Memihak Rakyat ala Kartunis Pramono

Foto; Anjangsana.id/srs -- KARTUN PRAMONO - Karya kartun Pramono digelar di Balai Budaya sejak 7 hingga 17 Januari 2021.
Cloud Hosting Indonesia

Karya besar Pramono R. Pramoedjo digelar di Balai Budaya Jl Gereja Theresia 47 Jakarta hingga Sabtu besok (17/1). Hadir dengan gaya khas seorang kartunis.

Dari videonya yang ditayangkan di tengah pameran itu, orang dapat menyaksikan seorang Pramono di masa sekarang. Usianya yang ke 78 tahun, meski tak datang di pembukaan pamerannya, namun lelaki ini terlihat di layar, tetap bersemangat menjelaskan tentang karyanya. Sosoknya tetap bersahaja, lengkap dengan tawa yang akrab adalah kenangan tentang dirinya saat masih aktif sebagai kartunis di Jakarta.

Bacaan Lainnya

Lelaki kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 5 Desember 1942 itu hingga kini tetap aktif berkarya di kediamannya di Salatiga. Tetap kreatif. Masih terlihat beberapa kartun yang di bawah karyanya itu tertera tahun 2020. Karyanya yang terbaru.

Pameran karya di galeri kota Jakarta di tengah pandemi itu, seakan kembali menggelar seluruh sepak-terjang Pramono lengkap dengan bahasanya yang khas. Terkadang, di ilustrasi itu, dia menghadirkan ironi, eufemisme, atau satir. Pram, dapat mengatur gaya kritiknya, baik lewat metafora kata atau pun simbolik gambar.

Tak ada yang menyangka, salah satu tokoh kartunis yang menempel namanya dengan koran terbitan tahun 1966 dan dibredel tahun 1986 – kemudian terbit lagi pada tahun 2001 dan kembali hilang ditelan senjakala media cetak pada tahun 2015 silam – adalah sosok yang tenang. Rekan kartunis lainnya adalah G.M Sudarta, yang namanya juga dikenal rutin dimuat di media cetak nasional Harian Umum Kompas. Mereka berdua adalah rekan sejawat, sosok kartunis yang menjadi suri tauladan buat generasi kartunis yang lebih muda.

Dalam sosok kesehariannya di koran ini, Pram tahu kapan harus senyap, tekun dan kapan harus berbincang bahkan terbahak. Lelaki berkacamata tebal ini juga adalah sosok pemimpin di media itu yang suka mendengarkan rekan segenerasinya mau pun generasi yang lebih muda usia.

Pram, bahkan pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Sinar Harapan di masa kembalinya koran ini di masyarakat pada awal generasi milenial. Hanya beberapa tahun awal. Karena setelah itu, meski tetap mengirimkan karya, dia memilih kembali ke rumah di Salatiga. Namun, karyanya tetap hadir di setiap pekan,menoreh atau mencuil fenomena sosial-politik bersamaan dengan hadir-kembalinya media itu. Pilihan karyanya itu kemudian hadir dalam rangkaian kalender di koran ini pada setiap tahunnya.

Untuk soal penulisan ini, Pram jeli sekali melihat isu aktual yang ada di masyarakat. Tak ada kata ‘ide sedang kosong’, di setiap pekan atau setiap peristiwa besar, ada saja karyanya mengisi suasana gempita masyarakat dan bangsa ini. Kehadiran teks dan visualisasinya terasa berimbang. Dalam gambar, dia seakan menghadirkan suara kaum kecil juga menyentil ulah berbagai pihak elit, baik penguasa mau pun pengusaha.

Kedalaman Makna

Pamerannya yang bertajuk Guyon Maton Pramono digelar sejak 7 hingga 17 Januari 2021. Guyon maton, istilah yang terpampang di baliho tampaknya tepat untuk mewakilkan jalan canda yang dia pilih. Maknanya mendalam namun serius; gaya khas seorang Pramono. Bercanda, terkesan jenaka namun tetap sesuai batas. Ada batas dan patokannya. Canda yang tetap bertanggungjawab. Kenyataannya, Sinar Harapan sejak 2001 hingga 2015 tetap bertahan dengan sentilannya yang rutin dan khas di lembaran kertas media ini.

(Baca juga: Ragam Variasi Menu ‘Santap Sedap’ Citayam)

Di tengah pandemi, seluruh karya dari tiap lompatan tahun itu, seketika dihadirkan di Balai Budaya Jakarta, Jalan Gereja Theresia 47 Menteng, Jakarta Pusat. Berkelilinglah, maka akan terlihat berbagai isu yang dia jalani secara setia dan rutin.  Tema yang dia angkat bahkan di waktu yang berdekatan tetap variatif, berbagai perspektif sehingga tetap mengasyikkan untuk diamati. “Karyanya menyentil masalah yang ada di masyarakat, ” ujar perupa Agus Firmansyah yang hadir di pameran itu, Selasa (12/1).

Pramono dapat membaca setiap peristiwa tak hanya dari yang tersurat namun yang tersirat – terkadang yang tersirat itu dia tinggalkan jejak dalam kata mau pun gambar bahkan terkadang obyek dan guratan kecil sehingga seolah bumbu peristiwa padahal bagian penting dari suara masyarakat kebanyakan.

Bahkan, seorang Chrysnanda Dwi Laksana, anggota Kepolisian Republik Indonesia yang juga aktif di dunia seni lukis, memaparkan  bahwa mengamati karya seorang Pramono sebaiknya bukan hanya soal teknis berkarya saja namun juga menelusuri kedalaman karyanya. Pramono seorang yang cerdas dan peka terhadap situasi masyarakat.

Chrysnanda, kepada media, kemudian menjlentrehkan beberapa kata kunci untuk karya seorang Pramono, termasuk peka terhadap ketimpangan sosial, terhadap rakyat yang terkorbankan, menyentil budaya korupsi. Pram, menanggpi dengan khas humor dan plesetannya. Namun yang pasti, dia memihak pada kemanusiaan juga kebenaran dan keadilan.@

Pos terkait

Tinggalkan Balasan