“Jejak Kecil Dalam Sajak” Yvonne de Fretes

BUKU PUISI DWI BAHASA "JEJAK KECIL" KARYA YVONNE DE FRETES --Foto: Dok. Komunitas Tanpa Nama.
Cloud Hosting Indonesia

Oleh: Vukar Lodak

Bacaan Lainnya

Beberapa gelintir kita mungkin saja akan tersentuh dan merasa ekstasif dengan langgam puitika sebuah sajak. Kita, terkesima dengan bagaimana sebuah diksi yang berkelindan dalam sebuah semantik dapat menumbuhkan perasaan ambivalensi mengenai sebuah makna. Arti yang tidak terlalu persis namun dapat dirasakan kisaran-kisarannya.

Pada beberapa gelintir kita yang lain takjub, bagaimana mungkin satu helai kertas dan satu tumpahan pena dapat menghidupkan imaji. Bagaimana mungkin di atas selembar kertas kita dapat melihat bentangan laut dan samudera, suara dayung perahu yang dikayuh, lolongan anjing liar yang membaung, derap sepatu bot di tengah-tengah lumpur, atau lengkingan pluit yang memberi aba-aba kepada para pekerja pabrik.

Kita yang ini kadang tertegun, katarsis dan meradang di belantara kata-kata yang memikat.Transterhadap keindahan dan keajaiban bahasa. Bagaimana mungkin sebuah aksara itu dapat menggelorakan hati manusia.

Sedangkan, pada beberapa gelintir kita yang lain lagi, hanya tertarik pada bahasa-bahasa verbal, yang runut dan harfiah. Tertarik hanya pada gramatikal dan sistematika bahasa yang  terkait aktivitas kognitif. Kita lebih terpikat kaidah-kaidah ilmiah.

Pada kita yang pertama, kata-kata bukanlah bahan yang siap pakai, yang tinggal menyeduh, yang tatanannya lazim, verbal dan baku.Di sini, kata-katamerupakan bahan  mentah yang perlu diolah. Bahan yang bebas untuk digeledah, digerayangi,  guna menemukan idiom-idiom baru dan cita rasa yang tak biasa. Tak cukup, ia juga sedia dibebani  muatan-muatan drama perasaan. Ekspresi jiwa yang terbuka maupun tertutup.

Pada kita yang kedua, kata-kata, semata-mata hanyalah sarana untuk mengelolah penalaran,guna menjelaskan kegiatan noesis(aktivitas pikiran). Menjelaskan berbagai hal secaradenotatif.Tak ada istilah-istilah bersayap.

Meskipun beberapa gelintir dari kita yang lain lagi ada yang memang tak tersentuh dengan proposal bahasa apapun. Tidak mengenal bahwa bahasa merupakan pakaian bagi pikiran dan perasaan seseorang, bahwa bahasa merupakan implisitas dari latarbelakang budaya, politik, sosial dan ekonomi penuturnnya, bahwa bahasa merupakan satu-satunya alat untuk mengalami dunia.Bagi yang demikian itu sebuah bahasahanyalah isyarat, perintah kepatuhan atau larangan, dilakukan atau tidak dilakukan.

Bagi Kita Yang Pertama

Apakah semua ini cuma agar kita punya cerita/ untuk didongengkan pada malam-malam sunyi/ dalam ruang keluarga dengan meja jati/ goresan-goresan di atasnya ikut menjadi saksi ketika ada kecemasan menanti putra kita kembali dari kantor di pusat kota berzona merah covid 19 aku tetap berjalan, meski kadang  menjumpai ruang-ruang kosong/ tahukah engkau kekasih, betapa  ingin aku menangis, meneriakkan sesuatu/tapi yang kulakukan hanyalah duduk manis di sofa ini/ menatap gempita yang terhidang di layar kaca/ retorika?melawan hoax? ilusi, wacana? kubayangkan betapa bahagia dan tenteramnya engkau di ‘sana’/ jauh dari semua ini aku ingat, ketika di malam seperti ini, kita  bersepakat untuk bersama mencintai hidup/ betapapun, apakah ia kekal ataupun tidak kekal/ atau bahkan ketika ia cuma sekedar  kemungkinan mengenangmu dadaku terasa hangat, dari alam sana kau seakan berbisik bahwa kami semua baik-baik saja seiring idiom dari layar kaca ‘salus populi suprema lex esto’.

( Yvonne de Fretes, Catatatan Kecil Covid 19 )

Dalam larik-larik sajak di atas, terasa benar kelaraan, kecemasan, rasa tak berdaya dan nestapaketika berkecamuknya wabahpandemi itu.Kebimbangan, kesepian, kesendirian, ingatan seseorang yang terkasih—yang sudah tak ada lagi—makna keluarga, kehangatan dan desas-desus, mengharu-biru, tumpah ruah menjadi satu,sementara dia yang terkasih, seolah-olah menjadi arah untuk mengadu, meskipun bisu.

Terasa sang penyair menarik diri, mengambil distansi antara subyektivitas personalnya dengan realitas media yang menyajikan kabar-kabar serba tak pasti, yang dirasa membimbangkan kebenaran antaraangkascientist dan pernyataan-pernyataanpolitik yang liar. Antara pernyataanpost-truth, sikap comfort zonemasyarakat dan permainan maut yang angkanya bertumpang tindih dan trendnya selalumenukik ke atas. Kecemasan dan rasa kehilangan sandaran, provokasi media, dan perasaan inersia menjadi padu dalam perasaan keibuan seorang Yvonne de Fretes.

Setidaknya, sebagai kita yang pertama, demikianlah kesan dari salah satu cukilanpuisi dari buku“Jejak Kecil Dalam Sajak” karya penyair, pengajar—juga pernah menjadi wartawan—Yvonne de Fretes, yang baru-baru ini terbit lewat penerbit Kosa Kata Kita (KKK).

Pengarang berdarah Ambon, yang lahir di Singaraja, Baliini, menyajikan paling tidak 31 puisi dengan dwi bahasa, terdiri dari 78 halaman, dengan 5 sub-tema;Ambon, Bali, Jakarta, India dan Eropa.

Sebagaimana buku-buku puisi Yvonne de Fretes yang lain, seperti misalnya, “Berlayar Malam”, atau beberapa puisinya yang lainlagi yang terhimpun dalam beberapa antologi, seperti  “Tiga Menatap Takdir”, atau “Tiga Bangku”, dalam buku puisi tunggalyang ke-2ini, Yvonne de Fretes,  seolah-olah seperti mengajak kitamasuk ke dalam imaji-imaji seorang naturalisme yang sesekali mengimbuhkan pergulatan-pergulatan realisme.

Keindahan alam, aspek sosiologis dan antropologis,ditengarainya tak cuma sebagai panorama atau lokasi geografis semata, melainkan, ditanggapinya secara khusus sebagai medan percakapan romantik yang khusus,yang mana tiap bagiannya secara detail diberikan kekuatan dan daya hidupnya sendiri.

Semisalnya; kamar laut, dan kecipak air kaukah itu? Perlukah kita bersila untuk menghormati keheningan yang muncul dari permukaan laut aku diam, mencarinya jauh di luar sana di seberang langit malam.

Kau begitu sederhana/dari dalammu terpancar takjub yanag kadang membahana membelai mimpi-mimpiku/tak ada yang sama memang, tak ada/simponi apapun yang kau dendangkan/semua bermuara di hatiku yang jatuh cinta pada lekukan ombakmu, pada tiang-tiang rumahmu/pada peri penjaga tanah datuk/SAWAI, rinduku terbaca begitu jelas di wajahmu yang damai/kau tidak peduli pada gelap malam, kau ikhlas menyalakan lilin pada malam, lampu teplok tergantung bergoyang mengikuti bayanganmu yang letih Saleman, Ora, Sawai utara pulau Seram nusa ina, pulau ibu.

(Yvonne de Fretes, cukilan sajak “ Sawai, Di Suatu Waktu”)

Memang, dalam perhelatan puisi, kata-kata kerapkali dipiuhkan dari realitas, diberi muatan-muatan terselubung akan perasaan atau ekspresi personal seseorang.Yang biasanya menunjukkan kedalaman perasaan, kesan dan keharuan hati penyairnya. Baik mengenai perasaan muram, suka cita, gembira, sedih, kesepian atau keheningan. Kadang-kadang diksi  eksterioritasseorang penyair sebenarnya jelmaan yang halus dari unsur-unsurinterioritasnya.

Tengok misalnya; Seekor cecak di dinding mengangkat kepala,menatapku seolah menuduh,sebelum dilenggokkan ekornyamengintip rinai gerimis,berita itu menari di layar kaca,derita itu mengoyak sanubariibu yang histeris memeluk mayat tercintaAceh, Nias, Srilangka, Thailand.

(Yvonne de Fretes, cukilan sajak,  “Gerimis Malam”)

Dalam hal ini, sangat tampak bahwa isyarat dunia sekelilingnya merupakan hasrat yang terselubung mengenai kegetiran dan empati penulis akan luka-luka kemanusiaan di sekitarnya.

Kaidah Kita Yang Pertama

Satu hal yang menonjol dari kaidah puisi, suatu kata-katadapat ditarik dan diletakkan dengan bebas ke dalam kata-kata yang lain. Dilepaskan dari makna harfiah, dicabut dari unsur denotatifnya, lalu dibiarkan ia mengembangkan dan menjelajahi dunia metafornya sendiri.Kaidah ini tentu tidak dapat diperuntukkan bagi kita yang kedua.

Bagi penyair, antara diktum mencari kata-kata dan kata-kata yang menemukan penyairnyaadalah dua hal yang tidak mudah dipisahkan.Dua hal yang berseliweran, melayang seperti debu, datang dan pergi, lalu-lalang dalam satu kawasan tak bernama. Proses intensitas, spontanitas, kontemplasi dan inkubasi ruang dan waktu seringkali memicuh dengan sendirinya susunan dari apa yang datang dan menghilangkan apa yang tidak hendak dikatakan.

Puisi-puisi Yvonne de Fretes dalam buku ini—penulis yang menulis buku biografi Megawati: Anak Putra Sang Fajar ini—memang puisi-puisi yang berkelana mencari peluang makna, berjalan-jalan pada suatu tempat tertentu, untuk kemudian  berjalan-jalan lagi mencari kemungkinan penanda.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan