Puisi di Kota Itu Bernama Buitenzorg…

Dalam rangka Hari Jadi Bogor (HJB) ke-543, tahun 2025, Komite Sastra Dewan Kesenian Kabupaten Bogor (DKKB) Launching dan Bedah Buku Antologi Puisi BUITENZORG, di Aula Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Bogor, Selasa (17/06/2025)

Sebuah kota ibarat “puisi sejarah” yang panjang. Tua sekali umurnya. Telah banyak pengalaman dan perjalanan. Telah banyak perubahan ruang di tiap simpang waktu.
Maka, di buku kumpulan puisi Buitenzorg ini sebenarnya, penyair sedang menghadapi sebuah kota yang pada hakekatnya adalah puisi.
Untuk kondisi yang semacam ini, kita dapat kembalikan ke pendapat para kuratornya yaitu Putra Gara dan Herman Syahara dengan proof readernya Julia Basri: Akibatnya, puisi hadir sebagai laporan pandangan mata yang memotret permukaan. Kesannya, cukup hanya dengan menyebut segala “unsur kebogoran” itu maka kewajiaan menulis puisi tentang Bogor sudah tertunaikan.

Keduanya, Gara dan Herman pun melanjutkan paparannya: Kata hujan, kabut, dingin, pohon, Gunung Salak, Ciliwung, nama gedung, nama tokoh, nama makanan, istana, Kebun Raya, dan benda-benda lain yang identik dengan Bogor, memang berseliweran dalam puisi peserta.
Beginilah paparan dari Wikipedia: Prasasti Batutulis dan beberapa situs lainnya, dan menyimpulkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran terletak di Kota Bogor.
Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff membangun Istana Bogor seiring dengan pembangunan Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor. Bogor direncanakan sebagai sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jenderal. Dengan pembangunan-pembangunan ini, wilayah Bogor pun mulai berkembang.
Setahun kemudian, van Imhoff menggabungkan 9 distrik (Cisarua, Pondok Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindang Barang, Balubur, Dramaga, dan Kampung Baru) ke dalam satu pemerintahan yang disebut Regentschap Kampung Baru Buitenzorg.
Di kawasan itu van Imhoff kemudian membangun sebuah Istana Gubernur Jenderal. Dalam perkembangan berikutnya, nama Buitenzorg dipakai untuk menunjuk wilayah Puncak, Telaga Warna, Megamendung, Ciliwung, Muara Cihideung, hingga puncak Gunung Salak, dan puncak Gunung Gede.
Pada masa pendudukan Inggris, yang menjadi Gubernur Jendralnya adalah Thomas Stamford Raffles, yang cukup berjasa dalam mengembangkan Kota Bogor, dimana Istana Bogor direnovasi dan sebagian tanahnya dijadikan Kebun Raya (Botanical Garden), beliau juga mempekerjakan seorang arsitek yang bernama Carsens yang menata Bogor sebagai tempat peristirahatan yang dikenal dengan Buitenzorg.
Ya, pendekatan dari para penyair memang beragam. Namun demikian, Buitenzorg selayaknya bukan sekedar penyebutan kata kunci: hujan, kabut, dingin, pohon, Gunung Salak, Ciliwung, nama gedung, nama tokoh, nama makanan, istana atau Kebun Raya.
Sikap di atas hanya menjadikan Buitenzorg sebagai obyek belaka. Obyek wisata bahkan obyek pencarian kata di paparan Google dan Wikipedia.

Read More

Padahal, Buitenzorg adalah puisi, adalah sejarah, adalah perenungan itu sendiri.
Ada beberapa sikap yang lebih jauh dari ornamen kata atau hanya menjadikan Buitenzorg lebih dari sekadar obyek. Yaitu menjadikan Buitenzorg sebagai puisi kehidupan bagi penyairnya sendiri. Memasuki sejarah, memasuki pengalaman spiritual, kenangan, kedalaman dialogis yang berlarat-larat mencapai mutiara kehidupan itu sendiri.
Sebagaimana Gabriella Garcia Marquez yang telah mengambil sikap terhadap sejarah sebuah kota yang murni untuk kemudian mengalami metamorfosa, ditampilkannya dengan pembukaan awal di novel Seratus Tahun Kesunyian, dengan paparan pembukaan secara bebas diterjemahkan begini:
Saat itu Macondo adalah sebuah desa dengan dua puluh rumah dari tanah liat, dibangun di tepi sungai berair jernih yang mengalir di sepanjang hamparan batu-batu mengilap, yang berwarna putih dan besar, seperti telur prasejarah. Dunia masih sangat baru sehingga banyak hal tidak memiliki nama, dan untuk menunjukkannya, perlu untuk menunjuk. Setiap tahun selama bulan Maret, sebuah keluarga gipsi compang-camping akan mendirikan tenda mereka di dekat desa, dan dengan suara riuh pipa dan gendang, mereka akan memamerkan penemuan-penemuan baru. Pertama-tama mereka membawa magnet. Seorang gipsi bertubuh besar dengan janggut yang tidak terurus dan tangan seperti burung pipit, yang memperkenalkan dirinya sebagai Melquíades, melakukan demonstrasi publik yang berani tentang apa yang disebutnya sendiri sebagai keajaiban kedelapan dari para alkemis terpelajar Makedonia.

Memahami sebuah kota adalah memahami sebuah organisme kehidupan. Hal yang membuat saya belum mampu menerjemahkan betapa dalamnya kebijakan sunyi yang kita dapat saat kita berada di antara pemakaman di tengah Kebun Raya Bogor; sebuah tempat yang menjadi apotik dunia, di sana juga beragam habitat pohon diuji sebelum dimasukkan di tanah Nusantara.

Kebun Raya Bogor adalah sepetak oase dari negeri tropis – seperti juga -wilayah Amerika Latin – yang menjadi sarana tiap pohon yang baru masuk dari dunia antah-berantah, sebelum diyakini cocok juga untuk tumbuh di Indonesia. Di sana ada berbagai jenis yang pernah diujicoba dan berhasil, sebutlah tanaman kina, Amorphophalus titanium, Begonia, Hoya, Kemuning, Candle Tree atau pohon lilin dari Amerika Latin, dan banyak lagi yang lainnya.

Para peneliti yang dashyat itu kemudian dimakamkan dalam kesunyian di oase segar – di tengah hiruk-pikuk Kota Bogor. Cobalah datangi suasana ini di kala senja atau malam, bukan suasana menyeramkannya, tapi perenungan tentang sejarah yang pucat dan terasing di tengah pengembaraan waktu dan kota yang semakin hiruk. Tentang seorang peneliti yang melampaui benua untuk kemudian istirah di tempat sunyi ini. Tentang pohon yang masih hidup ditinggal oleh makam tuannya.

Tentang saya dalam sejarah yang pendek harus berhadapan dengan kearifan dan kecerdasan botani masa lalu. Betapa sejarah adalah puisi dan sebuah kota menyimpan banyak rahasia puisi…
Dalam pemikiran semacam ini, kita dapat memasuki pengalaman bathiniah dari kehidupan penyair Roy Dabut dalam puisinya yang bertajuk ‘SURAT CINTA UNTUK BOGOR‘ – meski bertitimangsa kota Bekasi:
//Pepohonan di Kebun Raya berbisik:// “Kami hanya statistik di laporan CSR dan BPS”. /Burung-burung yang hinggap bernyanyi/ “Jangan punahkan rumah kami”. //Aku ingin merangkai bait-bait indah untukmu Bogor tapi pikiranku tersendat kemacetan/ seperti air hujan yang tak lagi punya tanah untuk meresap.
Demikianlah sehabis paparan kita di tengah kesunyian, mendadak kita juga digempur oleh klakson angkot, antrian tiket kereta listrik, jalan liku di antara tata kota, pengamen saat angkot ngetem, jalan kaki yang semakin tak nyaman karena ramai dan sesak.
Tapi Buitenzorg akan ditemui oleh kenangan yang lebih jauh lagi dari angka tahun 2020, dulu Buitenzorg di tahun 1990-an adalah kerinduan pelajar di saat bolos, masuk lewat lubang tembok bagian belakang, perjalanan bus Miniarta dari Depok atau Terminal Cililitan, tempat bagi sepasang kekasih jumpa dan merindu di tengah alam yang syahdu, wisata cukup murah bagi keluarga di saat berlibur.
Buitenzorg adalah juga perjalanan perahu sinyo dan noni dengan getek atau perahu tradisional di Kali Ciliwung. Wilayah dingin yang dicari oleh para sinyo Belanda selain ke Bandung.
Buitenzorg adalah prasasti. Di setiap Buitenzorg juga terdapat candi-candi. Buitenzorg terlalu banyak menyimpan rahasia, resah dan kesakitan atau kearifannya yang Panjang. Buitenzorg tak pantas hanya sebagai obyek tetapi sebagai subyek di dalam puisi para penyair. Dia adalah bagian dari organisme yang terlukai, dirayakan, terpinggirkan atau dibahagiakan, sebagaimana puisi Alaikal Mubarok di puisi bertajuk BOGOR: SONATA KABUT DAN RINDU YANG BERSAJAK:
Di langit-langit kabut, melodi embun terurai,/ Allegro angin mengalun di dahan-dahan yang merunduk./ Kebun Raya berbisik dalam crescendo daun yang bergerai / Setiap pucuk menari,/ menorehkan notasi waktu yang terpintal rapat. // Hujan, sang virtuoso, memetik senar genting yang retak,/ Legato rintikannya merambat di kulit bumi yang basah./ Istana putih berdiri bagai adagio yang terbeku,/ diam-diam memahat Jejak rusa-rusa sunyi, / kakinya menyentuh nada-nada masa silam.// Di bawah pakis purba,/ akar-akar merangkai harmoni kuno,/ Rafflesia bernyanyi dalam fortissimo/ yang terpendam di kelopak lara.// Gunung Salak menggelegar/ dalam basso ostinato yang memanggul duka,/ Sementara Gede/ mengalunkan requiem untuk kabut yang tersapu sang surya//
Usaha Alaikal untuk menempatkan Bogor dan hal-hal lain yang menjadi bagian dari kota ini, sebagai subyek pada puisinya. Bukan bermaksud mengulik lebih jauh, namun pretensi Alaikal untuk tidak sebagai turis terhadap obyek kota, melainkan dia yang mencoba menjadi Bogor dan semua perangkat hidup di kota ini, pada puisinya itu.
Simak lagi pada puisi dia selanjutnya, juga tak ada kata saya atau aku sebagai penyair, melainkan menjadikan organisme Buitenzorg sebagai subyeknya:
Di sini,/tanah menggurat derita dalam aksara darah yang tak terpadam. /Van Imhoff menggubah mimpi di atas bongkah nestapa,/ Parang-parang menderu menyepuh jalan raya bagai galur nasib.// Gunung menggerutu dalam kemelut,/ kerbau-kerbau menggontai derita,/ Sementara Daendels menyepit peta/ dengan cakar kemajuan yang pongah berbibir.// Sepuluh ringgit menggila di genggaman tangan yang kepundan, /Tulang-tulang meranggas di tebing, menyumpal jeram angkasa. /Puncak Pass menggema jerit patiwela…

Sesungguhnya, menulis Buitenzorg ini, kita semua bukan menghadapi sebuah peristiwa atau pun kejadian, sehingga penyair atau manusia yang terlibat di dalamnya tetap menjadi subyek. Buitenzorg adalah sebuah ekosistem, entitas ruang dan waktu, locus dan tempus yang sangat potensial untuk mandiri bahkan berbincang aktif dengan penyairnya.
Ini juga puisi yang memperlihatkan orang Pamijahan sebagai subyek, yaitu di dalam puisi ORANG-ORANG PAMIJAHAN karya Alvian Rivaldi Sutisna, meski Alvian dapat masuk lebih jauh lagi membaca airmata, perjuangan, duka dan bahagia (orang-orang) Pamijahan – selain tentu saja terus mencari diksi dan kedalaman kata yang lebih tepat atau lebih jauh lagi:
Pudar, redup cahaya/ Mati muncul, berulang-ulang/ Baginya, timbul matahari di atas labirin/ membawa permata ke rumah/ Orang rumah berseri-seri/ tanda rezeki tak ke mana// Lalu lalang orang hanya melihat basah/Tanpa tahun dari mana asal hujan…

Puisi sesungguhnya dapat menjadi energi untuk menjaga kesadaran. Pendekatan turis atau wartawan dalam wisata kota, bukan bagian dari kerja kepenyairan. Kota akan melebar pada pengertian tentang orang dan tempat, Ketika peradaban dan sikap kebudayaan telah dibangun. Pada sejarah yang rawan itu, kota perlahan terbentuk.

Dia, kota, saat terbentuk tak pernah luput dari peta global, tegangan invasi, sikap komunal untuk mandiri, entitas yang berusaha terbangun, yang di dalamnya akan terdapat bahagia, tangis dan luka. Kesemuanya itu akan menjadi nyaring tatkala puisi membelanya dan menempatkan kota plus sejarahnya kemudian menjadi subyek. Kita kutip lagi puisi DARI GADIS-GADIS AGRARIS karya Anri Rachman:
di sepetak bait puisi/ kami mulai menziarahi sunyi /sepanjang perlintasan bukit kapur Sukamakmur// ada getir/ dari alir Sungai Cipamingkis// menyingkap senyum manis gadis-gadis agraris/ yang dititip tuhan berwujud asa dari tanah kearifan// “kita ini musafir nan watir,” katamu./ “ya, kang, lebih baik mejadi musafir water/ daripada menjadi biong anggaran,” timpalku.// pada sepetak bait puisi /kami ditikam jenuh tak jemu-jemu/ tidak lagi menyirami rumput/ mati kami tertidur Lelah/ setelah menziarahi sunyi/

Menjadikan Buitenzorg sebagai subyek itu bukan lagi berpretensi sebagai pengolahan teknik belaka. Namun juga masuk lebih jauh pada persoalan kota itu sendiri. Kota yang berisikan sejarah, orang, peradaban, perubahan, global, masuknya dunia digital, masyarakat urban, instalasi digital dan banyak lagi.@

Related posts

Leave a Reply