Depok – Ketua DPRD Kota Depok Ade Supriatna mendukung pemerintah menyiapkan teknologi pengelolaan sampah berbasis Refuse Derived Fuel (RDF) berkapasitas 300 ton. Ade yang ditemui di sela-sela acara silaturahmi open house Idulfitri 1446 hijriah di kediamannya, Kamis (3/4/2025) berharap lelang mesin pengelola sampah dari Kementerian PUPR untuk RDF 300 bisa selesai tahun ini. Sehingga tahun ini Kota Depok sudah punya sistem pengelolaan RDF 300.
“Saya harap teknologi ini bisa dibangun sehingga kita bisa duplikasi. Kalau 300 ton itu jalan, kita bisa bangun lagi. Bahkan 300 sampai 500 ton per harinya. Itu di hilir,” kata Politisi dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.
Untuk persoalan sampah di bagian hulu, Ade mendorong pemerintah menyelesaikan masalah tersebut di wilayah masing-masing dengan pemilahan masing-masing. Ade setuju apabila pemerintah mengupayakan modernisasi truk pengangkut sampah.
“Saya setuju apabila truk pengangkut sampah dimodernkan,” kata Ade.
Ade juga menyampaikan apresiasi pada pemerintahan pasangan Supian Suri – Chandra Rahmansyah yang memberikan program insentif atau bebas biaya iuran penarikan sampah bagi warga yang memilah sampah organiknya dengan baik.
“Saya apresiasi pada pemerintah yang memberikan insentif buat warga yang sudah melakukan pemilahan sampah organik yang di ember itu. Setiap warga yang melakukan pemilahan, sampahnya ditarik gratis tidak pakai retribusi. Ini perlu disebarluaskan. Maka pilahlah dari rumah,” tutur Ade.
Dengan sistem pemilahan ini, warga diajak peduli mengurusi sampah. Sehingga sampah-sampah non organik dipisahkan untuk dikumpulkan ke bank sampah. Sementara sampah residunya diambil oleh pemerintah kota.
“Dalam pengelolaan sampah perlu kerja sama dengan masyarakat,” tutur Ade.
Apabila pengelolaan sampah dilakukan dengan baik, Ade berharap persoalan banjir yang kerap melanda beberapa titik di Kota Depok juga teratasi termasuk masalah banjir yang kerap terjadi di kawasan Pelni Depok.
“Kalau posisi banjir sudah di bawah, kita hanya bisa mengharapkan air tidak terlalu lama di situ. Jadi rutin membersihkan sampah. Contohnya di Setu Pengarengan,” ungkapnya
Menurut Ade, beberapa sodetan ke Sungai Ciliwung sebenarnya sudah cukup. Pemerintah dapat melakukan upaya dengan mengurangi debit air ke arah Pelni, Kali Laya sampai ke Bukit Cengkeh. Caranya dengan rutin membersihkan sampah.
“Kalau perlu ada pengalihan dengan pompa, itu juga kita rekomendasikan. Itu dulu yang kita selesaikan di Setu pengarengan. Nah lain-lain yang ke arah Jakarta kita lancarkan arusnya dari sampah yang menyempit bisa kita lebarkan. Memang, persoalan banjir ini tidak jauh dari masalah sampah,” kata Ade. @





