Sastra Grafis “Kain”, Tawaran Kolaborasi Wahana dari Penerbit Sebermula

Dengan media Sastra Grafis, selain menjadi media perjuangan kemanusiaan juga mempermudah pembaca memasuki dunia literasi.

Jakarta – Tawaran karya sastra dalam bentuk visual sudah ada sejak dulu. Selain komik, tulisan yang disertai visual ini nyatanya jadi media penghantar generasi muda untuk mencintai dunia sastra.
Penerbit Sebermula menyebutnya dengan istilah Sastra Grafis. Menurut Direktur Sebermula Kurnia Effendi menyebut bahwa ini bukan hanya alih wahana tetapi juga kolaborasi wahana.

Read More

Artinya, pada Batik karya Kanti W Janis dipandang sama mandiri dengan karya grafisnya Yuyun.Nurrachman. Keduanya memiliki kebebasan dalam menginterpretasi.
Sekali lagi ini bukan peristiwa baru.

Pendiri Sebermula, Wien Muldian bahkan mengatakan bahwa tawaran sastra grafis juga dapat menjadi jalan ke teks tulis sepenuhnya. Namun serupa komik, sastra grafis dapat diterima semua kalangan bahkan Gen Z juga Gen Alfa, penamaan generasi terkemuka saat ini.
Apa pun, bedah buku Kain karya alih kolaborasi Kanti W Janis dan Yuyun Nurrachman sebagai salah satu rangkaian Festival JaliJali 2: Jelajah Sastra Indonesia di Baca di Tebet Jl Tebet Barat Dalam Raya No.29, Minggu (5/10/2025).
Dalam tulisannya, Kanti mengisahkan petistiwa kehidupan Ali secara halus diseling dengan pandangan dan obsesinya terhadap kain juga dialog para tokoh tentang Indonesia.
Menarik juga mendengar keterangan Yuyun dalam menginterpretasi secara visual tentang warna gelap perbukitan sebagai semiotik masa lalu Ali, pilihan batik yang dia bentangkan ke langit cakrawala dan dialognya dengan Kanti untuk memastikan sosok Ali dan tokoh sampingan lainnya di dalam cerita.
Bedah karya ini dibuka dengan Kanti yang menyanyikan lagu Donna Donna, tayangan videografi Kain, paparan Yuyun dan telaah Musdah Mulia.

Menggantikan Ratusan Esai

Aktivis dan akademisi, Musdah Mulia membahas dengan detil, semua proses dari kekuatan sastra Kanti, medium grafis Yuyun, bagaimana media seni dapat menangkap fenomena sosial politik seorang Ali imigran gelap efek perang di Yaman.

Ali lalu hidup tanpa identitas di negeri asing Oman lalu mendapati corak kain batik sebagai simbol atau semiotik keindahan, keberagaman sekaligus menghargai perbedaan.

Menurut Musdah, karya seni sangat efektif untuk mengisahkan dan menyuarakan perjuangan kalangan minoritas dan tertindas.
“Saya iri dengan Mbak Kanti, yang dengan hanya beberapa halaman karya sastra grafis ini, mampu menyuarakan kisah kemanusiaan dalam karyanya. Padahal saya sudah menulis ratusan artikel,” ujarnya dalam diskusi yang dimoderatori Andari Karina .
Paparan Musdah ini menggambarkan betapa alternatif karya seni, sastra apalagi dengan visualisasi grafis, akan mempermudah masyarakat yang lama masuk ke fase digital ini untuk dapat mencermati karya dalam sajian buku cetak.
Dalam paparan bertajuk “Membaca Kain secara Kritis-Filosofis”, Musdah mengatakan bahwa karya Sastra Grafis Kain berhasil memadukan teks dan gambar secara sinergis bukan hanya sebagai ilustrasi, tapi elemen visual ikut membangun makna, suasana, karakter, dan identitas dalam narasi.
“Bentuk ini juga memiliki potensi kolaborasi dan lintas disiplin: Ilustrator, teks, desain visual, tipografi, tata letak, semua ikut menentukan bagaimana pesan tersampaikan,” paparnya.

Rangkaian Festival

Bedah buku bertajuk Kain adalah satu agenda dari rangkaianbFesrival JaliJali 2: Jelajah Sastra Indonesia yang telah berlangsung sejak 5 Oktober 2025 hingga 14 Oktober 2025 mendatang.

Ada juga karya lain yang akan dibedah di antaranya, Sastra Grafis dari novel Ita Siregar bertajuk Naftali yang berkolaborasi visual dengan Yuni Agus dan cerpen Debra Yatim (pernah dimuat di Harian Umum Kompas) bertajuk Joseviolis yang berkolaborasi visual dengan Dimas Pandu.
Festival ini didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2025.@

Related posts

Leave a Reply