“Tahu Siksa” Jajanan Langka Khas Tanah Betawi

Selain kerak telor dan gado-gado, “tahu siksa” ini pun perlu dimasyarakatkan sebagai khasanah kuliner khas Betawi.

Berbicara kuliner khas Betawi (Jakarta) memang tak akan ada habisnya, sama seperti kerak telor dan gado-gado. Kuliner satu ini pun begitu digemari.

Bacaan Lainnya

Ya, sebutan “tahu siksa” terdengar unik. Memang tak banyak yang tahu juga kalau “tahu siksa”juga terbuat dari tahu goreng. Tapi khas. Teksturnya yang renyah di luar tapi lembut di dalam, membuat jajanan ini banyak digemari masyarakat berbagai lapisan.

Sekilas penampilan tahu berwarna kuning ini tidak ada yang berbeda dari tahu-tahu pada umumnya. Namun, begitu melihat cara menggorengnya, barulah terlihat perbedaannya.

Istilah “tahu siksa” bermula karena mengacu pada proses penggorengan tahu ini. Diketahui bahwa proses penggorengan tahu ini cukup khas.

Jika banyak tahu digoreng dalam minyak panas yang banyak maka berbeda dengan tahu siksa.
Proses penggorengan tahu siksa hanya menggunakan sedikit minyak saja.

Itulah kenapa tahu yang digoreng ini seolah-olah “disiksa” dalam wajan panas dan sedikit sekali minyak.

Tahu ini juga “dipaksa” untuk matang lebih cepat di atas minyak panas. Tapi sayangnya, tahu ini hanya dimasak di api kecil. Tak ayal, cara memasak yang digoreng-rebus di waktu bersamaan dalam wajan plus api kecil ini, membuat tahu seolah-olah sedang mengalami penyiksaan yang tiada tara.

Apalagi, apinya dibuat kecil, yang biasa disebut dengan cara memasak lamban (slow cooking). Teknik ini biasanya dilakukan pada bahan makanan yang bertekstur keras seperti daging.

Menurut Gordon Ramsay, chef Inggris yang mendunia, teknik memasak lamban ini menjadikan makanan mengeluarkan seluruh rasa di dalamnya sekaligus membuatnya menjadi empuk.

Nah, bisa dibayangkan, tahu yang memiliki tekstur lembut dari sononya harus mengalami cara memasak seperti ini. Seperti penyiksaan tiada henti hingga kulit luarnya mengeras, namun di dalamnya tetap menyajikan tekstur yang lembut. ragam tekstur inilah yang membuat tahu siksa memiliki kekhasan tersendiri.

Menurut cerita masyarakat Betawi, nama “Tahu Siksa” memiliki beberapa versi asal usul.

Versi pertama, karena bentuknya yang kecil dan dianggap mirip dengan potongan daging yang disiksa.

Versi kedua, karena biasanya disajikan dengan bumbu kacang pedas atau dengan cabe rawit pedas saja, yang dianggap siksaan bagi penikmat tahu yang tak tahan pedas.

Saat proses pemasakan, tahu ini diberi bumbu yang cukup sederhana, yakni ditaburi garam secukupnya sehingga memiliki cita rasa asli. cara penyajiannya pun dibungkus daun pisang dengan dilengkapi cabe rawit. Biasanya orang Betawi menikmati tahu siksa disandingkan dengan minuman bir pletok atau teh manis.

Jajanan tahu siksa belakangan kembali populer setelah sekian lama tak terdengar.
tahu ini masih digemari banyak orang karena namanya yang unik, teksturnya yang lembut, serta harganya yang masih terjangkau.

Tempo dulu, tahu siksa banyak ditemukan di berbagai acara, seperti acara hajatan pernikahan Betawi, khitanan hingga acara-acara budaya yang lain. Selain Itu, tahu siksa sering di jajakan di acara tontonan layar tancep masa itu.

Nah untuk yang kangen dan ingin menikmati tahu siksa atau kalau dengan logat Betawi pinggiran tahu seksa  masih bisa ditemui di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.

Ngeriung bersama teman-teman sambil ngobrol mungkin tidak berasa bisa-bisa tuh tahu habis deh satu pikulan.

Jadi, tunggu apa lagi, selamat berburu tahu siksa!!@

Pos terkait

Tinggalkan Balasan