Bogor – Keanekaragaman hayati pohon endemik Indonesia memungkinkan dunia bonsai Indonesia mengeksplorasi jenis bahan yang dapat digunakan.
“Tapi perlu diingat juga saat mengambil bahan bonsai dari alam kita untuk menanam kembali. Mengambil satu pohon, kita harus stek juga sepuluh sampai seratus pohon,” ujar Haji Abdul Hakim Luthfi, pebonsai sesepuh di Bogor.
Perbincangan ini menjadi bahan diskusi dalam acara Jemur Bareng Bonsai oleh Paguyuban Bonsai Citayam yang digelar di Griya Citayam Permai III, Kampung Kelapa, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Minggu (7/5/2026).
Menurut Haji Luthfi, pohon yang ada di hutan hayati kita adalah warisan dari kakek moyang kita. Karena itu, kita pun harus menyiapkan juga pepohonan untuk generasi mendatang kita.Seperti halnya pohon serut (Sterblus asper) dan asam Jawa (Tamarindus indica), yang kemudian menjadi primadona, karakter dua pohon ini pun dipelajari pertumbuhan dan teknik perawatannya.
Pada tiap pohon lokal pun, memiliki karakter yang akan bertumbuh sehat bila mulai dikenal karakternya dari media, perlakuan hingga perawatan terhadapnya.
Dengan tema “Bersama, Berkarya, Menuju Bonsai “Juwara”, acara jemur bonsai ini, menurut Koordinator Panitia PBC, Suparno, bukan pameran apalagi kontes, melainkan hanya momen ngeriung dan kumpul bersama.
Acara ini sempat dibuka dengan pembacaan puisi bertajuk Tentang Hikayat Pohon Itu oleh Sihar Ramses Simatupang, penulis sastra yang juga penyuka bonsai diiringi musik oleh Rio A.S dan Febri “Komeng”. Hadir juga selain PBC, komunitas Mall Bonsai, pebonsai Cilendek dan dari wilayah lainnya di Bogor.
Dengan acara “jemur bonsai” oleh para pebonsai yang juga terbawa oleh semangat Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) ini, dapat menumbuhkan energi dan semangat dari warga sekitar Citayam untuk membonsai.
Mushery mengatakan bahwa setelah jemur bareng bonsai ini, diharapkan agenda ini dapat berkelanjutan. Pertemuan ini jadi momen untuk pelatihan bersama untuk mendalami teknik-teknik membonsai.
Di momen itu, ada juga momen pelatihan teknik perawatan, pruning sekaligus mengenal karakter cemara. Berbagai jenis cemara, baik Cinensis, Cemara Udang atau pun Black Pine, memang memerlukan tantangan dalam penanganan dan perawatannya.
Semangat Paguyuban
Menurut Karyanto, anggota PBC lainnya, persiapan pameran ini termasuk cukup dadakan. Namun dengan semangat paguyuban, para anggota PBC yang memang terdiri dari warga sekitarnya, secara gotong-royong menggelar acara ini.
“Tiap orang kemudian mengikutsertakan karya mereka satu hingga tiga pohon. Meski belum final karya pohonnya, masih perlu diprogram lagi. Tapi inilah energi dan semangat dari Paguyuban Bonsai Citayam untuk menggelar bahkan mengajak pebonsai lain di wilayah Bogor untuk ikut serta ngeriung,” ujar Karyanto.
“Jemur bareng bonsai” ini digelar di antara jalan masuk Griya Citayam Permai. Ada pohon Asam Jawa, Waru, Beringin Kimeng, Sisir, Hokiantea, Cemara dan pohon lainnya. Rata-rata bonsai mame, small dan hanya beberapa saja yang mengikutsertakan ukuran medium. @





