Kerumunan Anjing di Antara Mayat Membusuk

Cerpen: Sihar Ramses Simatupang

Read More

Frombenara frokanta, kombra bonarata…*)

Suara-suara makhluk hitam dan besar itu terus menggelucak di atas lumpur. Langit gelap, hujan terus basah mengguyur. Puluhan, bahkan ratusan lelaki terus menendang-nendang ribuan mayat berbau anyir darah. Ada kaleng berkarat, topi kotor, ember, panci dan mainan yang lusuh dan kotor, namun kembali basah oleh tetesan hujan.
Bau sesak, cairan nanah dan koreng berjejalan di antara derap sepatu ribuan barisan mereka, namun makhluk itu lebih mengerikan dari anjing-anjing. Terus berkeliaran, berkeliling dengan pandangan mata yang lebih kaku dari sebuah batu. Anjing! Anjing!
Ada burung gagak yang mengelepakkan sayapnya yang basah, berjuang untuk hinggap di atas mayat-mayat. Satu-dua melompat di tubuh yang telah kaku. Ini musimnya mereka buat berpesta-pora.

Elenearo srokanta frombakh..”

Teriakan apalagi? Bedebah! Jahanam! Sialan, anjing itu masih saja terus bergerak, berputar. Ada mayat orangtua yang terinjak tongkatnya.

###

Bedebah! Penjajah negeri ini! Makhluk hitam yang telah terkutuk menjadi iblis laknat itu, malah tambah asyik, berusaha membolak-balik mayat yang telah menyatu dengan lumpur. Mencari barang berharga, atau bisa juga curiga ada tersisa celah nafas kehidupan di antara mayat-mayat korban.
Area yang menjijikkan dan seram. Ini kuburan, namun belum pernah mengerikan dari makam biasanya. Kuburan yang dulu biasa dijadikan tempat peristirahatan buat pahlawan ini, sekarang malah jadi areal mengelimpangkan mayat-mayat putra tanah air. Mayat-mayat yang menggenaskan, yang tak layak kondisinya.
Daerah ini lebih mengerikan dari kuburan atau neraka dalam bayangan orang di dunia. Sebuah alam lain telah hadir begitu saja. Petir menyambar, mereka terus berteriak dalam bahasa-bahasa mantera yang tak jelas bagi para pejuang tanah ini.
Senjata dan kaki mereka berderap. Perjuangan degil dari laskar negeri antah-berantah. Berdebum di atas perjamuan kematian yang telah senyap. Mencungkil-cungkil dengan pisau atau senjata mereka, mengambil dan memunguti benda logam, cincin, batu mulia, atau benda apapun yang masih tersisa di antara tumpukan sampah-sampah manusia.
Dan senjata itu lagi-lagi berderap karena ditekan ke tanah, ada juga senjata yang mencucuki yang bergelimpangan. Pasti kesakitan ini pun telah sampai hingga ke roh-roh para pahlawan.

Kombra bonarata…”

Suara makhluk itu, kini berubah menjadi gaung nyanyian. Teriakan suara yang menggelegar menyaingi petir, bukan lagu, namun bernada sekalipun menyakitkan. Suara “tas-tas-tas” dari senjata yang diarahkan ke langit. Dua makhluk membuka tenda hitam dan membakar kemenyan yang diselip di antara ranselnya yang juga hitam. Asap mencerocos, di antara hujan. Langit terus murka. Tanah semakin menyatu dengan kulit mayat yang putih-coklat menghitam.

###

Sang Pencipta Semua.Makhluk telah marah. Tetapi mereka pasti tak merasa punya Pencipta. Tak seperti yang ada dalam kepercayaan bangsa ini. Kami punya Pencipta yang penuh cinta, tapi para penguasa dan penghisap sesama itu hanya memiliki tubuh dan otak keji, isi rencana mereka hanya pembantaian dan nafsu kejam. Mereka bahkan lebih mengerikan daripada anjing-anjing malam.
Waktu terus berjalan. Kaki-kaki kekar itu terus berjejak. Walau terus berputar, tapi mereka alpa mendekati aku. Aku telah tercekat sejak tadi, kaku bagaikan batu. Aku tak ingin mati, serasa ada panggilan Sang Pencipta mencegahku untuk ikut ke alam roh. Aku masih hidup.
Tubuh kurusku kini nyaris tak bergerak, tak bernafas. Pakaianku sudah menjadi kain berdarah. Antara baju dan celana sudah tak ada bedanya, tak berbentuk, karena koyak. Penutup kepala sisa kebanggaanku sebagai pemimpin saja telah melenyap.
Tak ada lagi teriakan menggelegar sebagai seruan buat rakyatku untuk menyerbu penjajah. Itu adalah suara kemarin, saat mereka kuserang dari markas mereka, hingga akhirnya ganti kami yang terdesak sampai ke kompleks pekuburan ini. Aku, seorang pemimpin yang gagal, namun seakan ada bisikan bahwa perjuangan ini belum selesai.
Tubuhku hidup, tapi semangat telah mati, dan jiwaku pergi bersama barisan mayat lain yang telah gigih mempertahankan negeri ini dengan sebuah makna kebebasan atas perjuangan berdarah.
Aku terus menatapi anjing-anjing itu. Tiga mayat di sekeliling kepala dan leherku, melindungi diri dari pandangan mereka. Suara menggelegar itu terus terdengar dan mencekamku. Lamat, tapi pasti aku mempertahankan agar nafas ini tetap bekelanjutan.

###

Marahkah Sang Pencipta kepada kami? Atau menyerah pada kejahatan mereka? Namun kenapa masih kasihan kepada seorang korban, yang kebetulan adalah diriku?
Tubuh pemimpin yang tak punya harga diri ini lalu berguling-guling. Di antara kelemahan dan putus asa sejak petang kemarin. Tanah seluas ratusan hektar, kini cuma jadi ladang pembantaian, yang masih dijaga ketat oleh anjing-anjing neraka. Sulit bagiku untuk keluar dan menembus batas penjagaan.
Sejak kemarin, mereka telah dua kali mencucuk pahaku dan betisku hingga luka ini makin parah. Seluruh tusukan yang menghujam tak mengena tepat karena aku terlindungi di antara ratusan mayat-mayat di sekeliling. Tusukan menyakitkan, di antara luka yang sudah perih membakar sejak dua harian.
Panas matahari, ribuan lalat, gangguan kaok gagak, dan dingin lumpur dari tanah yang basah karena hujan adalah derita yang mendekap. Darah di pipi telah menjadi warna kulit, rambut dan tubuh kini terbalut tanah hitam, kupasan kulit orang lain bahkan telah membungkus sekujur badanku.
Aku pingsan lebih dari dua kali, entah kapan mulai memburam dan kapan mulai sadar kembali. Kematian serasa dekat, namun tangan-tangan Sang Pencipta tak kunjung menjemputku ke dunia lain sejak kemarin malam.
Aku kembali melirik dengan bola mata yang keruh. Makhluk itu masih terus saja menikmati upacara laknatnya. Bernyanyi dengan suara tambur dari bibirnya yang besar dan hitam, ada genderang yang lamat mulai datang dari kejauhan dan perlahan makin mendekat.
Akan ada peristiwa lain, entah apa lagi yang akan terjadi.

###

Seorang makhluk hitam yang paling gagah di antara yang lain, datang menghampiri ratusan makhluk bersenjata itu. Pakaiannya lengkap, senjatanya menempel di tangan, pinggang dan kaki. Dia dilengkapi dengan tameng dan tahta kebesaran. Kendaraan berwarna gelap mengangkutnya. Melintas di antara tumpukan mayat-mayat.
Kontan, suara dan gaung mereka pun agak melemah, rentetan tembakan berhenti namun gaung berdengung dari bibir-bibir anjing itu masih tersisa.
Ketua terbesar yang tampaknya raja dari anjing-anjing itu berdiri di atas kendaraannya. Berteriak dengan tongkat pendek yang digoyang kesana-kemari. Aku mengintip, di antara tubuh mayat-mayat yang menghalangi, aku pun masih bisa menatapnya. Gerakanku sangat lemah, namun kesadaranku bangkit di antara air hujan bercampur darah yang kujilat di bibir.

Frombenara…”

Dia berteriak, suaranya nyaris membuat jantungku lepas. Diacungkannya tongkat pendek yang digenggamnya ke langit. Petir bersahutan, beberapa gagak mulai ada beberapa yang mengungsi di atas ranting pepohonan kamboja di pekuburan ini.
Langit hitam, lebih hitam dari darah basi yang bertumpuk di areal pekuburan. Namun teriakannya masih menggelegar, bahkan lebih serak dan menyayat. Kemarahan atau memang sebuah perintah, aku tak tahu persis.
Dia meniupkan sebuah terompet, lantas semua makhluk anjing itu kemudian bergerak teratur meninggalkan mayat yang telah puas dibolak-balik. Mereka pun membentuk barisan teratur. Berusaha rapi dan seirama. Kaki menyepak mayat-mayat yang menghalangi. Berderap lagi, sepatunya kemudian membongkar-bongkar tanah. Kembali dalam langkah yang juga teratur dan seirama.
Aku menahan nafas. Lebih baik menjadi mayat, daripada diketahui bahwa aku masih hidup oleh sekitar lima anjing yang hilir-mudik di sekelilingku. Beberapa rencana mulai terbit di otakku, aku belum kalah. Masih jauh perjalanan buat perjuangan dan penderitaan putra-putra negeri ini.
Refleks, duniaku kembali menghitam. Aku siap menjelma menjadi mayat, ketika salah satu dari makhluk itu melintasiku. Tak lama, karena akhirnya dia juga pergi bersama barisan lainnya dan ikut di belakang si pemimpin yang terus berdiri di atas kendaraannya. Aku menutup mata.
Kini, tak ada teriak kegirangan, atau hati yang lega seperti pada keberhasilan perjuangan empat hari yang lalu. Kugelosorkan tubuhku di antara mayat-mayat yang semakin membuatku merasa akrab. Mayat-mayat temanku, saudara, setanah air, senegeri, para pemuja Sang Pencipta yang penuh kasih sayang. Sekaligus juga Pemarah dan Penghukum bagi yang jahat dan keji.
Inilah nasib sebuah negeri, sejarah negeriku yang tak diperdulikan oleh ratusan anjing-anjing itu, sebab kami kini tak beda dengan kuburan. Bahkan lebih mengerikan daripada seonggok tanah makam.

###

Kugulingkan tubuhku di antara tanah, darah anyir dan mayat-mayat. Tak ada lagi bau, sebab tubuh dan hidungku juga telah menyatu dengan daging busuk yang anyir. Tubuhku berkeriut, lemah namun bergerak. Aku tak berdiri, melangkah apalagi berjalan. Tapi gulingan ini telah membuatku bergeser beberapa meter dari tempatku sebelumnya.
Di antara nisan, di antara makam, aku adalah daging yang hanya punya sisa getaran saja. Tapi bukan kehidupan, semangat ini tak lagi bernyala, hanya sesak pahit dan kesuraman.
“Menangislah Sang Pencipta, untuk sebuah negeri…”
Airmata sudah tak ada. Namun doa serakku beriring dengan keriutan dada dan tubuh. Aku berguling di antara areal ratusan hektar ini. Lautan mayat belum juga selesai kuseberangi. Perjuanganku untuk berdiri belum berhasil. Lepas dari lautan mayat, perbatasan pun masih jauh.
“Balaskanlah dendam ini, Sang Pencipta. Buat tanah yang masih suci. Kami putramu, tanah dan negeri ini masih mengisi jiwa kami…”
Aku terus bergerak. Aku harus hidup. Bukan karena pengecut. Aku juga heran, tusukan ini saja tak berhasil membunuhku. Memang sakit, tapi sialnya tak juga bisa membuat nyawaku putus.
Tidak, penduduk negeriku memang masih bisa dibangkitkan. Perjuangan tak mengenal kata kalah apalagi selesai. Aku masih ingin memimpin perjuangan dan rakyat masih tersisa di sana, di antara hutan, di antara semak atau di antara puing-puing bilik dan gubuk pinggiran perkotaan. Mereka masih menunggu aku atau pemimpin lain yang masih punya dendam berkarat buat si penjajah negeri ini.
Aku melangkah lunglai dan terseok. Tak perduli, bila di perbatasan nanti, ternyata anjing-anjing penjajah negeri itu masih berjaga dan mengawasi setiap orang yang lewat. Aku sudah nekat dengan tujuan, melintasi mayat para pejuang, melintasi areal pekuburan kesuma bangsa, dan melintasi anjing-anjing patroli yang keluar tatkala malam.
Di antara sirine jam kota, aku telah berhasil melangkah lunglai di antara jalan raya. Kepalaku kubalut dengan kain, siap dengan dua kemungkinan: menjadi pemimpin perjuangan atau cecurut yang mati dihunjam anjing-anjing penjajah.
Di persimpangan jalan di malam yang hitam, sesosok tubuh menyembul di susul kawan-kawannya yang lain. Aku tak tahu, bayang-bayang rakyatku yang menanti di ujung jalan itu, atau mata-mata anjing penjaga yang siap dengan moncong senjatanya. Namun, takut ini sudah hilang, yang tersisa hanyalah kepastian dan kenekatan.
Di antara tatapan mata yang nanap, tubuhku tetap melangkah gontai ke arah mereka yang berdiri di persimpangan jalan itu. Dalam hati, aku bertanya, rencana apa yang telah siap disusun oleh Sang Pencipta. Aku manusia, bukan orang suci dan hanya bisa pasrah. Karena itu kuserahkan saja semua yang terjadi, sebab beberapa detik lagi semuanya pasti terjawab.

Jakarta, 2002

Related posts

Leave a Reply