Getah


Cerpen : Pramudya Bagus

Read More

Musim kampanye tiba. Bagiku, ini pertanda baik. Sebab, setiap musim kampanye penghasilanku bertambah. Dari yang tadinya sekian ratus ribu rupiah per bulan bertambah menjadi sekian puluh juta rupiah per bulan. Bukan keajaiban atau sulapan. Ini kenyataan. Di saat musim kampanye seperti sekarang tenaga dan keahlianku bisa diandalkan.
Memang usaha yang kujalankan tidaklah tergolong besar. Kantorku hanya rumah petak yang kusewa dengan harga murah. Tiga ratus ribu rupiah per bulan. Tapi, meski cuma di rumah sewa dan berharga murah, klien-ku cukup lumayan. Berbagai order silih berganti datang. Dari pembuatan kartu nama, kartu undangan sampai cetak brosur berbagai ukuran.
Order akan meningkat jika musim kampanye datang. Saking meningkatnya terkadang aku kewalahan juga menanganinya. Tapi, rejeki pantang ditolak. Sebisa mungkin aku menyanggupi setiap pesanan yang datang. Macam-macam pesanan, Ada yang minta dibuatkan spanduk partai, ada pamflet kampanye yang bergambar foto caleg. Bahkan ada pula yang memesan baliho. Yang terakhir ini biasanya pesanan dari partai-partai yang telah kawak dan berdompet tebal.
Pagi ini pun aku ada janji dengan seorang tokoh dari sebuah partai besar. Janji bertemu pukul sepuluh pagi namun sejak subuh istriku telah cerewet memberi nasihat macam-macam. Aku diharuskan bersikap sopan, merendah dan tak usah minta syarat macam-macam. Begitu kata istriku.
Sesungguhnya aku tak paham apa yang dimaksud oleh istriku tak usah minta syarat macam-macam. Menurutku, kalau orang hendak membeli sesuatu wajar pula jika si penjual mengajukan syarat-syarat tertentu. Tapi, aku tak mau berbantahan dengan istriku. Setiap kalimat yang keluar dari mulut mungil istriku kuiyakan saja.
Pukul setengah sepuluh pagi aku telah sampai di tempat perjanjian. Sebuah lahan parkir di basement pusat perbelanjaan terkenal di ibukota. Aku tak tahu kenapa tokoh partai yang terkenal ini mau bertemu denganku di tempat seperti ini. Ah, sebodo! Emang gue pikirin! Mungkin hanya soal kepraktisan saja.
Setengah jam aku menunggu. Udara basement cukup pengap. Mobil-mobil yang keluar masuk menambah sesak nafasku. Aku harus bersabar. Orang kecil sepertiku ini memang harus sabar menghadapi orang gedean, seperti tokoh partai ternama yang tengah kutunggu ini.
Pukul sepuluh lebih dua puluh. Sang tokoh belum juga muncul. Aku mulai gelisah. Berjalan hilir-mudik tak ada juntrungan.

“Baik.. akan kutunggu hingga pukul setengah sebelas! Kalau nggak hadir juga aku akan pulang!” tekadku. Biarlah uang sekian juta melayang. Aku takkan menyesal.
Hmmm, andai sang tokoh tak muncul menemuiku, aku bisa memahami. Itu sifat yang umum dari para tokoh partai di negeri ini. Gampang lupa atau minimal selalu terlambat menepati janji-janjinya.
Kutengok arlojiku. Pukul sepuluh lebih empat puluh. Sepuluh menit telah lewat dari tenggat waktuku. Aku pun berbalik. Berjalan mencari anak tangga yang menuju ke lantai satu pusat perbelanjaan. Kuputuskan, aku akan pulang.
Belum lagi aku beranjak tiba-tiba sebuah mobil BMW seri terbaru nyelonong melewatiku. Aku tahu, itulah mobil sang tokoh partai. Langkahku pun urung untuk pulang. Kutunggu. Tak sampai seperempat jam, seorang laki-laki umur 40-an menghampiriku. Basa-basi memperkenalkan dirinya sebagai sopir pribadi sang tokoh partai. Berikutnya, akupun digiring oleh si sopir pribadi itu menuju mobil BMW yang terparkir di sudut. Kulihat sang tokoh partai berdiri di samping mobil menunggu kedatanganku.
Berhadapan langsung dengan sang tokoh aku tak merasa asing. Sebab aku sering melihatnya di berbagai media massa. Setelah berjabat tangan dan basa-basi sebentar, sang tokoh partai mempersilahkan aku masuk ke dalam BMW-nya, dan langsung mengutarakan niatnya. Beliau ingin aku membuat iklan untuk pencitraan dirinya sebagai sosok yang nasionalis, cinta tanah air dan peduli pada rakyat.
Aku paham. Benakku pun langsung menggali ide. Aku bayangkan sang tokoh berdiri di antara anak-anak bangsa sambil mengacungkan tinju kanannya ke udara. Di bawah gambar itu tertulis, “Beri Kami Kesempatan.” Keren bukan.
Tak sampai satu jam kami bicara. Sang tokoh partai memberiku segepok uang yang dibungkus tas plastik hitam. Gila! Aku tak percaya. Duit puluhan juta hanya dibungkus tas plastik hitam.
“Cepat duitnya dimasukin tas, Mas! Ntar orang lain tahu loh!” suara si sopir pribadi mengingatkan. Aku tersadar. Buru-buru bungkusan uang kumasukkan ke dalam tas. Sang tokoh partai tertawa. Aku tersipu malu, berpamitan dan beranjak keluar dari mobil. Sang tokoh partai mengangguk, menepuk pundak si sopir. Mobil BMW pun melaju meninggalkanku.
***
Hasil kerjaku untuk sang tokoh partai menuai hasil sempurna. Sang tokoh puas. Lebih dari itu, order pesanan iklan pun mengalir datang. Tak hanya datang dari partai-partai besar dan mapan, partai-partai gurem pun berebut pesan iklan pencitraan, baik untuk citra partainya maupun citra sang ketua umum partai.
Kalimat-kalimat iklan pun disusun dengan bombastis. Ada yang mencitrakan dirinya agamis, anti korupsi, siap mengabdi dan sebagainya. Kalimat-kalimat patriotik untuk bangkit menjadi bangsa yang besar pun bertebaran.
Misalkan, “Bangsa ini telah lama tertidur ayo bangkit menyongsong masa depan!” Kalimat ini bukan rekaanku tapi ide dari sang pemesan. Aku tak tahu bagaimana caranya bisa bangkit sebab si tokoh tak merinci program kerjanya.
Ada lagi kalimat bertuliskan, “Untuk Kesejahteraan Bersama.” Yang ini aku juga tidak mengerti. Kesejahteraan bersama maksudnya bersama siapa. Bersama keluarga, handai tolan atau kolega. Kalimat ini pun bukan ideku.
Lain partai, tertera pula kalimat, “Kita wujudkan pendidikan gratis, kesehatan gratis.” Sambil mengerjakan iklan ini aku tertawa sendiri. Apa iya? Begitu benakku bertanya. Rasa-rasanya kalimat seperti itu telah puluhan kali terdengar tapi yang gratis cuma telinga yang mendengar. (Maaf yang ini juga bukan iklan ideku).
Kebanyakan dari mereka yang memasang iklan memang telah mempersiapkan konsep mereka. Aku tinggal mengerjakan. Bagiku, tak masalah. Yang penting setiap pengerjaan ada imbalan. Dan, itu dibayar tepat waktu. Sebab, dulu aku pernah mengalami kejadian tak mengenakkan. Sebuah partai yang lumayan mapan mengorder kepadaku agar dibuatkan stiker berlambang partainya. Dengan janji-janji melambung si pengorder memberi gambaran keuntungan sekian juta rupiah buatku. Aku menggarap order tersebut.
Tak sampai sebulan pengerjaan pembuatan stiker selesai. Aku menunggu. Biasanya pembayaran akan dilunasi ketika semua orderan beres. Satu hari. Dua hari… aku masih bersabar. Memasuki hari ke 10 aku mulai gelisah dan juga curiga. Tak biasanya pelunasan pembayaran lewat 7 hari setelah pengerjaan.
Hari keduabelas kesabaranku habis. Akupun berupaya mencari tahu. Kuhubungi nomor telepon sekretariat partai. Jawaban yang kuterima sangat simpel, aku dianggap ikut mensukseskan kegiatan sosialisasi partai, maka kerjaku tak perlu dibayar.
***
Empat hari sudah aku lembur mengerjakan pesanan baliho untuk kampanye sebuah partai. Tidur dan makanku jadi tak teratur. Biasanya kalau hidupku mulai tak teratur istriku akan cerewet mengingatkan jam tidur dan jadual makanku. Tapi kali ini tidak. Istriku mahfum, uang sekian ratus juta rupiah jangan sampai melayang. Maka akupun mendapat “restu” untuk begadang.
Namun, daya tahan tubuh pun ada batasnya. Sore di hari ke empat pengerjaan mataku tak lagi mampu menahan kantuk. Kupaksa-paksakan agar mataku terus melotot tetap tak bisa. Tubuhku menuntut aku untuk beristirahat. Kutinggalkan pekerjaanku lalu akupun mencari tempat yang nyaman untuk rebahan.
Tak sampai lima belas menit tertidur, aku tersentak bangun. Terbelalak kupandangi sekelilingku. Loh aku berada di tempat asing. Seperti padang pasir tapi tak terlalu panas. Aku bingung, tempat apa ini. Hamparan rumput hijau terbentang dihadapan tapi kok ada kabut atau lebih cocok dikatakan seperti butiran salju putih.
Aku berteriak memanggil nama istriku, tak ada sahutan. Ketakutan mulai merambati hatiku. Aku jadi ingat rumah, dan ingin pulang. Tapi.. jalan pulang sulit kutemui. Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan arah jalan pulang. Tapi nihil. Semua jalan tetap samar dan membingungkan. Di depanku hanya ada kabut dan kabut.
Aku berlari serampangan. Belum lagi aku berrlari seratus langkah, kulihat ada sesosok bayangan manusia di depanku. Aku berteriak memanggil. Sosok bayangan itu berhenti lalu bergerak kearahku. Inilah harapan satu-satunya bagiku. Mudah-mudahan sosok bayangan ini mampu menuntunku kembali ke rumah.
Sosok bayangan yang kulihat tadi kini telah berdiri di hadapan. Aku kaget, tak percaya dengan penglihatanku. Sosok bayangan itu ternyata diriku sendiri. Aku bingung kenapa ini terjadi, berhadapan dengan bayanganku sendiri. Bayanganku menyeringai memandang diriku. Mengejek keberadaanku.
“Siapa kamu?” kuberanikan diri bertanya.
“Aku pengingatmu!” sahut sosok serupa diriku itu.
“Pengingat?!… Hei umurku belum 50 tahun, aku rasa ingatanku masih cukup baik. Jadi kupikir, aku tak butuh bantuanmu,” cerocosku tak mau kalah gertak.
“Entah kau suka atau tidak, aku memang harus hadir disini di hadapanmu!” sosok itu kembali bersuara.
“Untuk apa?” tantangku.
“Untuk mengingatkan bahwa apa yang kau kerjakan sekarang ini salah!”
“Salah?! Pekerjaan yang mana yang membuat diriku salah?” teriakku tak sabar.
“Membuat iklan!” sosok itupun berkata tegas.
“Hei bung jangan mengada-ngada. Apa yang salah dengan pekerjaanku sebagai pembuat iklan. Aku bekerja dengan cara halal dan aku tidak merugikan banyak orang!” aku ngotot membela pekerjaanku.
Sosok yang berdiri di hadapanku bungkam. Nah lu.. gak berkutik lu! Rutukku dalam hati. Sesungguhnya aku mulai tak sabar dengan basa-basi ini. Aku ingin segera pulang. Namun, karena merasa di atas angin, akupun mulai menikmati perdebatan ini. Aku ingin mengknock-out sosok yang menurutku sok tahu ini.
Kupandangi sosok serupa diriku ini. Bibirku mengembang, tersenyum mengejek. Sosok serupa diriku seperti menghela nafas. Wajahnya tiba-tiba muram. Lalu terdengar lagi suaranya. “Pekerjaan bung memang halal tapi bung lupa setiap kalimat yang bung torehkan di spanduk, pamflet di masa kampanye ini adalah kebohongan yang membahayakan. Bung menjadi corong dari kebohongan orang lain. Secara tidak langsung pekerjaan bung dalam masa kampanye ini seperti memberi legitimasi bagi ucapan yang tak pernah terbukti.”
Aku terbungkam seketika. Bicaranya yang seperti tanpa titik koma itu langsung menghantam sasaran, yakni kesadaranku. Ganti aku yang kini muram. Tak terfikir olehku bahwa aku pun sesungguhnya bertanggungjawab atas kalimat-kalimat atau janji-janji para kontestan kampanye yang aku publikasikan lewat pekerjaanku. Sosok serupa diriku kini tak lagi mengejekku. Pandangan matanya justru menyiratkan kesedihan.
Setelah menghela nafas panjang sosok serupa diriku berbalik dan berjalan meninggalkanku. Aku tersentak. Kukejar ia tapi jejaknya lenyap tak berbekas. Aku berteriak-teriak memanggil sosoknya. Tak ada sahutan. Tiba-tiba tubuhku terguncang-guncang. Lamat-lamat kudengar istriku memanggil-manggil namaku. Aku tersentak bangun. Kulihat istriku memandangi diriku dengan wajah cemas.
”Dimana dia?” tanyaku.
“Dia siapa?” tanya istriku heran.
Aku menggeleng. Tenggorakanku mendadak kering. Aku haus. Tapi aku tak berminat untuk minum. Aku masih takjub dengan kejadian yang baru saja kualami. Kudengar yel-yel kampanye di kejauhan. Mendadak aku jadi seperti memegang getah dari buah yang tak pernah kurasakan manisnya.***

Cibinong, 2023

Related posts

Leave a Reply