Women On Stage Inisiasi Gelar Karya Pekerja Teater Mancanegara

Cloud Hosting Indonesia

Semua pertemuan berjejaring antar para seniman teater ini dimulai dengan pertemuan di Women Playwrights International Conference (WPIC) di Cape Town, Afrika Selatan, pada 2015 silam.

Bacaan Lainnya

Herlina Syarifudin, lewat Women On Stage (WOS) yang dirakitnya sejak 2019, berhasil menggelar Asian and Australian Women on Dramatic Reading and Culture.

Sebagai bagian dari CLA’s Culture Program Over Coffee, acara yang mendapatkan dukungan dari Cambodian Living Arts (CLA) dan Asia-Europe Foundation (ASEF) itu berhasil mengumpulkan dramawan dari Filipina, Australia, dan Indonesia.

Mereka menggelar pertemuan dengan tema Asian and Australian Women on Dramatic Reading and Culture. Dengan kegiatan ini, para penulis, pemain hingga sutradara teater dapat dipertemukan, dari berbagai latar belakang termasuk yang baru berproses hingga yang berpengalaman. Kesemuanya menyajikan karya untuk merefleksikan dunia yang terus bergerak dan mereka menangkapnya dengan cara masing-masing sehingga menimbulkan apresiasi dari karya yang dihasilkan.

Herlina Syarifudin, asal Indonesia yang mendirikan Women On Stage (WOS), memiliki latar belakang keaktoran, pendidik dan pernah menyutradarai teater. Karyanya di program ini adalah “My Name is Name” atau “Namaku Nama”. Karyanya yang bernuansa tradisi budaya Jawa ini mengisahkn tentang penderitaan perempuan dari berbagai generasi, dari nenek, ibu hingga putrinya.

Ada juga Venny Zega dari Kendal, Jawa Tengah, Indonesia yang memiliki latar penulis and aktivis seni sekaligus pendidik dengan karyanya “Lontong Opor” mengisahkan tentang mudik yang di Indonesia maknanya adalah kembali pulang ke tempat kelahiran. Kisah ini dikaitkan dengan pandemi yang mengubah perilaku mudik juga suasana orang dan kerabat di sekitarnya.

Begitu pun pekerja budaya sekaligus manajer produksi dan Sekretaris Jenderal Maria Theresa C. Belleza yang mempresentasikan karya bertajuk “The Mango Tree”, merupakan karya yang dalam proses penggarapan. Kisahnya adalah tentang semut pekerja yang hidup kolektif di pohon mangga. Ditulis awalnya dengan judul “Ang Pun ng Mannga”.

Lalu ada juga Noel Pahyupan yang menyajikan karyanya yang  bertajuk “End Scene. Venisa Buenflor yang adalah seorang pekerja budaya dan aktor teater, sutradara sekaligus juga penulis drama baru yang mengusung karya “Ang Biyah Ni Gregory” (Perjalanan Gregory).

Kerensa Dewantoro berasal dari Australia namun telah 30 tahun tinggal di Indonesia, dikenal sebagai aktor dan penari, hadir dengan karyanya “Jengkol: Jangan Jengkel”, yang mengeksplorasi isu salah tafsir sekaligus kesalahpahaman budaya.

Hal yang menarik adalah, bahwa pertemuan berjejaring ini dimulai dengan pertemuan antara Herlina, Kerensa dan Belleza setelah momen pertemuan Women Playwrights International Conference (WPIC) di Cape Town, Afrika Selatan pada 2015 silam. Mereka bahkan sempat mengadakan pertemuan lewat media sosial, Zoom pada Jumat dan Sabtu (29-30/10) yang lalu. “Tujuan kami adalah di masa mendatang dapat terjadi kolaborasi. Saling berbagi situasi dengan perempuan pelaku seni lintas negara. Ini menjadid pintu awal untuk langkah selanjutnya di internasional,“ papar Herlina kepada Anjangsana.@

Pos terkait

Tinggalkan Balasan