Mengisi Waktu Berpuasa dengan Menghias Bonsai…

Bersama rekan sehobi, kegiatan membonsai jadi aktivitas yang mengasyikkan.

Di bulan Ramadhan ini, sambil menjalani puasa, banyak kegiatan yang dapat kita lakukan. Salah satunya adalah kegiatan membonsai. Bersama kawan seminat, kita dapat melakukan kegiatan ini barsama-sama.

Read More

Komunitas seperti Paguyuban Bonsai Citayam, misalnya. Beranggotakan hampir belasan orang termasuk Sumaji, Heru Purwadi, Jefri, Teguh Mulyono, Karyanto, Halim, Opik Kurnia, Rio dan Komeng di Citayam, Bogor ini sudah membentuk komunitas ini hampir enam tahun lebih.

Mereka kerap kumpul bersama untuk mengisi waktu, termasuk di awal bulan puasa ini
Untuk mengenal dan mengetahui apa itu seni bonsai, Anda dapat dengan mengumpulkan tanaman hias yang dibeli di pinggir jalan.

“Jangan kira bonsai itu pohon yang dibuat sengsara. Tidak. Bonsai tetap sehat meski digunting, diberikan media yang cukup dan dibentuk menjadi indah,” ujar pebonsai Teguh Mulyono yang juga aktif di Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia, Kamis (23/3).

Nah. Bahan bonsai pun dapat diambil dari tanaman biasa yang ada di sekitar kita.

Kegiatan Paguyuban Bonsai Citayam saat berkumpul bersama – Foto: Dok WAG PBC

Mau tahu tanaman apa saja? Teguh Mulyono, yang akrab disapa Mas Mul ini menyebutkan, di antaranya, pohon kemuning, kembang sepatu, jeruk klingkit, pohon jambu biji, pohon asem, beringin dan banyak lagi. Intinya, jenis tanaman itu berdaun kecil atau dapat dikecilkan. Juga rantingnya mudah diliukkan, tidak kaku.

Nah, bonsai itu sama seperti seni yang lain. Meniru alam dalam bentuk yang mini. Seperti lukisan yang meniru alam di kanvas atau seperti puisi yang memindahkan jagat raya lewat medium kata.

Jadi, bonsai itu pohon yang meski kecil terkesan tua. Cabangnya dibuat meliuk. Batang utamanya harus besar di bawah dan makin mengecil ke atas. Punya tekstur. Tidak mudah menghasilkan hal semacam itu bukan?

Soal gaya bonsai, bayangkan saja ada pohon yang kalian lihat di atas jurang. Menggantung. Ada pohon yang tandus dan terhalang batu di satu sisi, maka pohon akan tumbuh miring. Ada pohon yang tumbuh di tebing, akarnya akan bergerumbul di atas batu. Ada pohon yang berdiri ke atas dan tumbuh normal. Nah semua itu menjadi gaya bonsai.

Bergantian kumpul dengan sesama kawan seminat sehobi – Foto: Dok WAG PBC

Kita mengenalnya menjadi bonsai menggantung, kengai (Bahasa Jepang) atau cascade {Bahasa Inggris), setengah menggantung atau han kengai atau serupa hutan atau grouping, di atas batu atau on the rock.

Bahan Sederhana

Menurut pebonsai lainnya, Karyanto, tak perlu juga menyediakan bahan yang mahal.

“Kawat bonsai biasanya seharga sekitar Rp 100.000,- , itu pun dapat digunakan sampai 20 tanaman. Bahkan sekarang sudah ada yang menjual eceran per seperempat atau per setengah kilo,” papar Karyanto. Soal pot, bisa juga menggunakan pot plastik atau polybag sampai tanaman hias itu sempurna untuk disebut sebagai bonsai.

Karyanto menyarankan agar media tanaman jangan sampai tanah liat karena akan membuat air terendam di pot sehingga akar tanaman menjadi busuk. Media tanam harus porous atau setiap disiram, air siraman tetap mengalir terbuang ke bawah pot. Sehingga untuk porous, kerap dicampur dengan pasir atau sekam.

Pupuknya dapat dibeli dari beberapa pilihan. Pupuk alami seperti kompos atau pupuk buatan seperti NPK (Natrium Phosphor Kalium), urea atau pun dekastar.

Tanaman milik pebonsai Rio –
Foto: Dok WAG PBC

“Sebenarnya tak harus membeli tanaman jadi. Bisa juga dicangkok, atau sistem stek batang atau menumbuhkan dari biji hingga menjadi tunas lalu dibentuk,” papar Jefri.

Menurutnya, kegiatan membonsai selama mengisi waktu di Bulan Ramadhan merupakan kegiatan kreatif dan positif.
Sepeti PBC, menyalurkan hobi juga merupakan cara untuk relaks sekaligus menambah pertemanan dengan membantuk komunitas bersama orang di sekitar kita dengan minat yang sama. Bagaimana menurut Anda?@

Related posts

Leave a Reply