Menyusur Jejak Puisi Adri Darmaji Woko, tentang Karakter dan Orisinalitas

"Kado yang Terbungkus dalam Rumah Kata", buku antologi puisi karya 96 penyair Indonesia. yang diterbitkan pada 4 Juli 2026 untuk merayakan ulang tahun ke-75 penyair senior Adri Darmadji Woko..

Puisi yang dihantar lewat WhatsApp oleh Badri AQT kepada saya, terasa sebagai gong mengalun menghentak bahkan menggedor perkembangan kesusasteraan khususnya perpuisian terkini. Ya, karya Adri Darmaji Woko, adalah karya mewakili sejarah sastra Indonesia di masa 1970-an. Masa ketika orang berkarya tak hanya memperhitungkan bentuk namun juga visi dan sikapnya.
Pergulatan kekaryaan di masa 1970-an adalah pergulatan setelah masa break pertarungan ideologi – bukan berhenti.

Karya bertema kerakyatan lelah dan terpukul oleh kekuatan kekuasaan kapitalisme baru mencengkram Indonesia. Semua tema kerakyatan yang terlalu serius, keras, kelewat ideologis, telah dihabisi. Para sastrawan merunduk. Namun tak mau berhenti untuk bersikap terhadap kekuasaan. Apa daya dan apa cara?
Di masa ketenangan yang begitu mendebarkan dan menguji nyali inilah, dalam pandangan saya, banyak muncul kaum muda yang agak banal, mbeling, urakan dan sedikit ugal-ugalan. Intinya, mereka tak keras tapi mereka ogah bercumbu dengan kalangan mapan, para jetset terbaru dalam sejarah panggung kekuasaan ekonomi, politik bahkan kebudayaan Indonesia.
Mereka bukan angkatan ideologis yang telah dibungkam. Bahkan bukan underbouw partai apa pun. Sudah sekali, jangankan untuk membungkam, untuk menghardik mereka pun sangat sulit.
Mereka sebenarnya kelewat pintar. B ukan hanya di dalam urusan menghindar karena sejarah pergulatan itu telah usai, namun mereka tetap menjalani kemasyarakatan yang tengah bangkit kembali dan mencari bentuk secara lebih bebas. Diksi mereka pun lebih merdeka. Tapi mereka nyatanya tetap kritis.

Read More

Yang pasti, mereka bukan pengecap ceceran kekuasaan setelah pemerintahan baru pada masa itu jaya.

Cerita tentang Bapak Tua
Yang Meninggal Dunia di Pagi Tadi
Disampaikan oleh Seorang Teman
Yang Katanya Mau Jadi Penyair

Ini benar-benar merenyuhkan.
Seorang lelaki tua telah mampus di perempatan dekat
traffic light.
Perutnya cekung seperti kacamata yang dipakai untuk
melihat bagi mereka yang rabun dekat.
Seekor lalat tenggelam dalam borok yang rupa-rupanya
menjolok seperti perempuan seksi.
Aku betul-betul melihat dari jarak dekat.
Bagaimana nasib kita sekarang kalau kita begin-begini
saja.

Jangan-jangan kita akan mampus seperti anjing di tempat
sampah dengan kaki mengangkang.

1974, Sumber: Horison (Oktober, 1975)

Di sinilah, kekuatan teks baik estetik dan tematik mereka mengalami dinamika yang dashyat. Mbeling tapi perduli. Urakan tapi bertanggungjawab. Ugal-ugalan tapi tajam membela kaum bawah.
Membaca usia penyair dan puisinya adalah tak sekadar melihat usia dan mengucapkan ulangtahun kepadanya – meski HUT itu juga penting. Tapi membaca usia seorang penyair adalah juga membawa sejarah sosial pada saat dia hidup juga peristiwa apa di masyarakat selama puisi itu ada. Dia adalah bagian dari habitus dan ekosistem di masa masa dia hidup dan berkarya.
Syahdan, generasi penyair pada masa 1970 bahkan 1990 adalah generasi yang sulit karena memiliki traumatis sosial politik tertentu, namun juga penyelamat sekaligus penemu yaitu membuat formula dan ramuan terbaru apa untuk perduli pada masyarakat namun juga tetap kritis kepada pengusaha. Selain itu, bagaimana tetap apik dan keren di dalam berkarya.
Di pemahaman inilah, kita dapat menerima berbagai bentuk penemuan, pilihan, karakter dan kekhasan dari seorang Rendra, Remmy Silado, Yudhistira ANM Massardi, Hendrawan Nadesul, Dami N Toda juga Adri Darmaji Woko. Remmy di dalam mbelingnya mereka lebih rileks tapi tetap kritis. Rendra selain memakai banyak metafora, nakal juga urakan di dalam berkarya. Dami N Toda lebih mengambil simbol alam. Yudhis dan Adri, juga tampil lebih rileks, dari berenang di perumpamaan liris, bercinta dengan gaya sesuka mereka, terkadang juga dengan guyonan ala mereka.

Perarakan

Perarakan itu berangkat sore hari dan rumah-rumah menutup pintunya, tetapi gumam mereka terdengar di antara serbuk bakaran menyan.
Kau yang kami iringkan usah lagi menoleh ke belakang, sebab kenangan tak akan lebih tua dari kita.
Semua akan ikhlaskan kalau kau tidak pulang malam-malam melempar segenggam tanah kuburan.
Tapi tanah yang kemersik masuk ke celah genting mengenai pelupuk mataku, sehingga terbayang kembali perarakan itu tak kunjung selesai.
1975 (Sumber: Horison, Agustus 1977)

Semua keseriusan, guyonan, bait liris dari para penyair di angkatan itu bukan guyonan verbal. Tapi ungkapan yang mendalam. Bahkan penuh dengan spiritualitas, perlambangan, kelihaian dikskemudian disajikan seolah ringan dan sederhana.

Ada Julur-Julur Putih Berwarna

Bagai bunga yang dirambati sepi yang senantiasa
menetes satu dua takikan-takikan
berwarna julur-julur putih seperti julur rama-rama
yang senantiasa dirambati sepi yang senantiasa.

Bagai bunga: sepi merambati tanpa angin yang goyangkan
mahkotanya. Takikan-takikan yang menetes satu dua
dengan hitungan yang terbata-bata seperti kanak dengan
gembiranya belajar mengucapkan: Alifbata.

Julur-julur warna putih seperti julur rama-rama
yang sok sibuk bekerja tanpa pulpen
bermula dari tangkai merambati keseluruhannya
menjamahi bunga yang bersedia dicumbu tanpa tawaran.

1973, Sumber: Horison (Maret, 1975)

Diskusi yang saya provokasi dengan makalah ini adalah salah satu cara untuk menyadarkan “kesederhanaan yang berbohong” pada para penyair senior di sekeliling kita. Mereka tak hanya bermain atau mempublikasikan teks semata. Mereka sejak dulu telah punya cara di dalam menyikapi setiap simpang sejarah dan setiap gejala sosial masyarakat. Mereka lahir di dalam puisi yang perduli pada sekelilingnya. Lalu mengambil sikap, mengambil konsep mereka untuk menjadi karakter. Tentu saja, karya mereka orisinal! Inilah karya Adri Darmaji Woko:

Seminggu di Banten Selatan

Bersama naik truk menyisir Teluk Lada, kulihat bapak itu berpegangan pada tumpukan barang dengan wajahnya mengeras diterpa angin dari depan.
Seperti juga mereka, aku tak bisa diam saja berjalan sepanjang perkampungan Teluk Lada di pasar tempat mereka bertemu dan mereka memandang padaku sebagai orang asing yang terlempar dari Jakarta.
Kesenanganku pada mereka adalah pada saudaraku di mana aku menginap dan senyum tuan rumah bagai senyum ramahmu.
Kehidupan mereka sehari-hari yang menjadikan butir pada di belakang rumah mereka rasanya melupakan nasib diriku yang rasanya bagai benalu.
Pada malam yang dingin dan sepi kudengarkan radio dan aku menyetelnya pada gelombang demi gelombang untuk mempermainkan sepi. (barangkali belu sampai padamu kabar, di mana sampan nelayan Teluk Lada hilang dibawa ombak dan beberapa perempuan menangis kehilangan suami tercinta).
Lalu pada setiap aku pergi ke pantai kudengar suara ombak bergemuruh seperti suara panggilanmu supaya aku kembali, tapi juga bimbang dengan Jakarta yang bising maka rasanya aku ingin hidup saja di pedalaman ini dengan saudaraku petani.

1972, Sumber: Horison (Oktober, 1974)

Amboi, betapa syahdunya kehidupan petani pada tahun itu.
Latar, karakter, gaya, pencarian bentuk, sikap terhadap sejarah sosial inilah yang menjadi keistimewaan mereka dalam menempatkan dan memilih bentuk karyanya. Hal yang menjadi barang mahal di tengah kondisi digital sekarang – di satu sisi kondisi digital, di satu sisi adalah penderitaan hidup kalangan marjinal yang tak dapat dielakkan dan tak dapat didistorsi semata oleh kemajuan teknologi canggih dan halusinasi media.
Sementara artifisial intelegence malah semakin mengaburkan bentuk sikap dan pencarian teknik ini yang semakin jauh. Mampu memainkan dunia canggih, berbicara tentang piranti, namun tak lagi mampu menembus jembatan tipis kenyataan yang ada di depan penyairnya. Apakah juga strategi teknik di antara dua dunia, nyata dan digital saat ini? Bagaimana juga memasang sikap dan bentuk dalam kondisi dua dunia yang sangat frontal terutama dalam keseharian masyarakat di negeri kita saat ini?

Mari kita Simak karya kawan seangkatannya,l Hendrawan Nadesul:

Semut dan Roti

semut duduk di atas roti
di dalam roti ia telah tidur malam dua kali
padahal yang punya roti baru mulai mereguk kopi
kini semut telah mati di dalam roti
sementara yang punya roti baru selesai sarapan pagi
menikmati sepotong roti!

1974, Sumber: Horison (Februari, 1976)

Terkadang, kebebasan dan kemerdekaan pada saat itu, meski terkadang dapat bernuansa liris dan individual – membathin dengan suasana cinta dan mengharu biru, mereka akan tetap membaca perubahan zaman yang kembali resah. Seakan mengingatkan kembali pada kekecewaan seorang Soe Hok Gie mendapati zaman idaman jadi fase yang tak terbayangkan – keresahan yang nampak pada bukunya, Catatan Seorang Demostran.
Mari kita nikmati juga karya Yudhistira ANM Massardi, yang bertajuk Rudi Jalak Gugat, secuplik saja, yang dibuat agak lebih belakangan yaitu tahun 1980:

Anak-anak zaman yang slebor
Gentayangan bagai ruh penasaran
Beramai-ramai menghadang masadepan
Di setiap perempatan jalan

“Merangkaklah keangkuhan, jika ogah terempas!
Menepilah kesangsian, jika ingin punya arti!”

Mereka membalikkan seluruh nasib yang simpang-siur
Untuk sementara, cita-cita biarkan baur
Satu generasi mengepalkan nurani
Menggugat nyali yang lama dipupuri

Rudi Jalak tak lagi bertanya
Alam sudah tak sabar dan jadi sangar
Cuaca awut-awutan, bencana jadi obyekan
Siapa orang yang tak senewen?

Rudi Jalak memimpin seluruh barisan
Membabat angan-angan, mengganyang kebebasan
Berontak pada sekolah
Kaca-kaca jendela dipecahkan

Para guru tak berdaya
Orangtua hanya ternganga
Dan polisi semata saksi
Sedang korban: urusan belakang!

(Jakarta kelabakan!)


November 1981-Januari 1982, Sumber: Rudi Jalak Gugat (1982)

Juga sepetik puisi dari Dami N. Toda, pada puisinya berjudul Cirebon:

masih percaya kau pada kata?
manis
kota-kota telah dijagal
kata-kata pun diloak di DPR
telanjang tanpa kata

rahim kuburan mengulum batu nisan
wanitamu sebuah puisi yang hilang
lelakiku penyair yang tertikam
mayat kata dan kota akan terus bertambah

Cirebon, Oktober 1970, Sumber: Buru Abadi (2005)

Sangatlah menarik membaca puisi karya Adri Darmaji Woko dengan pilihan beragam dari karya penyair yang seangkatan dengannya itu. Jelaslah terlihat, bahwa selain pencarian bentuk teknik, pencarian terhadap isi atau tematik atau visi penyair atau sikap social, atau pilihan terhadap kondisi di sekitar mereka, adalah bagian dari perpuisian yang mereka bangun. Antara Adri, Yudhis, Hendrawan hingga Toda, jelas memiliki bentuk yang berbeda namun mereka tak hanya membaca sudut interior pikiran dan batin mereka tapi juga eksterior kehidupan mereka di tengah masyarakat dan kondisi carut-marut sosial-ekonomi lingkungannya.
Sebagaimana mereka, menarik melihat selain karakter teknik dan bentuk pada buku yang meruipakan bentuk penghormatan terhadap Adri Darmaji Woko. Namun juga nilai dan sikap para penyair terkini saat menyapa seorang Adri yang sudah menjalani sejarah Panjang ini. Nilai, paparan dan sikap semacam apa yang dituangkan para penyair terkini saat menyajikan karyanya untuk menyapa seorang Adri Darmaji Woko. Tentu ini akan menarik. Karena dengan zaman yang berbeda, sesungguhnya perjalanan negeri dan kota ini akan terus memberikan kompleksitas yang memancing para penulis puisi akan memberikan respon dan sikapnya.@

Related posts

Leave a Reply