Oleh: Vukar Lodak *)
Tenggelam dan lebur, kemudian berasyik-masyuk ke dalam lipatan perhelatan pameran tunggal seni rupa Gogor Purwoko, yang bertajuk “Tanda Pada Lipatan”, dari tanggal 1-14 Maret 2023, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta; tak pelak, kita seolah hendak disorong masuk ke dalam nuansa seni rupa modernis, pasca-perang, era awal abad-19-an, kisaran tahun 1920-an hingga 1970-an; konstruktif, abstrak ekspresionisme (action painting) hingga seni rupa imajinatif semacam geometris dan formalis.
Konfigurasi bola-bola, lingkaran hole, segi-segi presisi, garis-garis sulur bak arteri, dan bercak-bercak warna liar merangkak tak terduga. Berbagai bentuk, seperti kemudi kapal, terompet, lengkung-lengkung sabit, dan garis-garis siklus, menyergap stilisasi pola-pola yang unik. Sebagian karyanya tumbuh dari proses frostase (lipatan dan gesekan); di mana efek sensasi dan elemen-elemen tak terduga secara liat kerapkali menyeruak.
Piktoralisasi karya Gogor seperti proses tangkupan, rekahan dua sisi yang terbuka dan terbelah, sisi vertikal atas dan bawah, horizontal kiri dan kanan, seperti salinan kembaran pada dua bidang yang berseberangan.
Perupa kelahiran Lumajang, 1971, yang berlatarbelakang tehnik sipil ini; karya-karyanya merupakan hasil refleksinya sebagai penyintas covid delta selama 20 hari, dan juga sebagai inisiasi bahwa sudah usainya kita keluar dari lipatan pandemi.
Pameran yang dikuratori oleh Citra Smara Dewi ini paling tidak menyuguhkan 20 karya, yang terdiri dari 3 fragmen ruang.
Ruang pertama menyuguhkan karya hasil workshop dan performance Gogor, dengan ukuran panjang mencapai 7 meter; ruang kedua menampilkan karya-karya lukis abstrak geometris, yang terinspirasi dari tradisi wayang kulit.
Sementara itu di ruang ketiga, dengan tema “Jiwa dan Ketubuhan”, yaitu kumpulan lukisan wajah senimannya yang diciptakan dengan berbagai karakter, mulai dari bentuk realis, ekspresionis hingga abstrak. Meliputi seni lukis, mixed media, dengan penggunaan material media dan teknik yang berbeda-beda.
Coba saja kita lihat misalnya, karya berjudul “Tanda Pada Lipatan”, akrilik di atas kanvas, 145cm x 230cm, laburan warna-warna yellow chrom, ochre, raw umber, dan olive green, dengan teknik basah dan transparan, mendedahkan kejutan-kejutan visual yang ekspresif, seperti head animal bone atau bentangan bidang yang ditarik, menukik seperti warna nebula pada kosmos.
Tengok pula pada karya berjudul “Secret Garden”, akrilik di atas kanvas, 150cm x 120cm; saputan warna blue-green tipis, dipangkas pantulan warna gelap ivory pada bagian atas dan bawahnya, lalu diimbuh garis sulur putih, seperti efek murky dan rustic pada lukisan-lukisan gua sekian jutaan tahun yang lalu itu; lalu digurat dengan arketipe lingkaran hole, sebagaimana lazimnya simbol spiritualitas dan gelembung-gelembung jentik yang menyerupai imaji eter; di atasnya membuncah empat lingkaran putih kecil dengan satu titik pada bagian yang paling bawah.
Lukisan ini secara depiksi, seakan-akan menghantarkan imaji kita mengenai alam mikro dan alam makro, antara jagat diri dan jagat alam raya, antara self dan kosmos. Seperti lazimnya yantra yang menghubungkan alam eksoteris dan esoteris, di mana lingkaran tengah sebagai sentral, pusat kesadaran dan keabadian.
Juga misalnya dapat pula kita tengok pada karya-karya konstruktifnya seperti “Melihat Bintang”, akrilik di atas kanvas, 180cm x 90cm, bertarikh 2022; paduan bentuk-bentuk asimetris, seperti kurva, bulatan bercangkang, dengan susunan tegak, menggelegak bentuk diagram lima penjuru mata angin, kental dengan dimensi kejagatrayaannya.
Pada karya trilogis berjudul “Gumul” juga misalnya, satu hingga tiga, akrilik di atas kanvas, 150cm x 180cm, suasana arketipe lukisan-lukisan kuno, tampak seperti terlihat sangat eksplisit. Bercak-bercak dan semburat warna deep olive green, spot-spot wayangan telapak tangan dengan beberapa alam hewan liar, samar menandaskan sebuah sejarah psike kuno yang sepertinya sampai pada hari ini masih tetap berjejak.
“Lukisan-lukisan abstrak ekspresionis yang digubah dan dicipta Gogor, dengan sangat spontan, ekspresif, dinamis sekaligus puitis. Proses berkaryanya melalui goresan dan cipratan pada kanvas, lalu bidang kanvas dilipat dari berbagai arah. Guna memberi penekanan pada aspek estetis, tak jarang Gogor melakukan “finishing touch” dengan menggores kanvas menggunakan kuas. Hasil dari proses melipat kanvas, terkadang bersifat tak terduga, di mana pencampuran cat dan tekstur justru menimbulkan sensasi, komposisi dan gradasi ruang yang menawan hati, sekaligus “penuh misteri’ yang tak tersibak” ujar Citra Smara Dewi.
Lukisan-lukisan Gogor, sebagaimana lukisan-lukisan non-representatif masa itu, memang seperti tapisan atas refleksi dari berbagai dimensi mistifikasi. Hasil sublimasi ketegangan dan kecemasan alam bawah (chthonic) terhadap realitas yang serba gamang dan tidak menentu.
Siklus kehidupan sehari-hari yang penuh absurditas, tidak masuk akal, naif, aneh dan tak terduga seperti efek pada lipatan. Proses bawah sadar yang mengharu-biru ini, kemudian menyuling dirinya menjadi hal-hal yang bersifat metafisis. Mencari pembebasan, mencari lamunan pada penglihatan batin dan hal-hal yang bersifat esensial, di mana realitas kasat ditengarai sudah tak dapat lagi dipegang sebagai idealisasi manusia.
Realitas tak lain dari panggung angkara murka, seperti sumur tanpa dasar, sekedar tumpahan sebagian dan berbagai sisi gelap manusia .
Seniman-seniman genre ini, menyeplit paradigmanya—sebagai linierisasi temuan fisika modern—yang mana keseluruhan realitas diterjemahkan sebagai totalitas energi, cahaya, waktu, materi dan gelombang yang berkesatuan; yang dalam fisika klasik dipandang secara parsial.
Mereka kemudian tak lagi berkiblat pada seni-seni sensoris, yang condong mimesis; para seniman-seniman ini mulai merangkak mencari kekuatan dari dalam. Mengejawatahkan karya-karya mereka secara esensial, bersifat spiritualitas, mengikuti irama alam dan warna, lalu terkadang menarik kembali simbol-simbol kuno masa lalu dan primitif itu sebagai geneologi universal.
Mereka lebih banyak mengeksplorasi elemen-elemen murni seni rupa secara subtil. Para senimannya, seperti Kurt Schwitters, Kandinsky, Naum Gabo, Paul Klee, Robert Delaunay, Mondrian, berkecenderungan monomania, terobsesi pada satu gagasan formalis, khidmat pada inner ketimbang penglihatan kasat. Seperti ujar Kandinsky bahwa pertemuan segita tiga dan lingkaran tak ada bedanya dengan lukisan pertemuan tangan Tuhan dan adam yang dilukis oleh Michelangelo.@
*) Vukar Lodak adalah penikmat dan pengamat seni rupa.





