Saraswati, Sastra dan Perjuangan Kaum Perempuan

Foto: Ritmanto Saleh -- RAHAYU SARASWATI

Tak banyak yang menyorot kalau sosok aktivis perempuan dan politikus ini menyukai dan terlibat di panggung seni peran, melukis dan penyuka sastra. Di kerumunan publik Jakarta yang berwisata taman kota, Rahayu Saraswati muncul dan membacakan karya penyair Chairil Anwar dengan lantang.

Di tengah kerumunan ratusan orang yang mengisi waktu akhir pekan Tebet Eco Park, Jakarta, akhir Mei silam itu, suaranya keras membacakan puisi Chairil Anwar. Rahayu Saraswati muncul di tengah kerumunan, setengah jam sebelum acara.

Bacaan Lainnya

Parkir mobil sulit, berjalan agak jauh. Sebelum akhirnya dia melangkah ke sekretariat panitia acara Road Show to Seabad Chairil Anwar yang dilaksanakan hampir tiap bulan setelah membukanya sejak bulan April.

“Siapa pun akan bergetar saat membacakan puisi Chairil,” kata cucu dari Sumitro Djojohadikusumo dan anak dari Hashim Djojohadikusumo ini. Baginya, membaca kembali karya sastra tetap penting di sepanjang zaman.

Mbak Saras, demikian sapaan akrabnya, justru mengenal karya sastra sejak dia berkuliah di Universitas Virginia dulu. Karya Hiawata dibacanya untuk kebutuhan seni panggung ketika itu.

“Pertama kali dapat seni peran itu berupa karya puisi juga belajar naskah karya William Shakespeare saat saya berkuliah, salah satu subyeknya kan Bahasa Inggris, selain subyek lain seperti matematika, itu syaratnya,” papar perempuan kelahiran 27 Februari 1986 yang pernah menjadi anggota legislatif periode 2014-2019 itu.

Untuk menulis, dia mengaku tak punya kesempatan. Baginya, ini bukan soal kemampuan karena dia yakin masih sanggup.

Namun, pasca kelahiran anak ketiga, dia kerap mesti pulang untuk menyusui bayinya di sela kegiatan-kegiatan yang sudah cukup menyibukkan dirinya.

Bagi Saraswati, pengorbanan menjadi penulis adalah menyediakan waktu untuk sesuatu yang akan didapatkan hasilnya di masa mendatang.

Jadi, seorang penulis mesti menyendiri juga mengorbankan waktu kekinian.

Dia teringat pendapat seseorang dalam sebuah webinar, bahwa musuh utama penulis adalah waktu. Karena kalau sudah tenggelam dalam karya, untuk makan saja bisa lupa.

Perempuan yang juga suka melukis ini mengatakan dia belum mendapatkan kesempatan untuk segala aktivitas menyendiri dan membagi waktu seperti itu.

Padahal, di sisi lain, proses menulis sekarang ini tak lagi menggunakan pensil dan kertas. Tetapi dapat juga dengan mengetik tuts di telepon genggam dan kesemua itu dapat dilakukan di jalanan sambil beraktivitas yang lainnya.

Menurut Saras, di usia muda, banyak perempuan menulis penulisan kreatif namun semakin berkurang dalam perjalanan usia.

Kesibukan sebagai perempuan bisa jadi salah satu alasan fase penulis kemudian didominasi kaum lelaki.

Karena itu, selain fasilitas digital, dunia perbukuan di Indonesia termasuk pajak dari pemerintah pun harusnya tidak memberatkan kerja penerbit. Sehingga pembaca dan penulis tetap dapat bertumbuhan di masa kini.

Meski begitu, dia mengaku tetap memantau dinamika penulis termasuk kaum generasi muda.

Untuk penulis perempuan saat ini, dia menyebut penulis yang sangat produktif dan berkualitas seperti novelis Dewi Lestari.

Dia juga memantau perkembangan penulis perempuan lainnya di era digital. Termasuk penulis perempuan yang tengah berproses di aplikasi bagi penulis dan pembaca, Wattpad.

Banyak kerja alih wahana yang mereka kerjakan, seperti memindahkan teks karya sastra itu ke medium lainnya termasuk ke karya film.

“Saya juga kebetulan lagi mengembangkan beberapa hal termasuk dengan Happy Salma lewat Titimangsa Foundation-nya. Kami saling mendukung, jadi tak hanya menulis kita bisa jadi co-writernya. Sekarang ini kan zamannya kolaborasi,” papar Saraswati.

Berjuang Lewat Karya

Di lingkungan politik, Saraswati dikenal sebagai aktivis perempuan dan anak, juga kesetaraan gender.

Karena itu, terkait dengan pertanyaan pada dirinya di seputar karya yang tokoh utamanya kerap menjadi korban.

Dia kemudian mengatakan bahwa yang terpenting karya itu dapat memancing tiap korban yang kemudian menjadi tokoh untuk bersuara.

Bila para tokoh itu bersuara dan viral, maka di masa kini, orang dapat berbondong untuk ikut menyatakan sikap dan mendukung perjuangannya.

“Perjuangan para sosok itu mesti kita apresiasi. Mereka mampu mengubah tragedi menjadi energi agar kita bersemangat menyuarakan perjuangan kita,” ujarnya.

Namun, dia tak sepenuhnya menyetujui pandangan itu karena banyak juga karya sastra yang tokoh utamanya adalah female protagonis yang kuat dan berjuang di dalam kisahnya.

“Saya juga lihat sekarang, ada tren sebagaimana yang saya perjuangkan dengan Happy Salma dan kawan yang lainnya, seorang sutradara lelaki. Proyek kita fokus pada tokoh perempuan yang strong female protagonis agar di literasi protagonis tak disalahartikan sebagai sikap yang kalah. Apa pun yang dia hadapi, dia tetap kuat,” tambah keponakan Prabowo Subianto ini.

“Sebagaimana hidup, kisah di dalam karya pun pasti ada problem dan masalah yang dihadapi. Hanya, kisahnya tak selalu sebagaimana sinetron yang menyajikan sinetron yang tokoh perempuan yang sedikit-sedikit menangis, histeris dan super sensitive. Terlepas dari apa pun masalah, misalnya pada film Layangan Putus, tu kan strong female character, tokohnya tetap memiliki prinsip dan tak dapat goyah pendiriannya. Gak gampang nangis,” ucapnya.@

Pos terkait

Tinggalkan Balasan