk dipahami. Saya menganggap bahwa hiking bukan hanya sekedar high risk sports, lebih jauh bahwa hiking merupakan proses pencarian jati diri. Di sisi lain, saya menganggap bahwa hiking merupakan suatu metode bersyukur atas kenikmatan yang telah diberikan-Nya.

Musim terbaik untuk melakukan hiking adalah ketika musim kemarau tiba. 24 Agustus 2017 silam, saya bersama 9 rekan melakukan perjalanan panjang menuju titik tertinggi di pulau Jawa, tentunya dengan segala persiapan yang sangat matang. Beruntung, kesembilan rekan yang bersedia ikut dalam ekspedisi atau hiking ini masing-masing memiliki pengalaman dan management team yang baik. 25 Agustus 2017 pagi, kami tiba di Stasiun Malang dengan tas carrier 80 liter yang menarik perhatian khalayak sekitar.

Berhubung tiket masuk kawasan taman nasional dipesan untuk tanggal 27 Agustus 2017 sampai dengan tanggal 30 Agustus 2017, maka kami masih memiliki waktu dua hari untuk mempersiapkan kembali ekspedisi ini dengan baik, terutama logistik.

Dua hari itu kami habiskan di kediaman Mas Anas, seorang ranger gunung Semeru dari komunitas SAVER (Sahabat Volunteer Semeru) di bilangan Tumpang, Malang. Beliau memberikan arahan serta masukan-masukan kepada kami sebelum ekspedisi dimulai, terutama berkaitan dengan kondisi jalur maupun cuaca di gunung Semeru.

Keesokan harinya, kami bergegas menuju Ranu Pani (2100 mdpl), yang merupakan basecamp sekaligus desa terakhir sebelum memulai hiking atau pendakian dengan menggunakan Jeep milik Mas Anas melintasi kawasan sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kami menginap semalam di sana untuk aklimatisasi sehari sebelum pendakian dimulai.

Aklimatisasi adalah penyesuaian antara suhu tubuh dan suhu lokasi. Suhu yang terpantau di sekitar Ranu Pani berkisar antara 5 sampai 0 derajat celcius. 27 Agustus 2017 pagi, kami mengurus proses administrasi di loket pendakian yang selanjutnya pendaki wajib menghadiri briefing yang dilakukan oleh pihak taman nasional.

Pasca briefing sekiranya setelah adzan Dzuhur, kami memulai perjalanan panjang yang akan memakan waktu hingga 4 hari 3 malam. Tak lupa pula tentunya diawali dengan do’a serta harapan akan keselamatan jasmani dan rohani.

Hari Pertama

Pendakian dengan mental dan stamina yang ‘masih’ fresh, kami melewati setidaknya 4 pos untuk mencapai Ranu Kumbolo (2400 mdpl), sebuah danau seluas kurang lebih 15 hektar yang sering dijuluki dengan ‘Surga Tersembunyi Semeru’.

Ranu kumbolo adalah lokasi camp di hari pertama pendakian sebelum kami melanjutkan perjalanan pada hari kedua. Setelah berjalan kurang lebih selama 5 jam dengan beban di punggung dan medan yang tidak menentu, kami tiba di Ranu Kumbolo pada sore hari dan bergegas untuk mendirikan tenda kemudian membagi tugas tim untuk memasak dan isi ulang air di danau.

Air di danau Ranu Kumbolo merupakan sumber mata air alami yang bisa langsung dikonsumsi oleh pendaki. Hari pertama ditutup dengan perut yang banyak sekali terisi oleh nutrisi dengan suhu berkisar antara -4 sampai -6 derajat celcius.

28 Agustus 2017 pagi, kami dibangunkan oleh sinar matahari yang muncul di balik dinding bukit Ranu Kumbolo. Ketika keluar tenda, rumput dan tanah sekitar dipenuhi dengan es karena suhu pada saat itu terbilang cukup ekstrim.

Tidak banyak membuang waktu, kami segera menyiapkan sarapan dan selanjutnya mempersiapkan perjalanan untuk hari kedua dengan tujuan Kalimati (2700 mdpl), camp terakhir sebelum melakukan summit attack menuju titik tertinggi pulau Jawa. Setelah siap, kami meninggalkan Ranu Kumbolo dan bergegas menuju Tanjakan Cinta.

Konon, ketika pendaki melewati jalur ini dengan memikirkan seseorang yang dicintai tanpa berhenti berjalan dan menoleh ke arah belakang, maka ia akan berjodoh dengan seseorang yang dipikirkannya itu. Cukup menguras tenaga untuk melewati tanjakan dengan tingkat vertikal kurang lebih 30-40 derajat.

Di Ujung Tanjakan Cinta

Kami disambut oleh hamparan savana dengan bunga Verbana khas gunung semeru. Kawasan ini bernama Oro-Oro Ombo. Berjalan ditengah savana dengan terik matahari yang membuat tenggorokan serasa terbakar menyebabkan stamina drop seketika. 15 menit berjalan, kami tiba di Cemara Kandang, sebuah pos yang berada tepat setelah Oro-Oro Ombo. Perjalanan kami lanjutkan melewati hutan Semeru dengan perjalanan kurang lebih 2 jam 30 menit untuk sampai di Jambangan.

Dari sini, kami dapat melihat gagahnya Mahameru di kejauhan dengan asap vulkaniknya. Setelah berjalan kurang lebih 3 jam, kami tiba di Kalimati sekitar pukul 2 siang dan selanjutnya mendirikan tenda kemudian membagi tim untuk isi ulang air di Sumber Mani yang berjarak 30 menit dari pos Kalimati.

Pihak taman nasional melarang pendaki untuk isi ulang air di Sumber Mani ketika hari sudah mulai gelap. Hal tersebut dilakukan bukanlah tanpa alasan, hutan Semeru merupakan habitat bagi ratusan Macan Kumbang dan mayoritas populasinya berada disekitar hutan Kalimati. Beruntung, kami masih dapat isi ulang air di Sumber Mani untuk perbekalan summit attack esok hari. Hari kedua pun ditutup dengan perut yang kenyang dengan suhu yang masih sama seperti di Ranu Kumbolo.

Perjalanan menuju Mahameru adalah pendakian yang sebenarnya. Kami memulai perjalanan hari ketiga tepat pukul 00.00 WIB di tanggal 29 Agustus 2017. Mental dan fisik benar-benar diuji. Medan yang kami tempuh dari Kalimati menuju puncak adalah medan pasir labil dengan tingkat kemiringan berkisar antara 50-60 derajat, yang jika kita menginjakkan kaki ke pasir tersebut, maka kaki kita akan tenggelam masuk ke dalam pasir. Seperti naik 1 langkah kemudian turun 2 langkah. Dibutuhkan teknik khusus untuk dapat melalui medan ini agar tenaga masih tersimpan untuk turun nanti.

Rasa lelah yang semakin menjadi-jadi ditambah suhu yang semakin ekstrim berkisar antara -7 sampai -10 derajat celcius. Pada saat itu, cukup banyak pendaki yang tidak sanggup melanjutkan perjalanan dan terpaksa untuk putar balik ke Kalimati.

Sinar bulan terus terpancar seolah-olah menertawakan kami. Lelah, bukan hanya fisik, tapi juga mental. Namun harapan tak boleh mati terkubur, kami berjuang dengan sisa-sisa stamina yang ada ditambah mulut yang selalu mengucap do’a tanpa henti. Harapan mulai muncul ketika Sang Fajar hadir di ufuk Timur, menghangatkan kami dari dinginnya Semeru. Terlihat bendera Merah Putih berkibar tanpa henti diterpa dahsyatnya angin Mahameru.

(Baca juga: Napak Tilas ke Gua Sunyaragi Cirebon)

Akhir Perjuangan

Pukul 05.20 WIB kami tiba di Mahameru (3676 mdpl), titik tertinggi di pulau Jawa, tempat yang didambakan oleh seluruh pendaki Indonesia, tempat dimana kedamaian itu tersimpan. Sujud syukur dan Shalat Subuh berjamaah adalah hal pertama yang kami lakukan.

Semeru merupakan gunung yang masih aktif dengan tingkat vulkanisme yang terbilang normal. Setiap 15-20 menit, kawah Semeru yang dinamakan ‘Jonggring Saloko’ mengeluarkan letusan yang pada saat itu menggetarkan kami. Oleh sebab itu, pihak taman nasional membatasi para pendaki untuk berada dipuncak tidak lebih dari jam 9 pagi, karena akan ada perubahan arah angin yang akan membawa asap vulkanik itu ke arah puncak. Kurang lebih 30 menit kami menghabiskan waktu di Mahameru menikmati kedamaian yang kami cari.

Pukul 6 pagi kami melanjutkan perjalanan untuk turun kembali ke Kalimati. Di perlukan konsentrasi tinggi dan juga kehati-hatian ketika turun, karena disebelah kanan jalur turun, terdapat jurang setinggi 75 meter yang dinamakan Blank 75 atau death zone. Jika saat berangkat menuju Mahameru kami membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam 30 menit, maka ketika turun kembali ke Kalimati kami hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam karena pasir labil yang sangat mendukung.

Kami tidak membutuhkan stamina ekstra ketika turun, tidak seperti ketika berangkat yang harus berjuang untuk menyeimbangkan antara stamina, waktu, dan suhu. Pukul 7 pagi, kami tiba kembali di Kalimati, kemudian istirahat beberapa jam sembari mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Ranu Kumbolo untuk menginap semalam lagi menikmati dinginnya Ranu Kumbolo.

Kami kembali tiba di Ranu Kumbolo pada pukul 3 sore, yang ditutup dengan berbagi cerita antara masing-masing anggota kelompok saat summit attack dini hari tadi, terlihat kebanggaan dan kebahagiaan di raut wajah mereka.

“Menembus” Misteri

Hari ke empat adalah hari terakhir kami berada di kawasan taman nasional, siang hari kami bergegas meninggalkan kenangan di Semeru dan berharap suatu saat akan kembali lagi. Kami tiba kembali di Ranu Pani pada sore hari setelah 4 hari 3 malam berada dalam kedamaian. Terlihat di kejauhan Mas Anas dengan Jeepnya sudah standby untuk menjemput kami kembali ke Kota Malang. Setelah proses lapor di loket pendakian selesai, kami kembali ke Malang dan menyempatkan waktu 2 hari menetap disana dengan menyewa penginapan.

Selama 2 hari kami recovery stamina dan mengunjungi kuliner serta situs lokal. Tak terasa, tiba saatnya kami harus kembali ke rutinitas masing-masing setelah kurang lebih 10 hari kabur dari hiruk pikuk perkotaan.

1 September 2017 sore, bertepatan dengan hari raya Idul Adha, dengan berat hati, kami meninggalkan Malang dengan membawa berbagai pesan hidup yang mungkin akan coba kami implementasikan pada realitas kehidupan. 2 September 2017 pagi, kami tiba di Jakarta lengkap dan tidak kurang apapun. Sungguh, tolak ukur berhasil atau tidaknya sebuah petualangan adalah pulang, big goals dari setiap perjalanan. Rumah selalu dinantikan oleh setiap petualang sejauh apapun ia melangkah.

Semeru dengan ribuan misteri berhasil membuat kami takjub. Pencarian jati diri belum berakhir, Mahameru berikan damainya kepada setiap pendaki yang dengan tulus mengunjunginya. Terimakasih Semeru atas ujian fisik dan mental yang membuat kami sadar bahwa ‘enjoy the journey not just the destination‘ itu benar-benar berarti, someday jika diberi kesehatan kelak kami akan kembali berkunjung. Terimakasih Mas Anas atas kerendahan hati serta arahan-arahan yang diberikan kepada kami, yang sungguh sangat berguna dan bermanfaat. Last but not least, terimakasih 9 pejuang atas kekompakan, kerjasama, dan kebersamaan yang dilalui. Kelak, kita dapat bertemu ‘kembali’ di pencarian jati diri selanjutnya.@

Pos terkait

Tinggalkan Balasan