…Suara orang batuk-batuk./ Ada 20 lukisan sedang Dipamerkan. /Aku membuka katalog, seperti /Membuka rekening bank. /Sebuah garis meluncur /Mencari garis-garis besar haluan kenegaraan//
Orang-orang bertukar cerita di depan pintu Masuk./ Bercerita tentang investasi-investasi Kebudayaan dan aliran seni lukis yang tercemar /Polusi udara. /Beberapa lukisan telah menjadi Spot foto dadakan./ Apakah kemiskinan dan Kecemasan harus dipamerkan juga? /Tetapi /Aku melihat bunga dan padi tumbuh di atas Kanvas. /Padi-padi yang merunduk takzim//
(Dari buku puisi “Garis Lurus”, sajak berjudul “Abstraksi Ruang Pameran”, karya Iman Sembada halaman 2)
Para penyair selain mengolah teknik kata juga mengolah tematik. Tematik itu sudah sering dilakukan. Namun bagaimana tematik juga digunakan dalam teknik penyampaian berpuisi.
Tema tentang tumbuhan. Sebagaimana pernah dilakukan oleh penyair F.Rahardi atau Eka Budianta. Berbagai cara dapat dilakukan oleh penyairnya. Misalnya, diksi-diksi lingkungan atau tanaman tadi, bukan lagi sebagai obyek tetapi sebagai subyek. Tanaman itu berkehendak di tengah tanah, cuaca, gerimis atau panas. Dia tak hanya sebagai perintilan atau aksesoris tapi dia hidup dan berkehendak di alam kata atau alam puisi. Jadi, penyairnya dapat menggunakan mata tanaman sebagai penyampaian berpuisi.
Selayang ungkap saja, kita mengenal cara penyair Afrizal Malna yang menghidupkan instalasi kota – menggabungkan mesin, modernitas dan manusia jadi sejajar dalam instalasi kata yang bunyinya enak namun diksi kata melompat-lompat, mungkin memiliki pola di tengah lontaran puisinya.
Atau penyair Sutardji Calzoum Bachri, yang atas nama melepaskan kata dari makna, mengambil arena “permainan” (yang dulu sakral dan spiritual) mantera yang memiliki bunyi menarik ala onomatope, efoni atau ala dukun/ tabib yang berucap unik.
Usaha keunikan yang diambil Iman Sembada itu bisa saja menarik. Mengambil semiotika yang kerap dipakai oleh para perupa. Jadi, imajinasi dan bayangan visual para seniman rupa, ditarik Iman Sembada menjadi diksi atau paduan kata.
Tentu saja, garis, bidang dan warna akan memiliki makna baru. Kata itu lentur. Kata itu akan bersiap hadir dalam makna lain bagi penyair dan pembacanya. Kata “garis” akan menjelma sebagai makna baru saat bertemu dan bercumbu dengan kata “hujan”, “laut”, sebagai “padi”.
Kata “garis” akan lentur permaknaannya, sebagai ungkapan konvensional atau sebagai …. contohnya pada pertemuan kata “garis matamu”, “garis hidup”, “hakim garis” juga garis, bidang dan warna.
Iman Sembada juga akan dilanda oleh pertanyaan, ke aura atau latar atau imajinasi apa kata “garis” satu contoh saja kata yang menjadi leksikon dan bagian dari kata dunia seni rupa, ingin dia labuhkan dan daratkan. Tetap saja, niscaya dia akan bersandar ke berbagai latar biografi seorang Iman Sembada.
…Aku membaca surat cinta/ Yang pertama kutulis. /Surat cinta yang tak pernah /Aku kirim kepada siapa-siapa. /Tak ada tombol /Untuk kematian di dinding galeri. /Seseorang itu /Masih menulis tentang aku yang merancang /Akan berpameran tunggal. /Lalu aku merasakan /Getaran dari lantai yang retak-retak. /Orang-orang Berlalu-lalang, seperti proposal-proposal berdaki //
Sungai-sungai terus mengalir. /Mengalirkan 24 jam peristiwa-peristiwa ke kanvas ukuran /60 x 90 centimeter tanpa blitz kamera. /Malam /Seperti baru disusun kembali. /Serupa lampu /Di tengah ruang, aku lebih memilih untuk tetap /Menyala. Seseorang masih menulis tentang aku//
(Dari buku puisi “Garis Lurus”, sajak berjudul “Esai-esai Seni Rupa”, karya Iman Sembada halaman 8)
Kotakah, pedesaan, alam rayakah. Mungkin saja, dia akan mendaratkannya pada banyak kata dalam perbendaharaan seni rupa lainnya. Atau kata di perbendaharaan seni rupa ini, semata hanya tempelan dari semiotik yang sudah hadir dalam puisi sebelum dia gandrung pada teknik permainan semiotik/ kata ala seni rupa.
Apakah dia berhasil mengangkat banyak idiom seni rupa atau dia akan kelabakan dengan kekuatan semiotik lain sehingga “garis”, “bidang” dan “warna” akan kalah untuk menjadi subyek melainkan hanya sebagai pelengkap, aksesoris semata.
Mengenal sejak kapan dia menggali idiom seni rupa, bagaimana fase berpuisi dia sebelumnya, bagaimanakah latar belakang kelahiran, lingkungan dan biografi dia dalam membentuk puisi ala seni rupa ini. Garis akan memiliki makna berbeda ketika menghadapi Iman yang kental dan khas sebagai urban perkotaan, kontemporer atau latar tradisi yang kuat, instalasi kota atau tarikan diksi alam atau sejarah luka sosial yang lebih dominan dan mengemuka dalam karyanya?
//Aku melihat garis bekerja di atas kanvas. /Bekerja /Untuk meledakkan setiap ketakutan. /Percikan api/ Di antara binal warna dan banal luka, /seperti Penderitaan 350 tahun dalam belenggu colonial//
(Dari buku puisi “Garis Lurus”, sajak berjudul “Garis Bekerja di Atas Kanvas”, karya Iman Sembada halaman 2)
Bisa juga semua simbol dan diksi seni rupa ini hadir di saat puisi Iman Sembada sudah kokoh. Artinya, semua teknik belakangan yang ala seni rupa ini hanya melengkapi bentuk yang telah dia jalani, pilih dan yakini sebelumnya.
Latar biografi, proses kreatif dan kejenialan Iman dalam menghadapi kamus seni rupa sebagai penggerak diksinya, sebagai subyek puisinya, dipertaruhkan untuk menentukan kekuatan sekaligus keunikan puisinya. Bukan hanya sebagai sematan kata, atau kerumunan dan akrobat kata, tapi apakah memang menambah kekuatan berpuisinya, lebih berhasil hidup, bergerak dan bermakna. Enak disimak dan enak dibaca…
Seni yang Lintas Batas
Dunia seni adalah dunia yang lintas batas. Tak hanya beragam latar pengetahuan dari latar para penulisnya. Semacam philo dan sophia pada filsafat alias cinta pada kebijakan. Para penggandrung kata yang merindu, di antara taman logika, etika dan estetika.
Maka, seni sebagai ruang estetika juga mensyaratkan logika saat si seniman berkarya, sangatlah terbuka untuk berbagai latar belakang.
Entah itu si seniman, otodidak atau akademis, bukan latar pendidikan seni, dari berbagai profesi, beragam gender, beragam kelas sosial, beragam ideologi dan beragam lintas negara.
Keterbukaan ini pun sungguh bukan permakluman. Ada syarat yang harus ditempuh oleh tiap seniman, tak terkecuali sosok seorang yang kemudian mencapai keteguhannya sebagai penyair. Sekali lagi, tak melulu soal perasaan. Ada latar teknik dari persoalan pilihan diksi, pilihan tipologi, kekuatan gendang bunyi di balik kata yang dipilih, tematik, kekayaan latar kehidupan, kepekaan terhadap individu atau manusia lain di sekitar penyair. Ibarat batu permata, yang terkenal karena kekuatan, kekerasan – skala mohs sehingga tak mudah dihancurkan – juga kelangkaannya, seni termasuk puisi pun, tak luput dari syarat itu.
Kuat dan keras pada bangunan puitiknya. Puisi itu kokoh termasuk dari segala syarat unsur perpuisian tadi. Langka artinya memiliki kekhasan. Puisi dia harus khas, berbeda dan terus dicari perbedaannya dari puisi banyak karya penulis puisi yang lain.
Kita lamat-lamat menangkap pola samar teknik melompat kata, diksi, dalam ungkapan puisi Iman Sembada, pada buku kumpulannya yang bertajuk “Garis Lurus” ini. Buku puisi yang konsep dan tekniknya malah tak lurus, melainkan dengan pola yang melompat, tak koheren antar antar satu baris ke baris yang lain, baik dalam kata utuh mau pun kata yang dipilih untuk merebut makna semiotik sekaligus teknik bunyi “gendang kata” atau efoni yang telah disiasati oleh penyairnya.
Namun, ramuan teknik seperti itulah, ya salah satu cara seorang penyair menarik bentuk yang khasnya.
Hal lain, berpuisi bukan paralel dengan soal teori saja. Pencarian bentuk memang berhasil didapat dengan banyak bacaan karya penyair sebelumnya. Namun ada orang yang memiliki kekuatan diksi yang khas bahkan banal. Meski tetap saja, semua itu bukan dari takdir dan keberuntungan semata. Untuk pilihan diksi misalnya, bagaimana seseorang penulis puisi meski otodidak namun memiliki kekuatan kata yang pejal, keras, sehingga berbeda.
Dunia imajinasi ditangkap sejak penyair itu lahir. Selain karya tulis yang dibaca di dalam dan di luar sekolah, tak dapat dipungkiri, hal lain yang membentuk adalah dongeng, kesusasteraan lisan atau cerita kanak. Sastra lisan Nusantara hadir dalam bentuk lagu bahkan dolanan anak.
Lagu dolanan Jawa: Lir Ilir,lir ilir, tandure wis sumilir. Tak ijo royo-royo, tak senggo temanten anyar. Cah angon, cah angon. Penekno, bliming kui…. Atau lagu anak di masyarakat Batak: Sappele sappele si ria ria. Mangakkat jarum bosi toho tu bariba. Tungkot jom amani mallotom. Nabibi na malamun takkup gaol na tata … Begitu pun dengan pantun di masyarakat Melayu, umpasa Batak hingga sinom, pangkur dan geguritan di masyarakat Jawa.
Semua kata dan harta karun lisan yang tercecer di benak kanak itu terolah secara panjang, lama dan berkesinambungan membentuk kekuatan yang khas pada seorang anak di lingkup masyarakat kebudayaan tradisi – baik di masyarakat heterogen mau pun homogen. Semua paduan dan kejumbuhan itu membentuk kekhasan pada tiap karya seorang penyair atau penulis puisi.
Literasi selain membaca, adalah juga mau setia dan aktif dalam peluncuran dan pembacaan karya penyair lain, menyimak diskusi karya puisi, termasuk menelusuri puisi di gadget – meski tetap harus hati-hati dengan website tak bertanggungjawab terhadap kesahihan karya tiap penyair, sehingga kita sampai saat ini tampaknya masih lebih yakin karya penyair yang tercetak di buku ketimbang di media sosial.
Demikianlah di masa digital ini, kerja aktif digital harus tetap diimbangi kerja aktif manual dan kerja interaktif dalam pengayaan kesusasteraan Indonesia. Demikianlah, tentunya, seorang Iman Sembaca juga telah berhasil secara kreatif membangun makna, teknik dan kekhasan puisinya.
Selamat untuk kelahiran buku puisimu ini, Bung Iman…@





