Medio Oktober 2023, di bawah jembatan layang, di salah satu kota satelit Jakarta, Tatan Daniel menggelar pameran fotografi.
Tak banyak orang yang dapat menciptakan perenungan visual di tengah kota yang kendaraannya lalu-lalang. Di Depok, sebuah pameran digelar di tengah fly over yang komunitasnya dirintis dan digerakkan oleh para seniman dan sastrawan termasuk penyair Jimmy S. Johansyah, Badri AQT dan Oedy Rayhandza.
Adalah seorang pencinta seni, penulis puisi dan esai, pelukis sketsa dan juga seorang pemotret di tengah kota.
Namanya Tatan Daniel. Dia berpameran di Kolong UFO (Under Fly Over). Pameran foto ini juga seakan menjadi genderang penabuh semangat seni visual dan fotografi karyanya di seputar wilayah “kota satelit” Jakarta.
Judul pameran foto Tatan, Puisi Tanpa Kata – Siasat Meringkus Kelebat. Judul yang sangat puitik, namun juga menjanjikan narasi panjang.
Ya, kota Jakarta adalah sebuah intalasi yang mengundang permaknaan bertumpuk. Di mata visual seorang Tatan Daniel, Jakarta juga adalah semiotika tentang manusia urban. Seberapa pun padat dan berkelindannya, Tatan seakan menggapai sisi lengang, sisi renung, ruang hening untuk berkisah yang lain; sebagai manusia.

Kota yang beranak-pinak dengan tumpukan bangunan, kendaraan, tangga, sirkus, mainan anak, bangku taman.
Tatan selalu mencari sisi sunyi, sisi rehat dan istirah tiap obyek tersebut di tengah pernik dan riuh kota.
Ada sisi lengang, bahkan untuk sebuah kota yang terus meraksasa. Ecce homo, inilah manusia. Sebuah biografi anak tidur di pangkuan, kisah pemungut sampah, ibu penjaja kaki lima, adalah narasi yang agung bagi Tatan.
Begitu pun sepeda, bajaj, buskota, gerobak roti bahkan biola yang tergeletak, adalah riwayat sama pentingnya untuk sebuah kota. Sungguh semuanya tetap tak pantas untuk tamat dalam situs dan ritus perkotaan. Tatan meringkus lalu mengayuhnya, setidaknya agar semua obyek itu terhambat dan tertambat di ruang refleksi kemanusiaan kita.
Kepekaan Tatan
Nestor Rico Tambun, jurnalis dan penulis senior yang didaulat menjadi pengamat dan penikmat gelaran foto Tatan ini, sempat mengisahkan riwayat Tatan Daniel. Riwayat Tatan saat masuk Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN), melanjutkan pendidikan di STIA-LAN, bahkan ditunjuk sebagai Kepala Anjungan Sumatera Utara TMII. Buku kumpulan puisinya Pada Suatu Hari yang Panjang bahkan menjadi salah satu dari enam buku puisi terbaik dalam peringatan Hari Puisi Indonesia 2021.
Nestor yang juga hampir segenerasi dengan Tatan, juga mengungkapkan bahwa ada kemampuan imajinasi fotografis yang bagus dalam ungkapan visual karya Tatan.
Kepekaan angle, kepekaan menempatkan obyek dalam frame imajiner sebelum menekan shutter.

Di luar pendapat Nestor, Tatan memberikan pandangannya di hadapan publik. “Kalau penyair dalam kata puitik, maka saya menggambarkannya lewat foto di media sosial kita. Itu perlu kita lakukan karena ini.juga menjadi bagian dari amal kita,” ajak Tatan.
Dia mengisahkan beberapa foto, mulai dari saat dia keluar rumah pun, pemandangan keseharian kota sudah tersaji di hadapannya. Tatan melihat pemulung di depan rumah. Tatan menyaksikan anak kecil dalam gerobak. Tatan mendapati penyair Sutardji Calzoum Bachri saat menziarahi makam Chairil Anwar lengkap dengan suasana di sekitar makam.yang hening dan ngelangut.
“Saya ingin aktivitas ini terus bersambung. Kita dapat memotretnya hanya dengan menggunakan alat sederhana, kita dapat memotret kejadian di sekitar kita. Tak hanya sekedar selfie,” tuturnya.
Hadir di acara diskusi dan pameran itu, para sastrawan dan seniman antara lain Fanny Jonathans Poyk, Dedies Putra Siregar, Boy Sulaiman, Arief Joko Wicaksono, Devie Matahari, Remmy Novaris DM, Roy Julian, Imam Ma’arif, Eddy Pramduane, Yaser Arafat, Oktavianus Masheka, Iwan Burnani, Ekky Thadan dan Nelly Kurniati.@





