Tidak Sembarang Ulos dapat Digunakan dalam Fesyen…

Ulos sakral seperti Ulos Saput dan Ulos Tujung, contohnya, memiliki makna kesedihan yang mendalam terhadap orang yang wafat.

Ulos, tenun tradisional Batak yang bertahan hingga kini sebenarnya terdiri dari banyak jenis dan masing-masing memiliki makna berbeda.
Dalam dunia fashion, sah-sah saja jika busana yang dikenakan menggunakan motif ulos. Namun, saat hadir dalam sebuah acara adat Batak, tidak sembarang ulos yang dikenakan.
Ulos memiliki makna yang berbeda, lengkap dengan motif bahkan jumbainya. Benda sakral dalam tradisi Batak yang bentuknya serupa selendang atau selimut itu memiliki makna yang mendalam.
Ada ulos yang memiliki makna mendalam terutama dalam upacara kehidupan bahkan kematian.
Penikmat dan Pencinta Ulos Batak Martha Sinaga, mengatakan Ulos Tujung bahkan Ulos Saput adalah lambang duka, kematian dan kesedihan. Ulos ini sangat tragis bila digunakan dalam estetika fesyen. Ulos Saput ‘diulosi’ pada tubuh orang yang telah meninggal, sementara Ulos Tujung diberikan pada pasangan yang ditinggalkan mendiang.

Bacaan Lainnya
Foto-foto: Anjangsana.id/Sihar Ramses Simatupang – Ketua KCBI Sita Hanimastuty, pencinta ulos Martha Sinaga dan Melaini Leimena (kanan ke kiri)

Martha menjelaskan hal itu ke publik sambil menjejerkan ulos itu di panggung Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Jumat (22/12).
Dia kemudian menyebutkan beberapa ulos secara singkat termasuk dari puak (sub suku, red) dari mana ulos itu berasal. Suku Batak, dari puak Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, Pakpak dan Angkola, menggunakan ulos sebagai warisan penuh makna dengan jiwa (tondi) atau berkat yang melindungi pengguna dan keturunannya dari pengaruh jahat.
Dengan demikian, “mangulosi” bermakna memberikan ulos dengan tujuan melindungi.
“Jadi, bagaimana pendapat Anda? Menggunakannya dalam fashion itu bukan berarti menjadi ulos sebagai lifestyle. Itu hanya motif ulosnya. Itu tetap bukan ulos. Saat dia sudah digubah, dalam bentuk baju, pakaian, tas atau yang lainnya. Itu hanya motif ulos. Tetapi, tetap juga dicari dan diketahui maknanya. Agar jangan terjadi hal yang telah saya ungkapkan tadi di atas ” ujarnya.

Ulos dan fashion show.

Dia menyebutkan jenis ulos lainnya, sebut saja Ulos Ragi Hotang yang lengkap dengan Ulos Hela atau Mandar Hela untuk menantu dari mertuanya. Ulos Mangiring yaitu ulos yang diberikan opung (kakek dan nenek) kepada cucu atau pahompunya. Ulos Bintang Maratur yang digunakan dalam adat Batak Toba bermakna respon terhadap anak yang memiliki pekerjaan atau rumah baru, juga penghargaan dan prestasi tertentu.
“Ulos, adalah jiwa dalam suku Batak,” tegasnya.
Martha menambahkan juga bahwa tradisi ulos ini juga dipahaminya dari ayahanda.
“Ayah saya mengatakan kemana pun kamu berada, akarmu jangan kau tinggalkan. Memakai ulos bagi perempuan adalah di sebelah kiri dan lelaki di sisi kanan. Ulos dalam arti sesungguhnya adalah kain. Seperti juga memahami makna dari Dalihan na Tolu, yaitu tiga tungku: Somba marhula, elek marboru dan manat mardongan tubu. Semua itu sangat penting,” ujar Martha lagi.

Fashion show ulos.

Menurut Martha, melestarikan ulos harus dimulai dari sekarang, dan harus dijaga kelestariannya untuk generasi yang akan datang.
“Kita dukung mendatang agar ulos menjadi bagian dari heritage yang didaftarkan dan diakui di UNESCO pada 2025 mendatang,” tambahnya.
Moment ini juga diisi dengan Bincang Budaya bertema “Ulos Batak – Masa Kini dan Masa Datang” yang digelar Komunitas Cinta Berkain Indonesia itu (KCBI).
Pendiri sekaligus Ketua KCBI Pusat Sita Hanimastuty mengungkapkan tentang simbol ulos Batak juga berkait dengan kain simbol rasa cinta kasih sayang antar sesama manusia dan persaudaraan
“Kasih sayang ibu kepada anak, saudara dan nenek moyang di masyarakat, ini makna yang penting dalam kebudayaan Batak sekaligus juga kebudayaan Nusantara,” imbuh dia.

Seorang model dengan motif ulos.

Diskusi yang digelar bertepatan dengan Hari Ibu di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia – West Mall Lt 8 Jakarta Pusat, Jumat (22/12) itu juga menggelar peragaan fesyen oleh model yang mengenakan ulos. Tampil anggun di depan penonton. Juga musik Batak Rambadia mengiringi tari para ibu yang mengenakan ragam ulos di kepala.
Acara itu juga diisi dengan koor menyanyikan lagu Hening, yang pernah diciptakan dan dinyanyikan oleh musisi legendaris mendiang Chrisye dan Cinta Putih karya Titiek Puspa. Ditambah pembacaan puisi tentang ibu oleh MC-nya, “Aku rindu semua tentangmu, Ibu. Spiritmu abadi,” ejanya.@

Pos terkait

Tinggalkan Balasan