Negeri Yang Basah
ada negeri selalu basah
sebab hujan dan air mata
tak ada titik, tak ada koma
negeri ini basah dalam pongah dusta
dongeng yang menjadi karib masa kecilmu
tak ampuh lagi sebagai mantra pengampu
anak-anak tumbuh berkeliaran tanpa ibu
lesap dalam kesepian membatu
Cibinong, Bogor
Yang Emas Adalah Padi
yang emas adalah padi
pertama dan terakhir
di tanah pertapa sepi kita bual imitasi
sambil membingkai waktu, sunyi
yang emas adalah padi
kita menapaki jalan ke asal mula mimpi
dimana usia merangkaki jaman. tak bertanda
dan tanggal. satu, satu
yang emas adalah padi
dalam jejak waktu yang retak
para pertapa terus mengaji
mendamba sejarah di tahta bulan. sia-sia
yang emas adalah padi
pertapa merangkai puisi
dalam kamar membangun pelabuhan sendiri
kemudian menua. mati
Bogor, 2023
Hujan Terakhir
- pada makam bapak
suara hujan bagai rapalan mantra.
gemuruh di atas makammu
sendiri. aku bertanya
apakah ada hujan sesudah mati.
ataukah air mata
hujan terakhir bagi kematian.
maka, pada tetes air pertama di atas makammu.
rindu menelikungku dengan bengis.
di bilik senja meredup,
di ruang hati meluka.
doa-doa menunggu hampa.
Depok, 2023
Bicara Pada Angin
jika kau mendengarku
bicara pada angin
harusnya kau mengerti
di sini tak satupun makhluk memiliki telinga
semua membatu dalam deru waktu
mengelam dalam amarah kata
sejarah kita adalah air mata
menggenang memupuk masa depan
membuat anak-anak tak punya pegangan
anak-anak yang kelak meledakkan meriam perang
hilang dalam kebisingan yang kosong
dalam gigil pagi
pohon-pohon seperti stupa diam membeku
jalan panjang tanpa singgahan, tanpa tujuan
langit redup penuh gambar luka kita
burung-burung sia-sia menebarkan cinta
kita tumbuh di negeri tak bertelinga
negeri tanpa jeda kebisingan
orang-orang sibuk membeli tangga ke surga
sambil memakan bangkai saudaranya
Cibinong, Bogor, 2022
Rumah Tak Bertuan
kota ini terbakar dalam kesumat
pendosa meracuni langit dengan air mata
kini tak ada lagi kasih sayang terpelihara
selain maut merongrong di setiap tempat
rumah-rumah di sini telah lama tak bertuan
di setiap jendelanya keterasingan jam-jam hampa kasar memukul-mukul udara
ah, inilah jaman anak-anak kita
tak ada harapan selain gumpal kepasrahan dalam cekung matanya
Bogor, 2022
BIODATA:
Bagus Pramudya, lahir di Jakarta. Menyelesaikan studi di FSRD, Fakultas Sastra UNS Solo. Aktif berteater dan menulis; puisi, cerpen, artikel. Menjadi scriptwriter untuk program-program TV nasional, dan penulis skenario film. Saat ini tinggal di Cibinong, Kabupaten Bogor
(Lukisan: Caroline S)




