Hasiholan Siahaan mengabadikan mural yang rentan oleh hujan dan penghapusan tata kota, dengan mereproduksinya dalam karya foto
Di Institute Francais Indonesia yang terletak di Jalan Wijaya, Jakarta Selatan, mural itu hadir kembali di ruang dan waktu yang berbeda ketika diciptakan. Seni dari tembok-tembok jalanan itu telah dimunculkan kembali dalam bentangan visual fotografi. Ada yang terangkut bersamanya, bekas robekan iklan laundry bahkan iklan kos-kosan.
Pameran foto bertajuk “Le Mystere de Mural” yang dipamerkan sejak 3 Mei 2023 hingga 3 Juni 2023 ini adalah karya fotografer senior Hasiholan Siahaan. Dia telah memotret dan memindahkan obyek itu lalu mengusungnya ke tengah pameran dan di setiap lembaran buku itu. Dia membawa karya seni jalanan dari waktu dan tempat yang antah-berantah. Meski beberapa dia sebutkan, tak semua mural membeberkan nama, tema, riwayat saat mural itu diciptakan.
Hasiholan Siahaan menjelaskan bahwa karya fotografi yang selain pameran juga akan dicetak dalam buku itu, mengabadikan mural di tembok dan tiang jembatan tersebut bagian dari upaya mengenalkan mural kepada generasi muda. Dia pun berharap bahwa mural sebagai medium ekspresi artisitik yang pada umumnya berumur cukup singkat, bisa dinikmati lebih lama karena telah terdokumentasi melalui karya fotografi. Meskipun nanti mural-mural di tembok atau tiang jembatan itu sudah hilang, tapi masyarakat masih dapat melihatnya karena telah diabadikan lewat buku dan pameran mural.
Hasiholan, telah mereproduksi ulang obyek seni rupa mural menjadi obyek seni fotografi. Mural yang tak selalu berupa obyek realis itu, karena pemural belakangan ini bahkan telah mengolah estetikanya lebih jauh lagi, termasuk menyajikan bentuk dekoratif, surealis, termasuk deformatif.
“Saya ingin mengabadikan karya seni mural yang suatu saat dapat terhapus oleh hujan, dicat atau pun terkena pembangunan kota,” ujar Hasiholan. Dia kemudian mengatakan bahwa tak semua karya mural yang dia hadapi, dia ketahui pemilik atau senimannya.
Ya, mural hampir sama dengan itikad dan motivasi seniman graffiti misalnya, ada kebanalan juga kebebasan ekspresi di dalamnya. Mural kerap diciptakan di tempat yang sembarang dan kerap dilalui publik. Entah kapan dibuat, entah siapa pembuatnya, entah misi dan protes apa pun tersaji di dalamnya. Mural mengisi ruang kebebasan bahkan kebanalan warga urban perkotaan tanpa sekat birokrasi, jadwal pameran bahkan kendala surat-menyurat sebagaimana karya seni lain ketika dipamerkan di lembaga atau birokrasi resmi mana pun.
Yang menarik juga adalah, usaha Hasiholan dalam pameran ini memperlihatkan bahwa perkembangan gaya dan aliran mural belakangan ini sanat ekploratif dalam usaha estetiknya. Berbagai gaya dan aliran seni rupa ada di dalam mural-mural itu. Mural tak hanya berfungsi sebagai pesan sosial tapi juga penawaran estetik ke berbagai pejalan kaki. Publik secara massal dengan demikian dapat menikmati setiap karya tanpa pintu birokrasi dan perijinan sebuah galeri, hotel atau pun tempat pameran seni rupa lainnya yang selama ini dikenal eksklusif.
Dalam fungsi estetik ini, mural itu dapat terawetkan dan terabadikan pada pameran dan penerbitan buku fotografi Hasiholan. Meski perlu ditelusuri, setiap seniman, kapan membuat, alasan membuat, di jalanan mana. Sebuah usaha yang tak mudah karena seniman mural tak selalu menyatakan dirinya seperti seniman lain yang berpameran secara resmi.
Istimewanya, Hasiholan memotret mural dari sisi dan cara pandang dia sebagai fotografer. Hasiholan memilih langsung menembak obyek muralnya lewat layer yang dia inginkan. Tak ada suasana di sekitar mural, seperti pejalan kaki, pohon atau kendaraan yang melintas. Dia langsung memotret obyek muralnya. Sehingga pengunjung pameran di IFI atau pun penikmat buku yang dia terbitkan, langsung mendapatkan obyek karya si pemural.
Kendalanya, amatlah sulit untuk memotret ulang secara keseluruhan bentangan mural di tembok-tembok kota untuk disajikan dalam visualisasi foto. Sehingga Hasiholan, telah menyederhanakan luas pemotretan hanya di sudut tertentu dan bukan dari ujung ke ujung sisi mural sehingga tak mewakili semua sudut karya itu. Memang istimewa, tapi adakah obyek yang hilang dari sudut terbatas jepretan kameranya?
Dulu dan Mendatang
Dalam momen diskusi bertema Mural, Seni, dan Kebebasan Berpendapat di IFI pada Senin (8/5/2023) itu dibedah sejarah mural dan tantangan yang dihadapi mural saat ini, baik karena dinamika politik kekuasaan, perkembangan kreativitas para seniman, maupun akibat perkembangan teknologi digital.
Pengamat seni rupa Giri Basuki membuka mural sebagai fungsi estetik di kehidupan manusia telah dipaparkan sejarahnya. Hadir sebagai pembicara bersama pengamat seni rupa Frigidanto Agung, jurnalis M. Munir dan Anggota Komisi B DPRD Jakarta Manuara Siahaan, Giri mengulas intuisi visual manusia sejak zaman purba di gua-gua batu.
Dia mengungkapkan tentang penemuan lukisan di Gua Altamira, Spanyol di tahun 1872 bahkan lukisan purba di Gua Leang-leang, Maros, Sulawesi Selatan pun konon usianya jauh lebih tua.
Sedangkan Manuara Siahaan mengharapkan agar mural di perkotaan saat ini menjadi kegiatan kesenian yang perlu didukung sebagai medium penyapaian kritik dan ekspresi jiwa bagi para seniman. Pemerintah seharusnya menjadi fasilitator bahkan menyediakan regulasi yang baik agar kreativitas para seniman ini dapat dinikmati di kalangan masyarakat perkotaan.
Selain fungsi ekspresi dan kritik, menurut Manuara, mural dapat menjadi pendorong tumbuhnya perekonomian, menciptakan kesejahteraan masyarakat bahkan menjadi obyek destinasi wisata yang menarik bagi para pengunjung lokal dan internasional.
Dari karya seni seperti mural dia berharap itu mampu mendorong tumbuhnya perekonomian untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat terutama pemuralnya sendiri. Bahkan, lokasi pembuatan mural pun dapat menjadi penarik pengunjung kemudian membuka peluang bagi pengusaha kecil dan menengah di wilayah itu sehingga ikut merasakan dampak dari keberadaan mural.@





