City Lanscape Tiang Senja

tiang senja
Oleh: Vukar Lodak *)
Cloud Hosting Indonesia

Sebuah abstraksi lanscape perkotaan melabur, bertumpang tindih, menguat di satu bidang, kemudian melemah di bidang yang lain. Beberapa bentuk bertumpuk dan membentuk konsentrasi di suatu tempat, di tempat lain ia dibiarkan hampa, pudar dan pucat. Bentuk-bentuk dan garis-garis imajiner berkelindan, kemudian dipisahkan tone warna gelap dan terang. Di beberapa bagian, warna-warna basah dibiarkan meleleh bebas, sedangkan di beberapa bagian lagi, untuk meneguhkan bayang-bayang bangunan perkotaan yang samar, jendela-jendelanya dipangkas dengan warna-warna pekat. Stroke pisau valet yang tegas mengimpasto, sedangkan cita rasa impresionis dan ekspresionismenya mengental kuat. 

Paling tidak demikianlah gambaran yang didapat ketika menziarahi karyakarya pelukis muda Tiang Senja, pada pameran tunggalnya bertajuk “CityLanscape”, yang berlangsung sejak 30 Agustus – 13 September 2021, di Miracle Prints Studio, Yogyakarta. Dalam pameran ini, tak kurang dari 40 karya yang di pamerkan, dengan 7 sub-tema. Yang semuanya berkisah soal dunia perkotaan.

Bacaan Lainnya

Pelukis muda berbakat yang masih menempuh pendidikan di ISI Jogya ini,  memang tengah berasyik-masyuk dengan proses kreatif  yang penuh penjelajahan, eksploratif, terutama menghantarkan bayangan dan imaji mengenai substansi perkotaan. Kota dengan segala silang-sengkarutnya. Sejak dari pokok tranportasi dan tranmisi jalan raya, kecenderungan megalopolis hingga ke nekropolis, serbuan panduan tanda dan petunjuk, kemajemukan dan hierarki, pusaran mekanisme pasar, scrup-scrup kapitalisme, problem sosial dan psikologis, hingga jantung perkotaan yang emosinya sangat tergantung dari denyut nilai tukar mata uang. 

(Baca juga: Studio Bautanah, Komunitas Skizofrenia dan Kreativitas Seni)

Tengok saja misalnya, pada karya “Komposisi Sosialitas”, akrilik di atas kanvas berukuran 80cm x 60cm, tahun 2020 itu. Tumpukan-tumpukan warna pada pencakar langit, dilukiskan Tiang Senja seperti ruang-ruang inkubator yang dingin, dengan jendela-jendela yang menghitam bisu. Bangunan-bangunan itu dibuatnya  seperti tenggelam dan saling menekan. Seolah-olah, seperti saling memagut cahaya, saling merenggut space, saling membenamkan dan saling menonjolkan diri. Sebuah multi-meaning bagaimana kira-kira kompleksitas sosial yang ada di dalamnya.

Atau pada karya “Ketika Sunyi”, akrilik di atas kanvas,  60cmx80cm, tahun 2020. Paduan warna-warna umber dan putih, kuning dan burnt sienna, dengan tekstur yang keras, mengharu-biru, membentuk pemukiman-pemukiman di kejauhan. Alienasi atau keterasingan yang menjadi ciri dalam masyarakat urban (baca: industri), begitu kukuh hendak disampaikannya. 

Seketika Sunyi — City Lanscape Tiang Senja

Tampaknya, menurut Tiang Senja, mungkin pada sebagian orang, kehidupan perkotaan, lebih-lebih sebuah kampung megapolitan adalah impian, obsesi bahkan ambisi. Di mana, putaran uang  yang masif, fasilitas publik yang mutakhir, ruang aksebiliti yang luas dan terbuka, gaya hidup yang serba metro, menjadi daya tarik yang kuat. Meski sebagian orang  juga, yang sudah mengalami sekian kulminasi hidup di perkotaan,  katakanlah, yang  sudah mencapai sebuah keberhasilan defenitif, justru surut meninggalkan kehidupan perkotaan, memilih hidup di pedesaan, mendekatkan diri kepada alam dan kemudian memilih gaya hidup yang sama sekali lain dari lazimnya. Sebagaimana Tiang Senja sendiri yang tinggal di Jogya , bermukim di satu kawasan yang sangat asri dan syarat dengan perkampungan alam.

Fiksi Mewah – City Lanscape Tiang Senja

Sebagai pelukis yang masih sangat muda, tentu saja, perjalanan dan fase-fase yang akan dilalui Tiang Senja kelak akan beragam. Banyak periode-periode artistik dan estetik yang akan dijamahinya. Tetapi sebagaimana bahwa ‘keindahan hanya milik orang-orang yang berani’, paling tidak, Tiang Senja dengan pameran tunggalnya kali ini sudah menujukkan sebuah keberanian dan kecemerlangan yang luar biasa. 

Tinggal nantinya, apakah ia akan meneguhkan dirinya sebagai seniman (baca:pelukis) karena pilihan yang dibentuk oleh latarbelakang diri dan keluarganya yang perupa itu, karena perhitungan-perhitungan taktis dan dorongan interpersonalnya, atau semata-mata karena mengikuti kemurnian dari dalam dirinya. Atau peneguhan itu dianggap sebagai penyerahan. Bahwa hidup sebagai perupa adalah panggilan—meskipun  mengikuti panggilan juga bagian dari pilihan—tetapi paling tidak ia dapat menjangkau kesejatian. Atau lebih menukik lagi, peneguhan itu dianggap sebagai semacam curse, di mana, sampai kapanpun,  dalam keadaan apapun ia tidak dapat beranjak dari titik itu. Meski dihantui segala dera. Sebagaimana kisah dari banyak seniman legendaris. Tinggal waktu yang akan mengujinya. Bravo dan bravo untuk Tiang Senja.@

*) Penikmat dan praktisi seni

Pos terkait

Tinggalkan Balasan