Rayakan Ultah ke-3, Baca Di Tebet Undang Anggota DPR Rieke Diah Pitaloka Baca Puisi

Anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka mengajak audiens untuk bergabung dalam yel-yel viral for justice

Jakarta – Jumat (21/2/2025) sore itu, Kanti W Janis dan Wien Muldian, duduk bersebelahan sambil memandangi pintu kaca resto ‘Makan Di Tebet’. Keduanya menunggu sahabat mereka Rieke Diah Pitaloka muncul dari balik pintu kaca itu.

“Sebentar lagi Rieke datang,” kata Wien.

Read More

Rieke, yang juga Anggota Komisi VI DPR RI ini didaulat untuk mengisi materi diskusi di lantai 2. Kanti dan Wien menamai lantai 2 itu ‘Baca Di Tebet’. Sekitar 40 sahabat ‘Baca Di Tebet’ dari berbagai kalangan hadir di tengah-tengah ribuan buku dengan rak hijau tinggi mendekati plafon ruangan. Ada Galuh Larasati yang datang dari Sekolah Kasih I Care di Magelang, Jawa Tengah, Editor Endah Sulwesi dan sejumlah pegiat literasi seperti Rumah Aksara Khatulistiwa Citayam.   

Jumat itu adalah hari kedua dari tiga hari rangkaian peringatan ulang tahun Baca Di Tebet (BDT) ke-3.

Seperti dugaan Wien, Rieke tiba dan langsung  bergabung di lantai 2. Di awal diskusi, politisi dari Fraksi Partai PDI-Perjuangan ini mengajak publik membahas lebih jauh tentang stockholm syndrome dan bagaimana fenomena itu memiliki benang merah dan seakan serupa dengan bangsa ini.

Rieke mengajak audiens untuk bergabung dalam yel-yel viral for justice. Menurut Rieke, di negeri ini banyak ketidakadilan yang belum mampu diselesaikan oleh negara. Banyak faktor menjadi penyebabnya, termasuk kebijakan politik.

Lebih jauh, Rieke mengajak masyarakat tidak apatis pada politik yang ada di negara ini.

“Sebab, kebijakan politik  itu ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, anak yang masih dalam kandungan ibunya saja sudah terlibat dalam politik, sudah harus membayar iuran BPJS. Kita tahu kebijakan BPJS itu adalah hasil politik pemerintah dan DPR,” bebernya.

Ruang diskusi ini kemudian diisi juga dengan pembacaan puisi yang diambil dari buku kolaborasi Riek Diah Pitaloka dan Agus Noor ‘Cara Menikmati Kenangan dengan Baik’ . Penyair Sihar Ramses Simatupang membaca karya Agus Noor berjudul ‘Suara Itu Percakapan Itu’. Rieke kemudian membaca karyanya dari buku yang sama ‘Uang Kepeng’. Kenangan Rieke tentang Sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer, dituangnya dalam ‘Kopi Rumah Kaca’.

“Tak ada perpisahan dalam secangkir kopi, sebatang kretek, teruslah melawan dalam hidup yang pendek,” ucap Rieke dalam sebaris puisinya.  

Related posts

Leave a Reply