Balige, Festival dan Kebudayaan Batak

Foto-foto: Dok. Panitia FLB 2022 – PEGIAT SASTRA NESTOR RICO TAMBUN DI ACARA FESTIVAL LITERASI BALIGE 2022.

Festival Literasi Balige 2022 sangat strategis. Festival ini dibutuhkan tak hanya untuk Balige, masyarakat Batak, tapi juga masyarakat Nusantara.

Pagi yang bening diruyak oleh keramaian pasar di Balige. Dari mess di Jalan DI Pandjaitan No.10, Napitupulu Bagasan, Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara (tamu perempuan menginap di wilayah lain), saya dan beberapa sastrawan termasuk Nestor Rico Tambun, Esha Tegar Putra, Saut Situmorang, bersama jurnalis Toni Hutagung dan Jumpa Manullang, berjalan ke keramaian pasar. Mencari mie gomak. Merasakan suasana kedai di tengah masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Begitulah, Lae (Lae adalah sapaan ke sesama lelaki Batak). Festival Literasi Balige yang pertama ini memang berjalan sebagaimana adanya. Tapi yang bikin kita terharu adalah adik-adik kita yang muda-muda itu, bilang ‘Bang acara ini semoga berlanjut di tahun mendatang ya…’,” kata Ketua Panitia Festival Literasi Balige (FLB) 2022, Patrick Lumbanraja, yang juga pendiri Rumabalige, menemani kami berburu mie gomak pagi itu, Jumat (28/7).

Dia mengakui banyaknya manfaat dari sebuah festival yang berkelanjutan. Gelaran festival literasi seperti juga Ubud Writers and Readers Festival, Borobudur Writers and Cultural Festival, Makasar International Writers Festival, memang tak hanya melulu bicara soal sastra tapi juga berpretensi mengulik potensi daerah itu, termasuk berdiskusi dan mengolah kekuatan kebudayaan dan peradaban wilayah tersebut.

SUASANA DI GOTIL CAFE

Senada dengan Patrick, Manager Program FLB 2022, Ita Siregar, sejak prapembukaan acara, telah membentangkan beragam kegiatan minimal di lima titik  kota Balige. Dari mulai  acara pergelaran seni tradisi gondang oleh Sarimpang Art, tarian dan lagu Batak, pembacaan puisi di depan publik Taman DI Panjaitan, Balige, Poetry Slam di Gotil Cafe, Sastra Masuk Sekolah, peluncuran buku Memori Kota Balige, pargelaran berbagai genre seni dan kebudayaan di Museum TB Silalahi Center.

Para pegiat sastra ini pun sempat berkunjung ke beberapa titik lokasi bersejarah di Balige seperti Makam Sisingamangaraja XII, Kompleks Gereja HKBP Kota Balige, Tugu Nagabaling Sonak Malela, Kilang Tekstil dan singgah ke Desa Lumbangaol, workshop kepenulisan, diskusi literasi finansial hingga kuliner dan banyak hal lainnya digelar di acara FLB itu.

Inilah yang menarik dari sebuah festival literasi. Festival kebudayaan. Kebudayaan dan peradaban dari sebuah masyarakat tempat festival itu digelar. Mengutip pendapat pengamat budaya legendaris Koentjaraningrat tentang kebudayaan seperti bahasa, pengetahuan, organisasi sosial, peralatan hidup dan teknologi, mata pencaharian atau ekonomi, religi dan kesenian.

Semua itu berpretensi mengundang semua pihak untuk menggelar perbincangan, sarasehan, seminar, untuk ikut di forum itu. Para ahli antrologi,  linguistik, filologi, arkeologi, arsitektur, sejarawan, pakar aksara dan bahasa, dialog spiritual dari berbagai latar akademis, dari kota, provinsi, negara lainnya untuk datang mengupas kebudayaan Balige, Batak dan Nusantara.

Untuk Balige

Dengan latar itu, sinergi tiap pihak baik seniman dan budayawan secara personal, kekompakan kepanitiaan, pemerintah kabupaten hingga pemerintah pusat, lembaga swasta hingga media massa untuk gerak dan gaung FLB 2022 yang digelar sejak 27 Juli hingga 31 Juli kemarin. Dukungan penuh dari Kepala Daerah Kabupaten Toba, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi, Yayasan Bogas ni Ruma Balige dan pihak lainnya, dapat berkelanjutan pada festival-festival mendatang.

PENYAIR ESHA TEGAR PUTRA DI SEBUAH KELAS KEPENULISAN

Seperti dalam dan luasnya Danau Toba, Tao Toba, demikianlah betapa luasnya sedimentasi kebudayaan Batak. Seperti kekayaan aksara ahamanarata dst, serat atau surat kitab tradisi adalah kekayaan tiada duanya untuk tiap generasi dan dalam tiap dimensi. Generasi kini dan generasi mendatang.

Di FLB 2022, penampilan Sarimpang Art, tortor Julia Manurung, andung Cisilia Siagian, penenun Batak , adalah para penjaga tradisi Batak yang setia mengisi sebuah kebudayaan dan peradaban.

Marsipature huta na be, merawat kota dan kebudayaan tradisi adalah keniscayaan bagi kita ketika melewati fase modern dan memasuki fase kontemporer dan digital. Sebuah jati diri, tetap penting, meski di arus gelombang global sekali pun.

Demikianlah antusiasme mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri yang tergabung dalam Sarimpang Art ikut memeriahkan acara. Ada juga Abram Christopher S, Dian Nangin, Deasy Tirayoh, Herlina Siahaan, Fitri Manalu, Mariana Simanjuntak, Saut Poltak Tambunan di hajatan bersejarah sekaligus diharapkan terus berlanjut di masa mendatang.

PARA PEGIAT SASTRA JELANG ACARA FBL 2022

Saya yang bersama Deasy dan Esha diundang panitia FLB 2022 – dan dukungan dari Perkumpulan Penulis Alinea – mengharapkan juga beberapa nama dan beberapa wajah seniman dan budayawan senior di Balige dan di sekitar Balige dalam kegiatan festival ini di tahun-tahun mendatang. Sebut saja sastrawan Idris Pasaribu, pegiat sastra dan opera Batak Thompson Hs, Budi P Hutasuhut (Budi Hatees), Heliana Sinaga, Marina Novianti, Muhammad Raudah Jambak, dan banyak nama seniman lainnya yang berada di seantero Sumatera Utara.

Di antara bertalunya gondang, pemandangan visual ulos, keindahan pemandangan Danau Toba, menjulangnya ruma gorga, kita harapkan festival ini tetap berlanjut. Festival semacam FLB 2022 sangat dibutuhkan tak hanya untuk Balige, masyarakat Batak, tapi juga Nusantara dan dunia. Tentu dengan dukungan lebih banyak lagi sastrawan dan pegiat sastra di seputar Balige. Untuk kebudayaan masyarakat Batak dan Nusantara pada umumnya. Semoga berlanjut dan selamat untuk FLB 2022. Horas jala gabe…@

Pos terkait

Tinggalkan Balasan