Bogor – Kopi merupakan salah satu minuman yang digemari selain teh. Penggemar kopi pun beragam, mulai dari remaja hingga orang tua. Tak hanya para lelaki kaum wanita pun tak sedikit yang menggemari minuman berkafein ini. Biasanya, minum kopi dinikmati bersamaan dengan suguhan makanan ringan atau bisa juga gorengan, seperti pisang goreng atau tempe-tahu goreng. Dinikmati bersama sejumlah teman sambil ngobrol ngalor-ngidul, woww.. nikmat mana lagi yang engkau dustakan dari cita rasa si hitam ini.
Bicara soal kopi ada beberapa merk kopi yang melegenda di wilayah Bogor. Salah satunya adalah kopi Liong Bulan. Kita pasti sudah akrab dengan nama kopi Liong Bulan. Padahal ada beberapa merk kopi lain yang sudah diproduksi puluhan tahun dan hingga kini masih eksis. Seperti, kopi cap Oplet, kopi Agus cap Teko dan kopi cap Kacamata. Kopi-kopi tersebut, termasuk Liong Bulan, masih ada hingga sekarang, dan menjadi pilihan para penyuka kopi di wilayah Bogor dan sekitarnya.
Kopi tertua yang ada di Bogor adalah kopi bubuk Cap Kacamata. Diproduksi sejak 1925 di wilayah Empang, Bogor oleh keluarga peranakan Tionghoa. Pendirinya Yoe Hong Keng, yang oleh warga setempat disapa Bah Sipit. Nama ini dijadikan merk kopi hingga tahun 1950. Adapun cap Kacamata sebagai brand disematkan setelah tahun itu. Kopi Kacamata dikemas dalam bungkus kertas berwarna coklat yang masih tetap dipertahankan sampai saat ini. Bah Sipit wafat pada 1985 dan usahanya diteruskan generasi keduanya hingga sekarang.
Selain cap Kacamata ada pula kopi cap Teko Toko Agus. Cap Teko ini bisa dibilang kopi legendaris juga. Berdiri sejak tahun 1950 dan saat ini masih tetap ada di pasaran. Kopi cap Teko Toko Agus didirikan oleh Jono Widarto. Kopi ini bisa bertahan melewati lintas generasi, dan kini dikelola oleh generasi kedua. Biji kopinya didatangkan dari Sumatera, Lampung, Bengkulu hingga Aceh. Kemasannya masih menggunakan kertas berwarna cokelat dengan ukuran kecil sekali seduh.
Kopi legendaris lainnya yang tak kalah nikmat ialah kopi cap Oplet, didirikan tahun 1975 dengan basis perusahaan keluarga. Diberi brand Oplet, karena saat itu kendaraan Oplet merupakan transportasi publik yang umum dipakai. Boleh jadi dengan diberi merk Oplet sang pendiri berharap produknya mudah diingat masyarakat penikmat kopi. Selain itu, pada tahun 1970-an, pemilik usaha kopi ini memiliki produk sabun cap Oplet yang sudah dikenal.
Kopi cap Oplet dulunya mempunyai kemasan kertas. Lalu karena ingin kualitas kopi lebih terjaga mulai tahun 1995 kemasan beralih ke bungkus plastik. Hingga kini kopi cap Oplet masih eksis. Di kawasan Cibinong masih banyak warung tradisional menjualnya. Ada juga yang memasarkan melalui situs dagang online. Kopi yang biasa disajikan dalam bentuk kopi tubruk ini sudah sangat akrab bagi penikmat kopi di Bogor.
Selain tiga merk kopi legendaris di atas ada lagi satu merk kopi yang bisa dibilang ikon kopi Bogor, kopi cap Liong Bulan. Atau lebih populer disebut kopi liong. Aroma dan rasa kopi ini begitu khas di lidah dan tenggorokan. Tidak heran jika Kopi Liong Bulan ini begitu lekat di ingatan dan menjadi pilihan penikmat kopi di wilayah Bogor dan sekitarnya. Kenikmatan kopi Liong memang sudah dirasakan sejak dulu. Konon menurut cerita, para pejuang kemerdekaan sangat akrab dengan kopi ini. Mereka biasa minum kopi Liong sebelum berangkat bertempur.
Kopi Liong Bulan ada sejak tahun 1945. Kopi dengan logo gambar naga dan bulan ini dirintis oleh seorang warga keturunan asli Tionghoa bernama Linardi Jap. Nama Liong atau Naga dengan logo gambar naga dipilih karena melambangkan kemakmuran, sedang nama Bulan dengan logo bulan sabit tersenyum melambangkan ketenangan. Kopi Liong Bulan memiliki karakteristik rasa yang pahit dan kental serta aroma harum yang tahan lama. Kopi ini dikemas dalam bungkus plastik kecil sekali seduh dengan pilihan kemasan kopi dan gula (berwarna biru) dan kopi tanpa gula (berwarna coklat).
Sekalipun punya aroma dan cita rasa yang legendaris, ternyata biji kopi yang diolah tak berasal dari satu perkebunan. Biji kopi yang menjadi bahan bakunya selain diambil dari petani kopi di sekitar Bogor ternyata juga didatangkan dari luar daerah. Termasuk kopi dari Lampung. Cita rasa pahit, kental dan harum ini yang terus dipertahankan hingga sekarang, sehingga kopi ini begitu melegenda, tetap eksis, dan menjadi kebanggaan masyarakat Bogor.
Sedikit bincang dengan beberapa orang penikmat kopi, mereka mempunyai asumsi penyebaran atau pemasaran 4 kopi legendaris ini “seperti diatur” tidak dalam satu wilayah. Bila dicermati kopi cap Oplet memang lebih banyak dijual di wilayah Bogor timur hingga Bekasi, sementara kopi cap Kacamata dan cap Teko di sekitaran Bogor kota. Untuk kopi Liong Bulan, banyak dijual di warung sekitar Cibinong hingga Depok. Atau bisa juga itu hanya faktor pemetaan selera konsumen di masing-masing wilayah. Yang pasti, menyeruput kopi hitam sambil bincang bersama teman adalah momen hangat yang tak terlupakan.@ Bagus Sidi Pramudya





