Jakarta – Pertemuan Penyair Nusantara XIII yang akan diselenggarakan pada 11-15 September 2025 di Jakarta merupakan momen penting buat dunia perpuisian dan kesusasteraan Indonesia di dunia.
“Dengan penyelenggaraan yang digelar di Jakarta ini selain menjalin hubungan formal dan informal, dapat menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Asean. Penyelenggaraan PPN ke XIII juga menjadikan Jakarta sebagai kota sastra dunia terutama di wilayah Asia Tenggara,” ujar Pengamat Sastra, Maman S Mahayana dalam diskusi bertajuk “Menuju PPN XIII – Diskusi Publik Penyair Asia Tenggara dan Pentas Puisi” di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta, Sabtu (6/9/2025).
Dimoderatori oleh penyair Fikar W Eda, Maman mengatakan bahwa pertemuan yang sekaligus meluncurkan buku puisi para penyair Se-Asia Tenggara ini, menjadikan tema perdamaian untuk mempererat ikatan serumpun dan mereka biasa menyampaikan syair di wilayah mereka masing-masing.
“Kemudian kesultanan di Nusantara yang sampai ke Mindanau, dengan kesamaan huruf Jawi dan bahasa Melayu itu, datanglah Belanda Inggris yang menghancurkan dan membuat sekat-sekat itu,” lanjut Maman.
Jadi, “misi terselubung” PPN ini adalah semangat serumpun dan persaudaraan agar dapat terus terpelihara.
“Sehingga untuk standar penilaian puisi di para penyairnya, yang dilihat adalah bukan semata siapa penulisnya tapi bagaimana karyanya. Pertama adalah kesesuaian dengan tema. Termasuk bagaimana karya itu. Baru belakangan pemerataan, persebaran jadi bahan pertimbangan. Kenapa puisi si A masuk puisi si B tidak, kami para kurator dapat mempertangungjawabkannya. Siapa pun kalau puisinya bagus. Obyektivitas pada karya itu yang jadi pertimbangan utama,” papar Maman yang juga Panitia PPN XIII.
PPN, Puisi dan Dunia Digital
Pertimbangan tentang Bahasa Indonesia sebagai bagian dari peta bahasa dan sastra dunia pernah diungkapkan oleh Pramoedya Ananta Toer yang pernah berharap Akademi Swedia mempertimbangkan Bahasa Indonesia di tengah karya-karya sastrawan dalam bahasa serumpun di tanah Melayu.
Kembali pada diskusi tadi, menarik juga mengutip pendapat pembicara lainnya dalam diskusi itu, narasumber dari Pengamat Sastra Digital Riri Satria membaca fenomena digital di tengah peta pada penyair ASEAN terkait penyelenggaraan Pertemuan Penyair Nusantara XIII ini.
Riri mengatakan bahwa memasuki masa kekinian sebaiknya janganlah membenturkan modernisasi dan teknologi.
Keberadaan budaya dan seni tradisi lisan karena dunia digital dapat juga mengangkut muatan sastra lisan termasuk di Asia Tenggara.
Jadi, puisi tetap harus digaungkan. Bahkan dia mengatakan bahwa di mana pun dia diundang sebagai pembicara dalam tema apa pun berkait dengan dunia digital, dia kerap mengetengahkan dan membawakan puisi.
“Penyair itu tetap bisa saja membawakan semangat sastra dan puisi, di mana pun forumnya,” papar Riri.
Hadir juga di momen itu, Ketua PPN XIII Ahmadun Yosi Herfanda dan Wakil Ketua Mustafa Ismail serta pengurus Dewan Kesenian Jakarta Imam Maarif dan Aquino Hayunta.
Terlihat para penyair antara lain Giyanto Subagio, Devie Matahari, Rintis Mulya, Nuyang Jaime. Eva Yenita Syam, Oktavianus Masheka, Endin Sas, Eki Thadan, Nanang R Supriyatin, Nunung Nur El Niel, Yon Bayu Wahyono dan Rissa Churia.@





