Oleh: Agus Firmansyah *)
Rayahbi awalnya menyukai musik. Dia juga menulis puisi. Waktu mengantarkannya sebagai orang yang kerap mengaransemen karya banyak penyair dalam lantun musikalisasi puisi.
Pilihan perempuan berkerudung yang lebih dikenal dengan panggilan Rayahbi pada dunia sastra dan musik, menjadikan dirinya berkolaborasi dengan banyak kelompok seniman.
Sebut saja seniman Planet Senen, Sanggar Matahari bahkan dengan kelompok seniman di Bulungan yang dulu diasuh seniman dan teaterawan mendiang Ags Dwipayana.
Rayahbi ini kelahiran Jakarta, ayah berdarah Aceh dan ibu berdarah Maluku. Sejak usia dini hingga sekolah dasar, dia sudah terlihat bakatnya menyanyi.
Dia menyukai musik sejak usia 13 tahun lalu berlanjut mendalami permainan gitar klasik saat SMA lewat Sekolah Musik Yamaha.
Rayahbi kemudian terkenang rutinitas dia mengunjungi Taman Ismail Marzuki (TIM) Jl.Cikini Raya No.43, Jakarta setiap pulang kuliah. Di sana, dia suka membaca buku sastra di Toko Buku Bengkel Deklamasi milik Jose Rizal Manua. Dia kerap berdiskusi dengan para seniman di TIM itu.
Semua rentetan perjalanan hidup ini mengantarkan Rayahbi pada musik dan sastra hingga dia berkolaborasi dengan kelompok seniman termasuk berproses dalam pencarian bunyi dan nada di genre musikalisasi puisi.
Ya, proses kesenian Rayahbi sejak tahun 1996 adalah waktu panjang. Rayahbi juga menjalani dunia panggung bahkan sebagai dewan juri di berbagai lembaga. Lomba-lomba yang berkaitan dengan musikalisasi puisi.
Beberapa karya penyair yang sudah “dibalutnya” dengan musik mencapai 50 aransemen lagu.
Suatu proses yang tidak sedikit dalam menerjemahkan puisi dalam bentuk bunyi dan nada. Penonton yang akrab dengan dunia musikalisasi puisi, khususnya di seantero Jabotabek tak akan asing dengan petikan gitar dan suaranya yang khas.
Menurut Rayahbi, proses yang tersulit dalam penciptaan musikalisasi puisi adalah ketika dia membuat musikalisasi puisi berjudul Batu karya Sutardji Calzoum Bachri. Bagaimana teks puisi yang sudah tercipta terlebih dulu dan terpatri di kepala pembaca dan pendengar Presiden Penyair sebagai puisi mantera ini, kemudian dikemas sebagai nada.
Proses kreatif Rayahbi menerjemahkan puisi menjadi musikalisasi puisi memang beragam. Ada yang cepat yaitu satu minggu dan ada juga yang sampai satu tahun.
“Tapi aku merasa senang dapat menggubah puisi mantra khas Sutardji menjadi musikalisasi puisi dengan suara dan petikan gitarku,” katanya kepada Anjangsana.
Aransemen Satu Tahun
Selain karya Sutardji, ada karya puisi yang juga punya proses panjang hingga hampir satu tahun untuk menemukan bunyi dan nada yaitu puisi Rayahbi sendiri yang berjudul “Merpati dan Tanah Terbelah “. Puisi itu ide awalnya tentang peristiwa Tsunami.
“Aku melihat banyak peristiwa bencana di negeri ini. Maka aku kemudian melihat (negeri ini) sebagai seorang ibu yang bersama anaknya dalam keadaan bencana. Itulah kisah puisi yang kubuat sendiri, namun entah mengapa aku kurang percaya diri membawakan musikalisasi puisi karya sendiri. Padahal ketika itu aku sudah menyelesaikan 50 puisi yang kuaransemen dari beberapa penyair Indonesia,” paparnya.
Sejak itulah, dia menyadari bahwa ada fase dimana kita akan mengalami peristiwa semacam itu. Ternyata, lagi – lagi perempuan berkerudung itu menyelipkan tawa kecil, “bahwa aku belum apa apa…”
D usia yang sudah tidak muda lagi ini pun, dia menyadari bahwa fase pengkaryaannya sedang memasuki proses kematangan.
“Aku ingin menghadirkan karya musikalisasi puisi dengan bentuk lebih kontemplatif – perenungan dalam menghadirkan bunyi dan nada pada musikalisasi puisi,” ujarnya.
Puisi dan Musik Rock
Rayahbi juga pernah menulis beberapa puisi yang diterbitkan di media cetak pada tahun 2000-an.
Rayahbi yang menjadi anggota Komunitas Perempuan Puisi Bogor ini pun pernah mengeluarkan kumpulan puisi pertama yang berjudul “Instrumentalia“. Sekarang, dia bahkan bersiap melahirkan buku kumpulan puisi yang kedua meski dia belum mendapatkan judul yang tepat.
Perempuan yang pernah
mengajar kelas privat gitar sekaligus menjadi guru taman kanak ini bahkan berkeinginan menjadikan warna musikalisasi puisinya di wilayah genre rock.
“Aku mungkin akan keluar dari warna melankolisku. Meski selama ini solois, kalau aku menemukan group band yang se-jiwa dan senafas denganku, lalu mendapatkan soul-nya, aku mau saja memainkan warna (di genre) rock nantinya,” tambahnya.
Ya, Rayahbi memang suka mendengarkan musik seperti Skidrow, Guns n Rosses, Led Zeplin dan lainnya. Dia menjadikannya sebagai refetensi dan pada waktunya nanti akan membawakan musikalisasi puisi berwarna rock
Perempuan yang kerap “show” secara solo di rumah yang telah disulapnya sebagai studio lalu dikirim ke media sosial itu kemudian menawarkan karya para penyair lain untuk bersedia diaransemen.
“Jika ada yang berminat, puisinya ingin diaransemen menjadi musikalisasi puisi, silakan hubungi saya. Saya akan menggubah puisinya sebagai lantunan nada yang enak didengar,” ujarnya sambil tersenyum.
Percakapan terpaksa harus dihentikan karena kemudian perempuan ini berpamitan. Dia hendak melanjutkan perjalanan pulang dari Stasiun Bogor menuju ke Jakarta, setelah seharian dia beraktivitas kesenian di Kota Hujan. Sukses terus ya, Rayahbi. (sihar ramses simatupang)
*) Pencinta dan pelaku seni




